Long Distance Love

Posted on February 22, 2010

16


Judul : Long Distance Love
Penulis : Imazahra, dkk.
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : Ketiga, Agustus 2009
Tebal : 332 hlm

Mozaik Kehidupan Seperti Apa yang Kau Jalani Sekarang,
Saat Aku Tak di Sisimu, Sayang?

Sampul
Warna ungu, seorang laki-laki yang sedang berjalan di dermaga, dan pulau yang nampak samar di seberang lautan. Apa yang tersirat? Membaca judulnya, makna itu makin tertangkap kuat. Long Distance Relationship . Hubungan jarak jauh atau yang digubah oleh Mbak Imazahra, dkk. sebagai Long Distance Love (LDL). Penempatan judul, objek gambar, dan nama penulisnya yang simetris dan ‘manis’, layak disemati empat bintang.

Tata Letak dan Cetak
Tatanan basmallah di halaman pertama, langsung mengukir kesejukan di hati untuk bersiap menikmati kisah-kisah di dalamnya. Pembagian bab yang runtut, penempatan kalimat-kalimat ‘sakti’ dalam kotak kutipan, dan simbol tiga buah hati untuk menandai perpindahan ide besar serta akhir tulisan, cukup mendukung kepembacaan. Ukuran font dan lebar margin yang proporsional juga menyamankan mata.

Kualitas kertas yang oke – tidak putih mengkilap, tekstur permukaannya tidak licin sehingga ‘klop’ ketika berfriksi dengan jari – laik dihargai empat bintang.

Suntingan
Beberapa ejaan ada yang meleset. Penggabungan kata asing dengan kata dalam Indonesia yang tidak setia pada tanda hubung ( – ) dan pola penulisan miring. Gangguan juga hadir melalui beberapa strike yang muncul, entah di bawah, atas, maupun strikethrough sebuah kata yang sepertinya tidak diniatkan oleh penulis untuk menyiratkan sebuah makna. Namun, secara keseluruhan, apalagi bagi tipe pembaca cepat, hal itu tidaklah mengganggu amat. Tiga bintang untuk suntingan.

Stories Inside
Sembilan puluh persen berupa kisah nyata pribadi dalam menjalani LDL. Namun, ada pula yang berformat cerpen alias fiksi seperti yang tertuang dalam Diary Pulang Seorang TKW. Ending -nya mirip dengan Sepotong Pahit di Leeds yang tentu saja lebih ‘menendang’ karena merupakan kisah nonfiksi.

Tulisan penyusunnya, Mbak Imazahra, dibandingkan dengan tulisan-tulisan yang lain memang lebih ekspresif. Hal ini bisa dirasakan melalui kalimat-kalimatnya dengan penekanan-penekanan yang diakhiri tanda seru (!). Semacam penandasan pada pembaca akan upaya kerasnya dalam mengurus visa ke luar negeri – berkumpul dengan suami – namun pihak kedutaan yang terus menolak. Sisi melankolisnya pun tertuang dengan baik melalui sajian bait-bait puisi dan tuturan yang romantis puitis. Ini ketika rindunya memuncak pada sang suami yang tengah melanjutkan studi di Belanda.

Tak melulu LDL terjadi antara pasangan yang terpisah benua dengan rentang waktu bertahun-tahun. Kisah-kisah dalam LDL juga terjadi antara orang tua dengan anak yang berbeda kota dalam waktu hitungan minggu, seperti yang terceritakan dalam Saat Sang Anak Pergi.

Rata-rata isak menyeruak dalam tiap kisah. Sebab, siapalah yang rela berpisah dengan kekasih hati, baik itu pasangan sendiri, anak-anak, maupun keluarga besar. Gambaran ‘biru’ itu terungkap semisal dalam Paris-Lampung, Alamaaak!, Cinta Nan Merentang Jauh: Weil wir dich vermissen, Ayah…, Rasanya Ditinggal Suami, Melahirkan Tanpa Suami di Sisi, dan Jangan Jauh-Jauh dari Mas, Ya…

Meski LDL bisa disiasati dengan komunikasi yang intens, namun tak sedikit pula LDL yang berbuah empedu, seperti yang terpetik dalam Puzzle yang Tak Sempurna, Aku Tak Mau LDL!, dan Buah Pahit dari Cinta yang Jauh.

Terlepas dari ‘kelambu abu-abu’ yang bertebaran di sepanjang kisah para pelaku LDL, syaraf tawa tergelitik juga saat membaca kisah Ibu Mabes dalam Catatan Cinta Sebuah ‘Setrika’.

Kesan
Suka duka, konflik, keunikan, dan romantisme berbaur menjadi satu dalam buku ini. Meski saya belum menikah dan mengecap asam garam rumah tangga, namun saya sendiri pernah mengalami LDL dan… gagal. (horeeeeee… *teriakan cewek-cewek yang mengantri… di bank – hahaha… bukan ngantriin saya).

Disebabkan oleh beberapa kisah yang mirip, membuat saya sedikit bosan membacanya. Namun, saya terus membaca dan membaca dengan keyakinan bahwa masing-masing kontributor dalam buku ini memiliki gaya kepenulisan yang berbeda-beda. Dan, itu terbukti. Apalagi beberapa di antaranya menjadi kontak saya di jejaring multiply, saya pun lantas tidak kejut dengan style bercerita mereka.

Saya banyak belajar dari buku ini, sudah pasti. Saya bahkan terlintas pula memberikan buku ini pada dua kakak sepupu yang sedang menjalani LDL – dengan alasan kuliah S-2 dan bekerja di seberang pulau. Sehingga, jikalau pun nanti takdir menggariskan saya menjalani LDL – siapa tahu? – saya tidak akan terlalu panik atau ‘demam’ LDL karena buku ini telah saya baca hari ini.

Bagi yang sedang menjalani LDL ataupun tidak, buku ini cukup bergizi menambah referensi kehidupan.

Tertanda,

(Pelaku LDL yang kurang berhasil)

Advertisements
Posted in: Uncategorized