Boy Overboard (Bocah Lintas Batas)

Posted on June 6, 2009

8


Penerjemah : Dharmawati
Cetakan : Agustus, 2003
Tebal : 214 halaman
Beli di : Gramedia Book Fair 2009 (Gramedia Expo)
Harga : Rp 7.500,00

Sebenarnya Australia itu di mana sih?

Jamal ingin jadi pemain sepak bola terkenal. Impiannya adalah bisa bergabung dengan tim junior Manchester United. Namun, kemampuannya ternyata bisa tersaingi oleh Bibi, adik perempuannya. Bukan iri yang ada di hatinya, justru ia bangga dan kagum dengan skill adiknya tersebut. Namun, Jamal khawatir ibunya mengetahui hal ini. Bisa-bisa Bibi dihukum. Apalagi pemerintah memang melarang keras perempuan bermain sepak bola. Bagi Jamal dan Bibi, ini tentu saja tidak adil.

Sore itu, mereka sekeluarga terpaksa meninggalkan rumah. Sebab, orang tua Jamal mendapat kabar bahwa rumah yang menjadi sekolah ilegal mereka telah diketahui pemerintah. Terbukti, pada malam harinya rumah mereka telah menjadi puing. Dibom.

Ayah, Jamal, dan Bibi pun ke kota dengan taksi milik ayah. Sementara ibu menyusul belakangan. Ia perlu memberitahukan para orang tua murid agar tidak datang besok-besoknya. Insiden terjadi. Ternyata, ibunya Jamal tertangkap pemerintah. Bersama puluhan wanita lainnya, mereka digiring ke sebuah stadion di pusat kota. Siap menerima hukuman dari pemerintah.

Bak pahlawan, dengan taksi bututnya, ayah pun berhasil menyelamatkan ibu. Kini, mereka lengkap berempat. Karena perjalanan tidak aman jika masih memakai taksi, ayah pun menjualnya. Mereka ber-hitch hike, membayar sejumlah uang, agar bisa keluar perbatasan dengan truk pengangkut kambing. Tujuannya adalah bandara. Hendak ke mana mereka? Australia! Bahkan Jamal sendiri belum pernah mendengar kata ’Australia’ sebelumnya. Di mana itu?

Berlatar belakang konflik di Afganishtan, novel anak ini berhasil menyuguhkan suasana konflik perang dengan baik. Bagaimana tidak amannya warga melakukan kegiatan di luar rumah, seperti rentannya anak-anak menginjak ranjau darat ketika bermain bola. Lalu, larangan keras bagi anak perempuan untuk bermain bola. Menyelenggarakan sekolah, meskipun itu di rumah, adalah sebuah pelanggaran. Suasana di kamp pengungsian yang memilukan. Serta hiruk-pikuk rakyat Afganishtan yang tidak tahan dengan sikap represif pemerintah dan hendak untuk melarikan diri. Keluar dari negara yang dipimpin oleh rezim Taliban.

Tokoh utama dalam novel ini, yakni Jamal si jenius, mengalami beragam kejadian yang kocak, mengharukan, menyedihkan, juga membuat terbahak-bahak, selama perjalanan mereka menuju tanah impian, Australia. Penulis pun piawai menyeret pembaca dalam pergantian suasana yang cepat berubah.

Sampaikah Jamal dan Bibi di Australia? Apakah orangtua mereka yang terpisah kapal dengannya, bisa selamat? Tercapaikah cita-cita mereka jadi pemain sepak bola handal, masuk klub favorit di Australia?

Tidak rugi rasanya membeli novel ini. Padahal ini karya Gleitzman yang pertama kali saya baca. Ya, hanya karena embel-embel sub-judulnya-lah yang membuat saya jatuh cinta pada pandangan pertama: Bocah Lintas Batas.

Advertisements
Posted in: Uncategorized