Emak Ingin Naik Haji: Sebuah Skenario

Posted on December 6, 2009

22


Judul : Emak Ingin Naik Haji: Sebuah Skenario
Penulis : Aditya Gumay & Adenin Adlan
Penerbit : Hikmah (PT Mizan Publika)
Cetakan : I, Oktober 2009
Halaman : xxiv + 136
ISBN : 978-979-3714-54-7
Harga : Rp 28.000

Film yang baik bermula dari skenario yang baik. Itu kalimat pertama yang saya temukan di sampul belakang buku ini.

Bukan suatu kebetulan jika saya memutuskan membeli buku skenario dari film yang sedang diputar ini. Ini bahkan buku skenario yang pertama kali saya beli dan saya baca sampai tuntas. Dan, saya memang tidak rugi membelinya.

Sebelum menuliskan resensi buku ini, izinkan saya berbagi cerita mengenai perkenalan saya dengan naskah drama dan skenario.

Pertama, sejak SMA kelas tiga, saya telah tertarik membuat skenario. Masih segar di ingatan ketika seorang teman menyodorkan informasi dari sebuah majalah remaja bahwa salah satu stasiun TV swasta mengadakan kompetisi penulisan skenario. Saya sempat membuat orat-oret di sebuah buku. Patokan saya hanyalah pengalaman membaca potongan drama di buku-buku pelajaran bahasa Indonesia. Saya mandeg!

Kedua, saat saya kuliah di WEC Malang. Salah satu materi kuliah bahasa Inggris adalah bermain drama. Kami dibagi dalam kelompok-kelompok yang akan merancang dan memainkan sendiri drama tersebut. Oleh teman-teman satu kelompok, saya ditunjuk membuat naskah dramanya. Saya setuju. Sebuah pengalaman baru buat saya. Lagi-lagi format penulisannya saya berpatokan pada apa yang ada di buku panduan. Cerita dalam drama tersebut saya ambil dari cerita lokal Jawa. Tentunya dengan pengembangan karakter-karakter yang lebih modern. Drama yang lucu! Kami berkali-kali latihan dan Alhamdulillah… bisa memainkannya dengan lancar meski dengan properti seadanya.

Ketiga, beberapa waktu lalu adik saya, Ofah, yang sedang duduk di kelas dua SMA, meminta saya untuk membuatkannya naskah drama dalam bahasa Indonesia. Saya yang tidak pernah keberatan saat menerima ‘pesanan’ seperti itu, menyanggupi dengan senang hati. Pada dasarnya, saya senang menulis. Ketika ada ‘tantangan’ menulis genre yang lain dari biasanya yang saya tekuni – saya menekuni penulisan puisi dan cerpen – saya biasanya tertarik untuk mencobanya.

Keempat, tantangan sekaligus tawaran kembali datang. Kali ini dari teman-teman Seksi Acara HI 27th. Karena salah satu bagian acara adalah pemutaran film dokumenter, maka saya pun di’pinang’ untuk membuat skenarionya. Paling tidak, garis besar ceritanya. Saya tidak melepaskan tawaran tersebut. Saya anggap ini sebagai ajang latihan. Apalagi filmnya nanti akan diputar alias ditayangkan di depan tetamu dari Konsulat Jenderal yang ada di Surabaya, seperti Konjen AS, Konjen Prancis, dan sebagainya. Ini kesempatan. Maka, lahirlah skenario ecek-ecek berjudul ‘Mosaic of Children’. Hari Sabtu kemarin (5/12) saya, Wok, dan Yoga telah mengambil tiga scenes. Anak-anak di sebuah SD, dua anak perempuan penjaja koran, dan dua anak laki-laki penjual koran. Kegiatan yang menyenangkan, tentu saja!

Emak Ingin Naik Haji: Sebuah Skenario

Sampul
Sampul depan buku ini sepertinya diambil dari salah satu adegan film EINH dimana Zein meletakkan kepalanya di atas pangkuan Emak dengan latar belakang laut. Raut wajah Emak yang penuh asa dan welas asih tergambar jelas. Begitu juga wajah Zein yang lesu. Potongan-potongan film juga diletakkan di bagian bawah sehingga kesan bahwa ini memang buku skenario semakin kuat.

Format Isi
Buku ini terbagi dalam empat bagian besar, yakni Kata Pengantar dari masing-masing penulis skenario, Deskripsi Karakter Pemain, Keterangan Istilah Sinematografi, dan Skenario 134 scenes.

