Laskar Pelangi

Posted on June 17, 2009

21


Telah lama aku merindukan film ini untuk kutonton. Sejak liburan lebaran tahun lalu, tapi baru Sabtu (13/06) yang lalu bisa terujud. Tiket yang selalu full-booked meski bolak-balik aku ke Delta Plaza. Itu yang membuat aku mengubur mimpiku sementara untuk menonton film bagus ini. Aku kecewa waktu itu. Hingga Laskar Pelangi ditarik dari bioskop-bioskop, aku belum jua bisa berdamai dengan keadaan. Biar tak usah aku melihat serangkai gambar-gambar indahnya. Biar saja aku cuma mendapatkan cerita-cerita yang ditutur secara lisan oleh kawan juga yang kubaca di koran. Biarlah…

Namun, Tuhan masih berkenan rupanya. Kawanku memiliki soft-copy-nya. Aku langsung kegirangan. Namun, sekali lagi aku mesti bersabar. Sebab, kondisi buku catatan digital-ku (alias notebook) sedang sakit-sakitan. Tersuntiki virus. Berpikirnya lambat. Dan… yang lebih parah adalah suaranya hilang. Perangkat lunak bunyinya kucoba pasang ulang. Nihil! Buku catatan digitalku itu lebih memilih bungkam. Oke. Aku kembali ditahan-tahan. Tersadar aku bahwa ini mesti ada pelajaran di balik semua.

Dan… aku pun tak bisa menahan gelombang haru sejak scene pertama. Mataku mulai bergerimis. Kubayangkan jika SD Muhammadiyah yang ditempati oleh Laskar Pelangi adalah sekolahku juga. Kondisi reot, berpapan bolong-bolong, atap yang membocor, jikalau hujan jadi tempat para kambing meneduhkan diri, dan siap roboh. Sekolah aku masih mending. Sungguh. Tidak separah ini. Lalu… aku tersedu seorang diri. Tak bersuara tentunya. Takut tetangga sebelah menaruh curiga. Ada apa gerangan dengan Fatah?

Lalu, perasaanku makin teraduk lagi dengan menjadi saksi keteguhan hati seorang Ibu Muslimah (diperankan oleh Cut Mini). Seorang guru muda yang masih kuat idealismenya. Dia menolak untuk mengajar di SD PN Timah demi Laskar Pelangi yang telah membuatnya jatuh hati. Anak-anak yang lugu, cerdas, ramai, dan bertekad baja menimba ilmu.Lintang yang paling kentara di sini.

Keceriaan juga menabur di sepanjang film. Mahar yang nyentrik dengan radio transistor yang senantiasa terkalung di lehernya. Penggemar lagu-lagu jazz, berpintar dalam seni. Samson yang memaksa Ikal memasang belahan bola tenis di dadanya hingga Ikal berteriak kesakitan. Harun yang membuat haru sekaligus bangga dan aku terpancing untuk tertawa. Belum lagi Ikal yang membuat penonton berpayang ria sebab kisah ‘cinta lutung’nya pada Aling. Haru sebentar, berikutnya tawa terpapar. Indah. Indah menggetarkan rasa.

Kedahagaan akan ilmu, keceriaan kanak-kanak, perjuangan meraup prestasi, romansa antarguru, keteguhan hati, kejujuran pada diri sendiri berkelindan dari awal hingga akhir film. Sejumlah scene menampilkan keindahan alam Belitong yang menakjubkan. Nuansa perkampungan di Belitong tahun 1970-an hadir di depan mata. Memikat.

Aku tidak bisa menyebutkan adegan mengharukan terfavorit. Aku juga belum bisa menentukan mana adegan menggelikan syaraf tawa paling yahud. Mana peristiwa paling menyentak. Aku hanya bisa tersihir. Membelalak. Mendelikkan haru. Hatiku berpijar-pijar dibuatnya.

Salut sangat buat Riri Riza dan Mira Lesmana. Tersalut lebih buat Andrea Hirata. Seperti apa Belitong itu, ingin kucicipi. Sekadar menginjakkan kaki, menghirup udaranya, dan menyerap semangat Laskar Pelangi.

Satu kalimat tak terlupakan dari Pak Harfan: “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Advertisements
Posted in: Uncategorized