Emil dari Lonneberga

Posted on June 15, 2009

20


Penerjemah : Purnawati Olssen
Ilustrator : Bjorn Berg
Sampul Depan : Eduard Iwan Mangopang
Cetakan : Ke-1, Juni 2003
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 112 halaman
Harga : Rp 10.000,00

Ini buku kedua Astrid Lindgren yang saya beli. Sebelumnya, Semua Beres Kalau Ada Emil juga sempat saya sabet dan berhasil pinang ke kosan. Eh, tau-taunya Mas Ega, teman kosan saya, tertarik untuk membelinya. Saya pun merelakan dengan kesepakatan bahwa saya boleh meminjamnya suatu waktu nanti. Hehehe…

Saya tertarik dengan buku anak-anak semacam ini gara-gara ‘hasutan’ tak langsung dari beberapa MPers yang pernah meresensi buku-bukunya Astrid Lindgren. Apalagi salah satu blogger yang saya kagumi, pernah mengungkapkan kesannya yang mendalam terhadap Pippi si Kaus Panjang. Rasa penasaran saya terbayar juga akhirnya setelah buku-buku Astrid Lindgren dibanting harganya oleh Gramedia Expo. Mumpung budget juga ada. Ah, sabet saja sekalian. Toh, ini bisa menjadi investasi yang amat berharga. Bisa saya wariskan pada adik-adik saya.

Saya tertarik dengan Emil dari Lonneberga ini karena jatuh cinta pada sampulnya yang hijau menyegarkan. Seorang bocah lucu menggemaskan bermata bulat biru dengan pipi kemerah-merahan dan rambut yang pirang dan agak keriting. Sinopsis di sampul belakang semakin membuat buku ini menguatkan daya magnetnya.

Emil adalah bocah yang keras kepala. Dia sebenarnya berbakat jadi malaikat mungil seperti cupid. Namun, bakatnya menjadi setan kecil yang membuat orang sekitar sering mengurut dada, nampak lebih dominan. Inilah yang terpapar dalam tiga cerita yang termuat di buku ini.

Cerita pertama mengenai terperangkapnya kepala Emil di dalam mangkuk sup. Ini gara-gara ia berusaha menjilat sisa-sisa sup yang lezat. Ia terpaksa dibawa oleh orang tuanya ke dokter. Belum sempat pak dokter mengeluarkan ketok magic-nya, eh si Emil duluan mengetok magic mangkuk supnya. Pecahlah itu mangkuk sup.

Keisengan Emil tak berhenti tatkala ia mengerek adiknya, Ida, di tiang bendera pada saat acara makan di rumahnya. Ayahnya marah. Emil pun di’aman’kan sementara di pondok perabot. Dengan kecerdikannya, Emil berhasil keluar dari pondok perabot menuju pondok makanan. Seisi rumah gempar. Emil dinyatakan hilang. Padahal… you know-lah apa yang diperbuat Emil.

Buku ini diakhiri dengan cerita mengenai kenekatan Emil yang menunggang kuda sendirian menuju alun-alun Hultsfred untuk menonton pekan raya. Ia ingin menemui Alfred, pembantu ayahnya, yang kebetulan sedang latihan militer di alun-alun. Ia kangen dengan kebaikan Alfred yang sering membuatkannya mainan, termasuk senapan yang tak lupa ia bawa ke alun-alun. Apa yang terjadi di sana?

Buku ini meyakinkan saya bahwa beda antara kenakalan dan kecerdikan amatlah tipis. Apalagi jika dikaitkan dengan tingkah-polah anak seusia Emil. Akan saya hadiahkan buat keponakan saya. Semoga ibu atau bapaknya meluangkan waktu untuk membacakan cerita-cerita dalam buku ini buat Ridho, yang hari Minggu nanti sekeluarga akan main-main ke Surabaya, mengunjungi saya juga.

*foto diambil dari http://www.nordicposters.com. Ini adalah poster film-nya. Cover aslinya belum saya temukan di Mbah Google.

Advertisements
Posted in: Uncategorized