The Journey: From Jakarta to Himalaya

Posted on July 3, 2009

22


Penerbit : Maximalis
Cetakan : I, April 2009
Tebal : x + 246 hlm
ISBN : 979-16924-9-1

++++
Hari Sabtu, seminggu yang lalu, saya memutuskan untuk meminjam buku ini di Readinc! Saya bolak-balik isinya sebentar dan tak perlu menimbang terlalu lama. Sebab, hari Selasa saya kebetulan ada ujian mata kuliah Asia Tenggara. Buku The Journey ini bisa sekalian jadi referensi belajar, yakin saya. Bahkan, ketika ada seorang teman yang bertanya, “Kamu sudah belajar Asteng?” Saya pun bilang, “Sudah! Nih, belajar dari buku traveling ala novel.”

++++
The Journey mengisahkan perjalanan Gola Gong keliling negara-negara di Asia. Diawali dari Serawak pada tahun 1991, dia kemudian meneyeberang ke Semenanjung Malaysia, masuk ke Thailand lewat selatan, menyusuri Laos, mengelana di Bangladesh, menapaktilasi jejak-jejak trekkers di Nepal, menyusuri Pakistan, dan menyudahinya di India. Total waktu perjalanannya, sembilan bulan.

Gola Gong sempat menggunakan sepeda untuk berkelana selama di Malaysia. Namun, si Master, julukan bagi sepedanya, terpaksa ia jual di Thailand karena kepepet duit. Di Laos, penulis bertandang ke ladang opium yang tersohor di dunia, yaitu Golden Triangle yang juga masuk wilayah Laos, Myanmar, dan Thailand. Perkampung para long-neck juga didatangi, dengan menambah kocek kalau berfoto-foto dengan mereka.

Dhaka, ibukota Bangladesh membuat penulis terkejut dengan suasana kotanya yang amat sangat semrawut dan jorok. Tumpah ruah manusia di jalanan, bis yang kesesakannya melebihi bis ekonomi Jakarta, para penduduknya yang suka buang hajat sembarangan. Kumuh, itulah kesan yang ditangkap sang penulis. Apalagi dengan kontur Bangladesh yang memang rawan banjir juga kekeringan. Makin lengkaplah pemandangan tidak mengenakkan hati sang penulis.

Di Nepal, mimpi sang penulis pun hampir tercapai: menyentuh puncak Himalaya. Karena keterbatasan fisik dan cuaca yang ekstrem, penulis lebih banyak menikmati kehebatan ciptaan Tuhan itu dengan duduk-duduk di atas rumah penginapannya.

Epos Mahabarata yang digemari penulis semasa kecil akhirnya bisa dia nikmati langsung dari negara asalnya, India. Menyuri Sungai Gangga, menonton film-film Bollywood yang diproduksi langsung di tanah yang sedang diinjaknya, dan mengunjungi Taj Mahal adalah beberapa hal yang dilakukan penulis di negara yang melahirkan pejuang kemanusiaan termasyhur, Mahatma Gandhi.

Tidak semuanya menyenangkan. Ada bagian-bagian yang menyedihkan dan memancing emosi. Semuanya diceritakan secara lancar oleh novelis yang juga pendiri Rumah Dunia ini. Semua kisah berkelindan membetot mata. Pembaca diajak menyusuri lorong-lorong dunia melalui kejelian inderawi penulisnya. Untuk merangkai kisah secara utuh, agar tidak terkesan sepenggal-sepenggal, penulis menyisipinya dengan flash back kisah dirinya dan sang ayah yang sama-sama sakit.

Kepiawaian penulis dalam berkisah membuat buku ini mendapat nilai plus. Dilengkapi dengan ilustrasi berupa foto-foto perjalanan penulis juga membuat buku ini tidak membosankan. Yang ada, pembaca yang belum pernah melakukan backpacking malah semakin digelorakan semangatnya.

Buku yang dituturkan secara jernih. Perjalanan yang dilalui secara lelaki. The Journey ini pun mengantarkan pembaca pada akhir perenungan yang mendalam: sejauh mana persiapan kita menempuh perjalanan yang lebih hakiki?

*gambar diculik dari rumahdunia.net*

Advertisements
Posted in: Uncategorized