Datuk Hitam

Posted on June 26, 2009

0


Cetakan : Kedua, Februari 2009
Penerbit : Media Grafika Utama
Tebal : xxiv + 192 hlm
Ukuran : 120 mm x 200 mm
ISBN : 978-602-8421-16-4
Harga : Pinjam di Readinc!

Buku ini menjadi salah satu nominator Khatulistiwa Literary Award 2007 Kategori Penulis Muda Berbakat. Ini alasan utama saya meminjam buku ini di Readinc. Alasan kedua adalah judulnya. Kata “datuk” akan mengingatkan saya pada nama khas orang Melayu. Anda tentu tidak lupa dengan Datuk Maringgih, kan? Ternyata, tokoh utama dalam buku adalah orang Melayu bernama Datuk Hitam. Kenapa namanya Datuk Hitam? Ada penjelasannya sendiri, baik di awal maupun di akhir buku ini.

Jika Anda penggemar cerita-cerita Abu Nawas, maka buku ini bisa menjadi salah satu pemupuk dahaga. Kejenakaan, kecerdasan, kerendahhatian, dan kekonyolan ala Abu Nawas nampak sekali tergambar pada Datuk Hitam. Penulisnya sendiri mengakui jika dia terinspirasi oleh Abu Nawas dalam menulis buku ini. Tentu saja, setting yang dipakai berbeda. Jika Abu Nawas berlatar belakang budaya Islam Arab, maka Datuk Hitam lebih kekinian di Negeri Segantang Harapan, yang digadang-gadang merujuk pada Tanah Riau.

Buku ini berisi kumpulan kisah-kisah jenaka yang dikemas dengan ringan dan sederhana. Meski demikian, muatan sufistik dan kritik sosialnya terasa kental. Seperti yang tertuang dalam cerita “Paru-paru Kanan” (hal. 80). Datuk Hitam digambarkan sebagai seseorang yang suka merokok. Sedemikian beratnya kelas perilaku merokok Datuk Hitam, hingga suatu saat ia dinyatakan menderita penyakit paru-paru sebelah kiri. Dan, ia tetap akan merokok dengan paru-paru kanannya.

Kecerdikan Datuk Hitam juga ditunjukkan dalam cerita “Datuk Hitam Menikah” (hal. 6). Agar istrinya, Siti Rahimah, yang baru dinikahinya mau tidur bersamanya, Datuk Hitam mereka-reka cerita seakan-akan arwah ayahanda sang istri hadir dengan mengizinkan untuk melakukan hubungan suami istri. “Kata arwah ayah, engkau buatlah segelas susu. Lalu katakan kepada susu itu, ‘pasti mau, pasti mau, pasti mau’”.

Buku ini dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sebelas cerita tentang Datuk Hitam dan 192 aphorisme yang berisi kata-kata yang berkaitan dengan multiple intelligence. Di halaman informasi, buku ini disebut cetakan pertama. Padahal sebenarnya cetakan kedua. Mungkin karena adanya pembaruan sampul depan yang pada cetakan pertama berupa asap rokok dan cetakan kedua berupa gambar Datuk Hitam yang duduk merenung, sehingga oleh penerbit disebut cetakan pertama.

Aphorisme yang ada dalam buku ini terkesan dipaksakan. Ini mungkin disengaja untuk mempertebal buku. Jika aphorisme tersebut dijadikan satu buku tersendiri, mungkin lebih baik. Tapi, bisa jadi ini menjadi nilai tambah selain kata-kata mutiara yang disebut oleh penulis sebagai Mukadimah Akal di bagian depan tiap cerita. 11 cerita dengan 11 Mukadimah Akal.

Terlepas dari itu semua, buku ini cukup bergizi untuk dikonsumsi sebagai salah satu aset berharga bagi kesusteraan Melayu kekinian. Jangan khawatir, kening Anda takkan berkerut oleh ungkapan-ungkapan Melayu yang biasa terdapat dalam novel-novel Melayu. Justru, pemakaian bahasa Indonesia dengan setting yang disamarkan serta bernuansa kekinian, menjadikan buku ini layak dijadikan santapan rohani sebelum berlayar menuju Pulau Kapuk.

Advertisements
Posted in: Uncategorized