KETIKA CINTA BERTASBIH

Posted on June 18, 2009

29


KETIKA CINTA BERTASBIH

Produksi : SinemArt
Sutradara : Chaerul Umam
Pemain : Muhammad Cholidi Asadil Alam, Alice Norin, Andi Arsyil Rahman Putra, Oki Setiana Dewi, Meyda Sefira.
Website : htttp://www.filmketikacintabertasbih.com

Preambule:
Seusai ngerjakan tugas masing-masing di Perpustkaan Lt.2 Kampus B, Mbak saya nawarin untuk nonton film ini pada hari Senin (15/06). Tentu saja saya senang. Kami sepakat nonton di XXI Galaxy.

Saya pikir, karena yang ngajakin adalah Mbak saya, maka everything is free. Yeah, kentara banget jiwa gratisannya. (Saya selalu memakai tameng “anak kosan” untuk meng-counter semua tanggapan yang berbeda dengan sayaJ). Tapi, yang terjadi tidak seperti itu. Memang, ongkos taksi ke sana dan bayar cemilan adalah Mbak saya. Maka, saya pun dengan kesadaran sendiri – kesadaran yang dipaksa oleh keadaan – membantu meringankan beban Mbak saya. Saya yang bayar tiket nonton. Well… Teringat kata-katanya Pak Harfan di Laskar Pelangi: “Hiduplah untuk memberi sebanyak-banyaknya. Bukan untuk menerima sebanyak-banyaknya.”

Cerita:
Sudah pernah baca novel Kang Abik yang satu ini, kan? Nah, jalan cerita versi film tidak jauh berbeda dengan versi novel. Film ini menceritakan tentang Azzam (diperankan oleh Muhammad Cholidi Asadil Alam), mahasiswa Al-Azhar University, Cairo, yang menyambi sebagai pedagang bakso dan tempe untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya di Kartasura. Azzam sangat rajin bekerja, memasarkan tempe-tempenya ke kalangan ibu-ibu Indonesia yang tinggal di Mesir. Dia juga menerima pesanan bakso untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh KBRI.

Di KBRI inilah dia bisa berkenalan dengan Eliana (diperankan oleh Alice Norin), anak Dubes Indonesia untuk Mesir. Eliana juga seorang bintang sinetron di Tanah Air. Cantik, tentu saja. Tenar tapi tidak sombong. Bagi Azzam, kecantikan Eliana akan lebih sempurna lagi jika ia memakai jilbab. Itu hanya angan Azzam belaka yang langsung terhapus begitu ia ditelepon Eliana yang ingin memberikannya sebuah F***** K***.

Selanjutnya? Ah, nggak asyik tuh saya ceritakan di sini. Nikmatnya langsung nonton sendiri saja ya?

Setting:
100% Asli Mesir. Ini cap yang terstempel di berbagai banner, baliho, serta iklan-iklan KCB lainnya. Berbeda kiranya dengan film Ayat-Ayat Cinta. Dan, memang bukan sekadar janji manis. Sejak awal tayangan, suasana Mesir disorot dari berbagai sudut. Mesjid-mesjidnya yang indah. Hiruk-pikuk kotanya dan kehidupan para pelajar di sana. Piramid tak lupa. Sungai Nil apalagi. Apalagi flat-nya Azzam kebetulan menghadap langsung ke pantai Laut Mediterania. Belum lagi pada malam hari. Lampu-lampu berpijar indah dan senandung ayat suci berkumandang. Memabukkan!

Penokohan:
Tokoh Azzam diperankan dengan lumayan bagus oleh M. Cholidi Asadil Alam. Gesture-nya, caranya bertutur, berjalan, dan ekspresi di depan kamera tidak terlalu amatiran, kok. Bahkan, pria kelahiran 1989 ini mampu membuat Mbak saya terpesona berkali-kali. “Eh, Dek. Jadi cowok harus kayak gitu. Melindungi perempuan. Badannya juga bagus, ya? Hehehe…” Aku langsung mengkerut begitu dibandingkan dengan body-ku yang ‘lumayan’ berkuzi ini. Kurang gizi.

Peran Eliana sudah barang tentu pas banget dengan sosok Alice Norin. Dia seperti tidak menemukan kendala yang berarti dalam bermain di film ini. Apalagi dia memang pemain sinetron. Dialah yang aktingnya paling matang, menurut saya.

Lain lagi halnya dengan Andi Arsyil Rahman Putra yang memerankan Furqon. Pada adegan-adegan awal saya masih melihat kekakuannya. Ekspresi dan nadanya ketika berbicaranya dengan Azzam di pinggir pantai, kurang pas bagi saya. Tapi, hal itu tidak saya temukan lagi ketika film makin ke tengah. Ekspresi marahnya pas. Apalagi karena wajah agak sinisnya memang mendukung. J

Nah, Anna alias Althafunnisa diperankan dengan sangat oke oleh Oki Setiana Dewi. Mbak saya langsung berkomentar, “Kalo mau nyari calon istri, yang seperti ini nih.” Saya cuman bisa meng-amin-kan sambil senyam-senyum. Memang sih, ngeliat wajah Anna sudah menawarkan keteduhan yang mendalam. Jilbabnya rapi, senyumnya manis, cerdas, dan cara bertuturnya fasih sekali. Maklum, aslinya memang mahasiswi Sastra Belanda UI gitu loh! Saya sih paling suka dengan kefasihannya bertutur. Lembut. Halah… jadi lebay gini dah!

Meyda Sefira yang memerankan tokoh Husna juga oke. Childish-nya dapet. Meskipun sempat juga terlintas di kepala saya, “Husna ini nggak jealous ya dengan keempat pemain utama lainnya yang syuting di Mesir, sementara dia hanya kebagian syuting di sebuah rumah di Kartasura, Solo.” Hehehe…

Intermezo:
Saya agak terheran-heran. Pemeran tokoh Nasir dalam film ini membuat saya teringat pada salah satu sosok di kampus saya. Bahkan, semester ini kami mengambil mata kuliah yang sama di kelas Hubungan Internasional Kawasan. Benarkah ini senior saya, anak 2006? Atau mungkin sosok yang mirip dengan dia? Lho, kok ada di film ini? Mana yang kebagian syuting di Mesir lagi? Eh, setelah saya konfirmasi ke salah seorang teman, memang benar. Dia adalah Adrian Perkasa. Kalo di kampus dia biasa dipanggil Adrian. Untuk lebih jelasnya, siapa dan bagaimana rupanya, tanya aja Mbah Google. Wow, artis beneran! Selamat, bro!

Closing Statement:
Sepertinya, itu saja yang bisa saya komentarin dari film Ketika Cinta Bertasbih ini. Untuk lebih detilnya, saya menyarankan Anda untuk nonton sendiri. Mungkin saya banyak melewatkan detil yang lebih berarti, semisal kalimat-kalimat penuh hikmah yang diucapkan oleh tokoh-tokohnya. Apalagi Kang Abik juga turut berperan di sini. Azzam juga lumayan sering menyitir hadist-hadist. Ya, esensi nonton film selaiknya sih seperti itu. Bisa dapetin sesuatu yang berharga dan tertancap di hati kita. Oya, bagi yang suka berpolemik dengan isu poligami, mungkin bisa mendapatkan secercah enlightment di film ini.

Advertisements
Posted in: Uncategorized