Lelaki yang Menangis

Posted on June 6, 2009

26


Penerbit : Akar Media Publishing
Cetakan : Januari, 2007
Tebal : xii + 104 halaman
Beli di : Gramedia Book Fair 2009 (Gramedia Expo)
Harga : Rp 10.000,00

Selama ini media massa kita lebih banyak menyorot KDRT yang dilakukan oleh kaum laki-laki terhadap perempuan. Sehingga pikiran masyarakat seperti terparadigma bahwa laki-laki adalah kaum yang bejat, tidak berperasaan, egois, dan cap-cap negatif lainnya. Harus diakui memang, laki-laki secara fisik lebih kuat. Egonya juga cenderung tinggi dibandingkan perempuan. Namun, anggapan itu tidak sepenuhnya benar. Sebab, buku ini menunjukkan hal yang sebaliknya.

Perempuan juga ternyata bisa juga melakukan KDRT. Di dalam buku ini termuat 10 kisah nyata para lelaki yang menjadi korban kekerasan rumah tangga yang dilakukan oleh kaum wanita. Kekerasan tidak hanya bersifat fisik, namun juga mental. Salah satunya adalah melalui teror kata-kata seperti yang terdapat pada kisah ”Mengapa Kau Sakiti Kami?”

Anggapan si perempuan bahwa fisiknya bisa sekuat laki-laki, masa kecil si laki-laki yang penuh kekerasan, perbedaan tingkat finansial, perceraian, dan banyak hal lainnya adalah beragam faktor yang melandasi masing-masing cerita di dalam buku ini.

Kisah ”Wanita itu Adalah Istri Ayahku” mengingatkan saya pada sinetron yang tokoh wanitanya berasal dari kalangan priyayi, bertampang judes, dan menganggap orang lain butuh dia. ”Benarkah Ia Ibuku?” menjentik ingatan saya pada cerita seorang kenalan yang sejak mahasiswa hingga lulus sekarang, menjadi guru privat. Suatu kali ibu sang anak pernah mengomelinya gara-gara salah satu nilai sang anak jeblok. Sang anak sendiri tertekan karena standar prestasi yang terlalu tinggi yang dituntut oleh sang ibu.

Kesepuluh cerita yang terkompilasi dalam buku ini, rata-rata saya suka dan bisa ’menerima’ logika kisahnya. Bahkan, kerapkali rasa haru menyergap saya begitu membaca sebuah kisah. Meskipun, saran saya, tidak enak kalo melahap buku ini dalam sekali baca. Kenapa? Sebab, nuansa kekerasan yang bertubi-tubi ada dalam setiap cerita, bisa menanamkan ’doktrin’ di kepala kita: jadi perempuan kok jahat banget ya?

Saya sendiri, tiap satu kisah mesti saya coba merefleksikannya dengan apa yang pernah saya lihat, saya dengar, dan yang pernah saya alami. Oh kisah ini kok mirip dengan yang dialami temanku ya? Oh, kisah yang pernah juga kok aku alami.

Meskipun saya terkadang mengernyitkan dahi dan menganggap sebuah kisah agak didramatisasi. Tapi, sub-judul, pengantar, sekaligus penutup dari penulis bisa meyakinkan saya bahwa kesepuluh kisah dalam buku ini memang benar-benar kisah nyata. Bukankah, terkadang kehidupan nyata terkadang lebih bombastis ketimbang cerita fiksi?

Kutipan-kutipan dari internet yang mengawali setiap kisah, bagi saya, tidak begitu menganggu. Sebab, buku non-fiksi seperti ini harus pula mengikuti kaidah penulisan yang ilmiah, sebagaimana yang selalu ditekankan oleh asisten dosen saya tiap kali kami, mahasiswa, membuat jurnal atau artikel.

Oya, penilaian untuk sampul depan sendiri, saya acungi dua jempol. Mewakili banget!

Advertisements
Posted in: Uncategorized