On The Road: Cerita Hati Pengguna Kereta Api

Posted on June 26, 2009

18


Penerbit : PT Elex Media Komputindo
Cetakan : 2009
Tebal : xviii + 178 hlm.
ISBN : 978-979-27-5140-6
Harga : Pinjam di Readinc!

Di Lombok tidak ada kereta api. Saya pertama kali naik kereta api waktu kuliah di Malang. Saya diajak oleh teman ke rumahnya di Blitar, naik kereta api yang datangnya terlambat 3 jam. Seharusnya berangkat pukul 7 malam, malah molor hingga mendekati pukul 10. Alhasil, sampai di Blitar pukul 12 lebih. Tapi, yang namanya pengalaman pertama, saya tetap menikmatinya.

Untuk kedua kalinya, saya naik kereta api ekonomi Penataran dari Malang menuju Surabaya untuk daftar ulang di Kampus C Unair. Itu terjadi pada tahun 2007. Kali ini saya berangkat sendirian. Dengan arahan teman, saya pun meyakinkan diri bahwa saya akan selamat sentosa dalam perjalanan. Sebelum turun di Stasiun Gubeng, saya bahkan ditunjukkan arah oleh seorang bapak yang baik. “Nanti ikut saya saja. Kebetulan rumah saya searah angkot menuju Kampus C. Tinggal bilang saja ke supirnya supaya diantar hingga ke dalam.”

Sejak saat itu, saya lebih sering menumpang kereta api jika pergi ke Malang dari Surabaya atau sebaliknya. Bahkan, pada liburan semester bulan Januari kemarin, saya memberanikan diri menumpang kereta ekonomi dari Surabaya ke Jakarta, turun di Stasiun Pasar Minggu. Bahkan, saya sempat merasakan aura KRL dari Bogor ke Jakarta, seperti yang biasa digunakan oleh penulis buku ini dari rumahnya di Bogor ke tempat kerjanya di Depok.

Intermezo saya mungkin agak panjang. Namun, harus saya akui buku ini dekat sekali dengan saya. Dekat dalam artian, 45 kisah nyata dalam buku ini amat sesuai dengan pandangan saya. Kehidupan di dalam kereta, terutama kereta ekonomi yang menjadi langganan saya jika pergi ke Malang, tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami oleh penulis. Mulai dari desak-desakan antarpenumpang yang mau naik dan yang mau turun, bau pesing dan keringat di kereta, para pengemis dengan beragam rupa, para pedagang yang hilir-mudik, pengamen beraneka jenis (yang dikisahkan tipe-tipenya secara detil di hal. 64), petugas kereta yang berjalan membolongi karcis penumpang, dan sebagainya. Kalau dipikir-pikir, kereta sudah mirip dengan pasar berjalan (hal. 93).

Buku kedua dari serial Lebah Cerdas (sebelumnya Baban Sarbana telah menelurkan “Hati Tak Bersudut”) ini nyaris terjebak menjemukan pembaca seandainya hanya berkisah mengenai pengalamannya selama berkereta api. Penulis menyiasatinya dengan pengalamannya di luar “gerbong kereta” seperti yang tersaji dalam cerita “Supir Taksi yang Komentator”, “Penumpang yang Aneh”, “Tukang Ojeknya Wanita”, dan “Gadis Slow Motion Jaga Kios Ponsel”. Saya jadi tahu kenapa tukang cukur kebanyakan dari Garut dalam “Tintin van Garut”. Saya bahkan ngakak pada cerita “Parung Bingung dan Bantar Kambing”.

Secara keseluruhan, saya angkat topi untuk Baban Sarbana yang telah berhasil merangkum pengalaman-pengalamannya, terutama saat berkereta, dengan bahasa yang sederhana dan bergizi. Kisah-kisahnya, meski terkadang pendek, namun mengandung hikmah. Penulis mengungkapkan, ia memang selalu menyiapkan notes kecil untuk mencatat hal-hal unik yang dia temui sepanjang perjalanan berkereta. Kadang hanya direkam di otak untuk selanjutnya ditulis di blognya, http://lebahcerdas.blogdetik.com, atau notes di facebook.

Selain mengetengahkan hasil penginderaannya terhadap kehidupan di dalam kereta, penulis juga dengan cerdas menyelipkan kritik sosialnya terhadap pejabat dan elite politik yang saat ini sedang bertarung memperebutkan kursi kepresidenan. Dia juga mengkritik para (oknum) polisi yang ada ‘main’ dengan para pelaku kejahatan lewat “Oknum Polisinya Sudah Kenal”.

Terlepas dari kisah-kisahnya yang bernilai dengan ramuan hikmah dan humor, buku ini masih memiliki sedikit ‘cacat’, semisal ejaan ‘katagori’ dan eksebisionis (hal. 13), penggunaan kata tidak baku “nggak” yang kadang dicetak miring kadang tidak (hal. 9-13), istilah asing yang tidak dicetak miring “hit and run” (hal. 20), serta dua halaman yang salah cetak, yaitu hal. 111-112 dan hal. 145-146.

Didukung oleh font yang nyaman di mata dan sampul depan yang adem berwarna hijau, membuat buku ini layak menjadi teman perjalanan berkereta Anda.

Advertisements
Posted in: Uncategorized