Aditya Gumay dalam catatannya, mengisahkan proses sejak pertama kali ia membaca cerpen Emak Ingin Naik Haji-nya Asma Nadia yang dimuat di Majalah Noor hingga dia akhirnya berhasil bertemu dengan sang penulis yang dilanjutkan dengan meneken kontrak kerja sama dengan para produser dari Mizan.

Adenin Adlan sendiri mengakui adanya ‘campur tangan’ Sang Kuasa dalam proses pengambilan gambar di depan Ka’bah. Subhanallah! Tak lupa dijelaskan pengembangan karakter yang dilakukan oleh mereka berdua hingga muncul tokoh-tokoh, seperti Haji Saun, Hajah Markonah, Pak Joko, Nyonya Nonik, dan lain-lain yang sejatinya tidak ada di dalam cerpen. Detil para pemain dijelaskan pada halaman Deskripsi Karakter Pemain.

Bagi pembaca awam atau pemula dalam dunia skenario akan sangat terbantu dengan Keterangan Istilah Sinematografi, misalnya: background, big close up, black out, cut to, dissolve, established, EXT, FI/FO, FS, In Frame, INT, Intercut, OS, Out/Out Frame, Parallel Cutting, POV, Slowmotion, Title, dan Trade Mark.

Lantas, di bagian skenario, pemahaman pembaca mengenai istilah-isitilah tersebut di atas makin terasah. Tentu saja, pembaca juga sekaligus menikmati jalinan cerita yang filmis.

Cerita
Emak adalah seorang janda tua penjual kue keliling. Dia tinggal bersama Zein, putra keduanya yang seorang duda berumur 30 tahun sekaligus penjual lukisan kaligrafi. Emak memiliki impian dan kerinduan yang mendalam, yaitu naik haji. Dia pun menabung bertahun-tahun untuk mewujudkan impiannya tersebut.

Sangat ironis, di depan rumah sederhana Emak yang semipermanen berdinding kayu, berdiri rumah mewah miliki Haji Saun – pengusaha besi tua dan jual-beli kapal yang kaya raya. Hampir setiap tahun Haji Saun berangkat haji atau umrah bersama keluarganya.

Zein menyadari impian emaknya tersebut. Dia merasa sebagai anak yang tidak berguna. Namun, dia juga harus realistis mengenai kondisi ekonominya yang sangat kurang. Apalagi lukisan kaligrafinya jarang dibeli orang. Ditambah pula oleh kenyataan bahwa Aqsa, anaknya, harus menjalani operasi. Emak menawarkan tabungannya untuk membiayai operasi Aqsa, namun ditolak oleh Zein. Dia malah menyusun rencana untuk mencuri uang milik Haji Saun. Tetapi, di tengah aksinya, Zein tersadar itu perbuatan yang tidak pantas. Dia pun mengurungkan niatnya. Namun, saat melompat pagar hendak pulang, beberapa warga kampung memergokinya. Zein pun dikejar.

Bagaimana kelanjutannya? Lalu, apakah Emak akhirnya dapat mewujudkan cita-citanya?

Black Out
Saya merasa tidak rugi membeli buku ini. Selain mendapatkan ilmu penulisan skenario, saya sekaligus bisa menikmati jalan ceritanya yang sungguh menyentuh. Meski terpotong-potong dalam adegan-adegan, namun di kepala saya telah tergambar sebuah film yang utuh. Apalagi beberapa cuplikan dalam film EINH dijadikan pula sebagai ilustrasi. Sangat mendukung imajinasi.

Yang pada awalnya saya hanya menggunakan istilah EXT dan Fade In dalam skenario ‘Mosaic of Children’, akhirnya mendapatkan banyak perbendaharaan istilah. Meski demikian, saya masih belum bisa mendapatkan gambaran yang jelas mengenai perbedaan antara penggunaan ‘CUT TO’ dan ‘DISSOLVE’. Lantas, seperti apa ‘Intercut’ itu kalau diaplikasikan dalam shooting film-nya sendiri.

Secara keseluruhan, saya puas dengan buku skenario EINH ini. Jenis dan ukuran font-nya oke dengan ilustrasi yang memanjakan mata. Adanya beberapa typo tidak mengurangi keasyikan saya.

Buku Emak Ingin Naik Haji: Sebuah Skenario ini saya rekomendasikan buat Anda yang tertarik dengan dunia perfilman. Berisi dari teknik penulisan, bergizi dari segi cerita.

Selamat membeli dan membaca buku keren ini!

Advertisements
Posted in: Uncategorized