Negeri Van Oranje

Posted on August 7, 2009

13


Judul : Negeri van Oranje
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa, Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
Penerbit : PT Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, April 2009
Tebal : viii + 478 hlm; 20,5 cm
ISBN : 978-979-1227-58-2

Preambule
Saya pertama kali menemukan novel ini di rental buku kesayangan saya, Readinc! Fresh from the oven. Saya peminjam pertama. Mentok di halaman seratusan, saya pun mengembalikan novel ini. No enough time to enjoy it. Waktu penyewaan yang seminggu, belum tugas-tugas kuliah yang mengebiri mata, saya pun akhirnya dijodohkan bertemu kembali dengan buku ini. Kali ini, milik pribadi. Plus dapat tanda tangan dan foto bersama dengan dua penulisnya, yakni Mas Wahyuningrat dan Mas Adept.

Mungkin karena euforia, novel ini pun belum mampu memancing saya untuk melahapnya. Ini karena saya belum bisa menolerir ketebalannya. Sampai kesempatan mudik ke kampung halaman itu pun tiba. Saya mulai membacanya di dalam Kereta Ekonomi Sritanjung tujuan. Di atas ferry, penyeberangan dari Bali ke Lombok, saya kembali menekuri novel ini. Dan, baru bisa selesai melahapnya (tentu saja diselingi dengan membaca buku-buku lainnya), pada hari Selasa, 4 Agustus 2009 pukul 05.40 WITA. Hehehe…

Negeri van Oranje
Banjar, Wicak, Daus, Lintang, dan Geri dipertemukan secara tidak sengaja oleh badai musim dingin di stasiun Amersfort. Pertemuan pertama itu kemudian terjalin lebih intensif melalui milis Aagaban (Aliansi Amersfort Gara-gara Badai di Netherland).

Pertemuan offline kedua terlaksana dengan sukses di apartemen mewah milik Geri di tepi Pantai Scheveningen. Di apartemen inilah kelak Lintang mengetahui rahasia terbesar yang disimpan Geri selama bersahabat dengan keempat mahasiswa S2 asal Indonesia tersebut.

Menjadi cewek satu-satunya dalam Aagaban, membuat Lintang, secara diam-diam menjadi rebutan para Aagaban yang lain. Namun, Banjar, Daus, dan Wicak harus bersaing ketat dengan Geri yang menang secara fisik. Pedekate yang dilancarkan oleh masing-masing Aagaban-ers itu pun, rupanya tidak ditanggapi secara serius oleh Lintang. Meskipun keempat laki-laki Aagaban berhasil mengajak Lintang kencan private, sembari berjalan-jalan di kota tempat kuliah masing-masing, namun Lintang menganggap hal itu sebagai undangan biasa dari para sahabat. Tidak lebih dari itu. Tentu saja para lelaki tersebut kecewa – meski ada salah seorang yang menjadi pengecualian. Satu lelaki pengecualian inilah yang justru menjadi ‘harapan’ Lintang. Apalagi setelah dia putus dari, Jeroen, yang ternyata diam-diam telah menjadi ‘ayah’.

Gara-gara cinta yang berputar di ‘sarang laba-laba’ bernama Aagaban, membuat persahabatan mereka terancam. Namun, terbongkarnya rahasia Geri, kembali menyatukan mereka. Akhir yang bahagia. Salah satu di antara lelaki Aagaban berhasil memenangkan hati Lintang.

Hidangan Penutup
Negeri van Oranje (NVO) bukanlah novel biasa. NVO memiliki poin-poin plus yang sejauh ini berani saya bandingkan dengan Laskar Pelangi. Jika Laskar Pelangi detil dan kaya dengan data-data ilmiahnya, maka NVO sarat dengan informasi berharga mengenai negeri Belanda. Situs-situs budaya, perdagangan, wisata, pendidikan, adat kebiasaan, dan kehidupan di Belanda dipaparkan dengan komplet, berkelindan dengan cerita novelnya. Ada yang dinarasikan langsung di dalam cerita, ada pula hal-hal penting lainnya yang dibuatkan kolom khusus.

Bagi para calon student yang berencana sekolah di Belanda, novel ini bisa ‘buku panduan’ yang menarik. Bagi backpackers yang ingin mencicipi Negeri Kincir Angin dan negara-negara Eropa lainnya, novel ini juga patut disimak.

Selamat buat keempat penulis yang dengan piawai meramu NVO menjadi “Novel yang menyenangkan”, seperti kata Andrea Hirata dalam endorsment-nya.

Advertisements
Posted in: Uncategorized