Bunda… Aku Kembali

Posted on August 7, 2009

12


Judul : Bunda… Aku Kembali
Penulis : Lalu Mohammad Zaenudin
Penerbit : Republika
Cetakan : I, Desember 2008
Tebal : vi + 296 hlm; 20,5 x 13,5 cm
ISBN : 978-979-1102-41-4

Preambule
Nama penulisnyalah yang menggaet saya untuk membaca novel ini. Pertama kali, nama sang penulis saya jumpai pada novel “Cogito Allah Sum!” terbitan Diva Press. Tapi, membaca sinopsis novel tersebut serta nama penerbitnya –maaf- saya belum tertarik untuk membeli, bahkan meminjamnya dari rental buku favorit saya di Surabaya.

Namun, tidak dengan novel “Bunda…Aku Kembali” ini. Saya menjumpai novel ini di rak buku-buku terbaru di Petra Togamas, Surabaya. Sampulnya yang berupa foto empat bocah laki-laki berseragam pramuka dengan pose yang ekspresif, mengingatkan saya pada cerita Laskar Pelangi. Bertema pendidikan kah? Tidak meleset jauh. Tema besar yang diangkat dalam novel ini adalah mengenai kebangsaan alias nasionalisme.

Melihat bandrol harga yang tertera di sampul belakang, saya pun berpikir ulang untuk membelinya. Saya coba cari di Readinc!, namun tak jua bertemu. Seolah ter-setting, novel ini justru bisa saya temukan di Bale Buku, fresh from the oven alias baru datang di rental yang ada di kota kecil saya, Selong.

Cerita
Ilham, bocah yang beretnis Tionghoa bersahabat dengan Andi, anak warga penduduk lokal. Mereka bersekolah di SD Mekarsari. Jiwa patriot yang tertanam pada diri Ilham saat upacara sekolah selesai, justru berbuah hukuman dari kepala sekolah untuknya. Ini gara-gara Ilham ketahuan menurunkan bendera merah putih, memperbaiki posisi talinya, lalu menaikkannya kembali. Bagi Pak Salim, sang kepala sekolah, itu adalah penghinaan yang tak terampunkan. Hukuman yang diperoleh Ilham justru mendatangkan simpati dari teman-temannya.

Suatu ketika, seusai menonton film tentang perjuangan –karena bertepatan dengan hari Kemerdekaan Indonesia, yakni 17 Agustus- Ilham dan Andi terlibat dalam perkelahian. Masing-masing ingin menjadi pejuang, tak ada yang mau jadi penjajah. Orang tua keduanya bertemu, mereka pun berdamai. Sebelumnya, Pak Ikhsan sangat cemas jika tidak berdamai, dia akan mendapat cemoohan dari orang tua Andi dan warga sekitar. Apalagi dengan identitas Tionghoa, pendatang sekaligus minoritas, yang melekat pada diri keluarganya.

Pertemuan Pak Amir -ayah Andi- dengan Pak Ikhsan dan Bu Fatimah -orang tua Ilham- itu menjadi awal dari konflik kedua belah pihak dengan memanfaatkan pihak ketiga, yakni Bintoro atau yang dijuluki Si Selandir. Bintoro adalah perwira polisi yang juga ayah dari Tania, sahabat Ilham dan Andi di SD Mekarsari. Bintoro yang seharusnya mengayomi masyarakat seringkali membuat onar. Berjudi dan menenggak minuman keras adalah hobinya. Itu juga sebagai pelarian karena istrinya yang sakit parah membutuhkan biaya operasi dalam jumlah besar, sementara dia tidak bisa menalanginya.

Atas usul Tania, dia pun mendatangi Pak Ikhsan, ayah Ilham. Pak Ikhsan dengan kebaikan hatinya, memberikan bantuan biaya operasi. Setelah istrinya sehat dan bugar seperti sedia kala, masalah kembali menghimpit Bintoro, yakni utang yang mencekik akibat bermain judi. Red Knife, mafia judi sampai mengancam untuk membunuh dirinya dan anak istrinya jika tidak melunasi utangnya segera.

Saat mata, hati, dan pikirannya dibutakan, dia pun mendatangi Pak Amir. Meminta tolong agar dipinjami uang buat melunasi utang-utangnya. Gayung bersambut. Ada uang, ada barang. Pak Amir yang memang memiliki rencana jahat pada keluarga Pak Ikhsan, memanfaatkan Bintoro.

Apa yang terjadi pada Pak Ikhsan dan istrinya, Bu Fatimah? Niat busuk apa yang dipendam oleh Pak Amir? Bagaimana akhir persahabatan Ilham dengan Andi? Apakah Ilham akan tetap meninggalkan Indonesia, yang awalnya sangat ia banggakan, namun ternyata membuatnya terluka?

Hidangan Penutup
Jujur, saya menaruh ekspektasi yang besar pada novel. Apalagi karena setting-nya di sebuah daerah di Lombok. Di awal, penulis telah menggambarkan situasi diskriminasi yang dialami oleh Ilham. Saya pikir, problematika beda etnis inilah yang akan digarap oleh penulis sebagai konflik inti. Namun, harapan saya itu dipudarkan oleh konflik yang terlalu sinetronis. Meskipun demikian, tampak adanya usaha penulis untuk kembali ‘menyeret’ pembaca pada tema besar yang hendak disampaikannya, yakni nasionalisme, setelah konflik sinetronis itu terjadi.

Nama-nama tokoh lokalnyanya juga kurang menggigit, kurang bercitarasa ‘Lombok’. Bukankah nama Amir, Andi, Tania, Mekarsari, adalah nama yang sudah populer? Kenapa penulis tidak memakai nama-nama yang khas Lombok saja? Apalagi dengan setting Lombok Tengah yang nama orang-orangnya ‘Lombok banget’? Misalnya, Wirasentane, Jenggale, Serinate, dan lain-lain. Bisa jadi nama tokoh yang umum sebagai upaya penulis untuk mengurangi kerut di dahi pembaca? Atau, karena memang ceritanya terjadi pada tahun 2000-an, sudah modern? Mungkin pembaca yang bukan asli Lombok tidak mempermasalahkan penamaan tokoh ini.

Pemberian catatan kaki untuk beberapa istilah daerah, patut saya acungi jempol. Namun, ada beberapa kata atau frasa yang sudah umum dan menurut saya, tidaklah tepat jika diberikan catatan kaki. Misalnya, lumpur hidup (hal. 47) dan beling (hal. 118). Tapi, tak ada salahnya toh jika diniatkan oleh penulisnya sebagai tambahan informasi.

Terlepas dari beberapa hal yang membuat saya tidak sreg sebagai pembaca asli dari Lombok, saya berikan tiga bintang untuk novel yang ditulis oleh penulis berusia 23 tahun ini. Hmmm… kapan ya giliran saya?

*blog penulis : http://ayenkikhlas.blogspot.com/

Advertisements
Posted in: Uncategorized