The Bookaholic Club

Posted on August 5, 2009

19


Judul : The Bookaholic Club
Penulis : Poppy D. Chusfani
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Terbitan : Pertama, Oktober 2007
Tebal : 192 hlm, 20 cm
ISBN-13 : 978-979-22-3236-3

Preambule
Saya tertarik membaca novel ini setelah mengunjungi blog penulisnya. http:// arweneldarin.multiply.com. Pertama kali tahu link blog penulisnya pun dari ulasannya Mbak Leila mengenai novel ini. Akhirnya, ketika ada kesempatan pulang kampung, saya kembali mengunjungi Bale Buku (Rumah Buku) yang menjadi langganan adik sepupu saya. Beruntung, novel ini ada di rak novel-novel teenlit. Saya agak geli sendiri karena dulu pernah berkoar-koar tidak menyukai teenlit. Tapi, setelah membaca teenlit, seperti 100 Jam-nya Mbak Amalia (truelia.multiply.com), saya pun menghapus imej ‘teenlit hanya melulu haha-hihi kriuuk kriuuuk’.

Tokoh
Tokoh utamanya adalah empat orang gadis berumur sama: Des, punya kemampuan menyihir. Tori, si gagap berkacamata. Chira, yang ‘menderita’ karena sixth sense yang dimilikinya. Erin, tipikal gadis kaya, cantik, dan tentu saja ngetop.

Tokoh lainnya adalah Luana and the gank, Bellin, Kakek Lim, dan para orang tua keempat tokoh utama.

Cerita
Des, Tori, Chira, dan Erin sebelumnya tidak akrab. Erin, anak pindahan di sekolah mereka, langsung menuai perhatian Luana untuk digandeng sebagai orang beken. Dia pun diajak ke pesta yang diselenggarakan oleh orang tua Des. Tori yang gagap, yang sangat tidak nyaman dengan nuansa pesta (karena lebih senang berkutat dengan buku-buku) pun dengan ‘terpaksa’ mengikuti ajakan sang mama ke pesta tersebut.

Des, Tori, dan Erin bertemu di perpustakaan dalam rumahnya Des. Chira, yang mampu membaca aura, bertemu di perpustakaan sekolah dengan Des. Des yang agak dingin, mampu dibaca auranya oleh Chira. Aura berwarna keemasan yang dimiliki Des serta hobi yang sama, yakni membaca, membuat mereka sepakat untuk mengunjungi toko buku Kakek Lim. Berempat, mereka ke sana dan justru memperoleh ‘hadiah’ dari Kakek Lim yang mengejutkan sekaligus mengantarkan mereka pada petualangan fantasi yang seru.

Hidangan Penutup
Penulis menggunakan teknik penceritaan yang tidak membosankan. Pergantian bab, pergantian pencerita, yakni lewat penuturan masing-masing keempat tokoh utama. Bahasa teenlit yang baku, seperti penggunaan kata ‘sontekan’ cukup membuat saya berpikir ulang mengenai kata ‘contekan’. *jadi pengin buka KBBI, tapi sayang nggak punya* Cerita mengenai dunia sihir alias fantasi, cukup ter-logika-kan di kepala. Ending yang mengecoh juga semakin meneguhkan kepiawaian Mbak Poppy dalam menulis (yang selama ini lebih banyak berkutat di dunia penerjemahan) *hei, menerjemahkan juga aktivitas menulis, kan?*

Advertisements
Posted in: Uncategorized