Jejak Putih di Tanah Basah

Posted on February 14, 2010

11


Ketika sang penulis menyodorkan dua novelnya untuk dipilih: Mereka Bilang Saya Monyong (MBSM) dan Jejak Putih di Tanah Basah (JPDTB), saya tak perlu berpikir lama untuk mengambil novel yang kedua. Padahal saya termasuk yang senang membaca novel humor sehingga laiknya menggaet MBSM. Namun, saat itu insting saya mengatakan bahwa JPDTB lebih bagus, termasuk genre novel anak-anak (yang juga saya suka), dan sanjungan dari Teteh Rinurbad mengenai novel ini dengan mengatakan, “novel-anak-seharusnya-seperti-ini”.

Saya tidak salah pilih. Apalagi setelah melihat tahun terbitnya, 2007. Siapa yang menjamin buku anak ini masih bisa ditemukan di toko buku? Kecuali mungkin kalau saya berkunjung ke perpustakaan umum. Itu pun masih gambling.

JPTDB bertutur mengenai bocah bernama Kelik yang tak pernah kehabisan ide mengisi hari-harinya. Ayahnya seorang pengangguran (tepatnya, pemalas) dan ibunya penjual kue donat. Agar tidak melulu makan donat sisa jualan, Kelik bekerja dengan mencari kardus bekas dan menjualnya pada penadah.

Kala musim hujan melanda Yogya dan kardus hasil pungutannya basah semua, Kelik pun menjajal ojek payung di sepanjang Malioboro. Ayam goreng sambal terasi menjadi pemotivasinya. Namun, apes, payung bututnya rusak berat diterjang angin kencang. Meski bapak yang sedang menggunakan jasanya memberikan duit 50 ribu, namun ayam goreng dan payung baru pun tidak terbeli. Duit itu terpakai untuk menebus obat di apotek.

Kelik tak patah arang. Dia terus memutar otak hingga pilihan menjadi pengamen pun diambilnya. Kelucuan terjadi karena Kelik menyangka “regis terasi” sebagai nama makanan. Padahal itu adalah nama lain dari pendaftaran pada Lik Jarwo sebelum ia ‘resmi’ diterima jadi pengamen.

Perjalanan ‘karir’ Kelik mengalami puncaknya ketika dia menjadi selebritis dadakan. Apa sebab? Mengapa ia melepas pekerjaannya sebagai pengamen? Bagaimana perasaan Kelik ketika dikira ingin bunuh diri padahal ia sedang menyalurkan bakat melukisnya? Apa hubungan krayon putih, diri Kelik, dan tragedi yang menimpa dua bersaudari: Laras dan Mayang?

***

Kelik adalah potret anak kalangan bawah yang seperti anak-anak lainnya: mempunyai segudang cita-cita dan impian.

“Bahwa ia tidak sekolah, miskin, kurus, dan tidak tampan bukanlah alasan yang tepat untuk bersedih. Ya…, bukankah anak kecil layak bahagia?” (hal. 66)

Kelik dan kenalannya, Alung, ikut mewakili ribuan anak kecil lainnya dengan bersuara agar orang dewasa menimbang sebelum membebani anak-anak mereka dengan pikiran dan tugas yang berat.

“Yang penting,” katanya dengan tampang sungguh-sungguh. “Enggak usah dipikir terlalu berat. Kita kan masih kecil.”

“Emangnya kenapa kalau masih kecil?” tanya Kelik setengah berteriak.
Alung menyembulkan wajahnya dari jendela mobil.
“Sayang-sayang wajah kita. Berpikir berat bikin cepat tua!” teriaknya.
(hal. 65-66)

Cerita yang mengalir dengan ketegangan-ketegangan yang alami dan celetukan humor yang tidak garing, membuat saya harus memberikan empat dari lima bintang untuk novel pertama Mbak Tria ini. Apalagi dengan deskripsi tempat yang membuat saya bernostalgia dengan peta kota Yogya yang saya dapatkan seminggu lalu di sebuah toko cinderamata di Jalan Malioboro. Kali Code, Malioboro dan Mal-nya, serta Stasiun Tugu adalah nama-nama yang sangat familier yang bisa saya temukan dalam novel ini.

Ada misteri di paragraf terakhir yang menghantui saya karena sekilas adanya ketidaksinkronan di benak saya dengan ilustrasi yang disajikan.

Temukan sendiri.

Judul : Jejak Putih di Tanah Basah
Penulis : Tria Ayu K
Penerbit : Gema Insani
Cetakan : 108 hlm; Juli 2007
ISBN : 979-56-0234-9

Advertisements
Posted in: Uncategorized