Kopi Merah Putih

Posted on February 14, 2010

0


“Kualitas pendidikan tidak akan bisa melebihi kualitas gurunya” (hal. 19)

Jika pemerintah benar-benar menerapkan anggaran pendidikan 20% dari APBN, apakah pendidikan kita bisa terdongkrak? Jika guru-guru di Indonesia digaji tinggi, apakah ranking pendidikan kita beranjak lebih bagus? Apakah penambahan jam belajar siswa di sekolah dan revisi berbagai kebijakan di bidang pendidikan mampu mengatrol kualitas pendidikan kita?

Bukan. Ternyata, bukan itu jawabannya. Lalu apa? Bercermin dari pengalaman Kanada, Finlandia, Jepang, Singapura, dan Korea Selatan, jawabannya adalah status. Di negara-negara tersebut, guru adalah profesi berstatus tinggi.

Di Korea Selatan, misalnya, untuk menjadi guru sekolah dasar lebih sukar daripada menjadi guru sekolah menengah. Untuk menjadi guru sekolah dasar, Anda harus lulus dari universitas pilihan dengan nilai yang tinggi. Sementara itu, untuk menjadi guru sekolah menengah, Anda hanya perlu diploma yang bisa didapat di banyak tempat. (hal. 17)

Singapura juga tidak jauh berbeda. Negara tersebut menyeleksi kandidat guru dengan prosedur yang sangat ketat, dan hanya menerima guru bila posisi tersebut tersedia. Finlandia juga membatasi jumlah guru berdasarkan kebutuhan.

Tulisan yang berada di bawah judul “Kita, Uang, dan Pendidikan” (hal. 11) ini pun berkorelasi dengan tulisan lainnya, “Kita, Sekolah, dan Kesempatan Kerja” (hal. 117). Bahwa pengakuan mereka yang bekerja di Human Resources (HR) akan memilih calon pegawai berdasarkan universitas lulusannya. Itu jika hanya dibutuhkan sedikit – katakanlah sepuluh – karyawan, namun peminatnya ratusan orang. Lalu, sekolah-sekolah mana saja yang memenuhi syarat untuk dipertimbangkan?

“Ada daftarnya. Untuk sekolah dari dalam dan luar negeri. Di daftar teratas tentu sekolah-sekolah yang punya nama. Untuk universitas lokal ini biasanya universitas-universitas negeri yang top dan universitas swasta yang terkenal bagus. Tetapi, beberapa yang kurang terkenal pun ada. Misalnya, kalau alumnus sekolah itu ada yang sudah bekerja di sini dan prestasinya bagus, sekolahnya akan masuk dalam daftar.” (hal. 124-125)

Tentu saja, selain berdasarkan sekolah, faktor prestasi, nilai akademik, keaktifan di organisasi, dan keaktifan di kegiatan ekstrakurikuler juga menjadi bahan pertimbangan.

Dua tulisan tersebut bersama 19 tulisan lainnya teracik dalam pahit manisnya Kopi Merah Putih. Isu-isu yang dibedah pun beragam. Masalah kelistrikan (hal. 1), kenaikan harga BBM dan kaitannya dengan semangat demonstrasi mahasiswa (hal. 31), tren penggunaan kartu kredit oleh masyarakat urban (hal. 47), masalah demokrasi dan reformasi (hal. 99, hal. 105, dan hal. 147)’ hingga hal-hal remeh temeh namun dikaji dengan serentetan fakta, angka, dan statistik seperti dalam “Kita dan Pisang” (hal. 85), “Kita, Jas, dan Dasi” (hal. 63), “Kita dan Bajaj” (hal. 57), dan “Kita dan Sinetron”.

Meski bahan-bahan tulisan ini – sepengakuan para penulisnya yang merupakan sekelompok kuli kerah putih – banyak tercetus saat ngopi , namun keseriusan penggarapannya bisa tercermin dari penautan ke sumber-sumber terpercaya, baik majalah, buku, maupun situs melalui catatan kaki. Tambahan pula, grafik dan tabel diselipkan di antara ilustrasi-ilustrasi yang mengundang senyum.

Menyentil? Iya. Mengajak berpikir? Iya. Menggugah kesadaran berbangsa? Juga iya.

Sebuah buku ‘ringan’ yang nikmat sebagai peneman menyesap kopi.

Judul : Kopi Merah Putih
Sub-Judul : Obrolan Pahit Manis Indonesia
Penulis : Indonesia Anonymus
Penyunting : Isman H. Suryaman
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : xii + 184 hlm; 2009

Advertisements
Posted in: Uncategorized