Az-Zukhruf

Posted on June 19, 2010

5


Penerbit : Garailmu
Cetakan : Pertama, Januari 2010
Tebal : 272 hlm.
ISBN : 978-602-955-445-8

Az-Zukhruf merupakan novel perdana Mira Dia Lazuba. Mahasiswa Semester 4 Ilmu Hubungan Internasional Universitas Airlangga Surabaya tersebut telah menunjukkan kualitasnya sebagai salah satu penulis muda berbakat. Jalinan cerita yang berkelok-kelok mampu diramunya dengan baik. Tokoh-tokohnya yang humanis dengan segala sisi baik dan buruknya, membuat novel ini tidak jarak dengan pembaca Indonesia. Bagi yang pernah membaca karya-karya Habiburrahman El-Shirazy, bisa merasakan ruh cerita yang tidak jauh berbeda.

Berlatar di sebuah pedesaan di Jawa Tengah, novel ini dibuka dengan kepulangan Zukhruf Az-Zahra dari Malaysia. Bukan sebagai TKW, tapi sebagai mahasiswi yang telah menggenggam gelar S-2 di bidang Akuntansi. Dia telah 11 tahun meninggalkan desanya semenjak lulus SMP.

Kepulangannya membangkitkan banyak kenangan lama. Saat berjalan-jalan di sawah, tak sengaja dia berjumpa dengan Faruq, teman masa kecilnya. Faruq yang ia temui jauh berbeda dengan yang dulu dikenalnya. Dari abinya, Zukhruf mengetahui kalau Faruq telah kehilangan rumah, kekayaan, dan kedua orang tuanya. Bahkan adiknya, Kumala, menderita sakit jiwa. Orang-orang kampung mengucilkan mereka berdua. Namun, Kiai Wahid bersedia menampung mereka di pesantren pimpinannya.

Selain ikut membantu-bantu di pesantren, Faruq juga bekerja sebagai buruh panggilan di sawah orang, termasuk bekerja bagi Pak Haji, abinya Zukhruf. Faruq menggembalakan kambing-kambingnya Pak Haji. Keterkejutan Zukhruf akan nasib yang dijalani Faruq tidak menyurutkan rasa kagumnya pada pemuda tersebut. Perangainya tetap santun, ulet, rajin ibadah, dan menyimpan karisma yang mampu kembali menyihir Zukhruf.

Kehadiran Zukhruf di rumah Tinah, sahabatnya, untuk bersilaturahim, ternyata menjadi awal pertemuannya dengan ustadz muda anak Kiai Wahid, yakni Ustadz Dafik. Ustadz Dafik adalah teman suami Tinah. Lulusan universitas di Arab Saudi ini sering datang berkunjung untuk sekadar berdiskusi atau minta tolong pada suami Tinah.

Pertemuan Zukhruf dengan Ustadz Dafik selanjutnya terjadi di masjid pesantren saat ia diajak Nabila, kakak perempuannya, untuk ikut pengajian. Ayat-ayat suci yang dibaca oleh Ustadz Dafik mampu membuat hati Zukhruf bergetar. Sangat bagus.

Sebagai anak ketiga dari empat bersaudara, Zukhruf mendapat desakan dari orang tua juga temannya, Tinah, agar segera menyempurnakan sunnah Rasulullah SAW. tersebut. Namun, Zukhruf masih belum menambatkan pilihannya. Begitu pula dengan tiga saudaranya, yakni Dokter Fatih, Nabila, dan Shiva. Kehadiran Dokter Tantra, rekan kakaknya di klinik desa, diharapkan oleh orang tuanya bisa menjadi suami bagi Zukhruf. Namun, hati tak bisa dibohongi.

Semua akan terungkap di akhir cerita, bagaimana keputusan-keputusan para tokoh dalam menentukan pilihan hidupnya. Termasuk rahasia Dokter Fatih untuk tidak menikah padahal usianya telah menginjak tiga puluh tahun. Juga cinta Nabila, kakak perempuan Zukhruf, yang ternyata bertepuk sebelah tangan. Serta nasib yang berujung manis meski sempat pahit yang dialami oleh Zukhruf.

Di bab-bab awal novel ini, saya telah curiga tokoh Zukhruf adalah jelmaan pribadi penulisnya. Hal itu makin terbuktikan semakin ke tengah di mana karakter Zukhruf digambarkan cerdas, suka berdebat, tidak pandai memasak, ceroboh, dan terkadang manja. Apalagi keberhasilan mendapatkan beasiswa juga penampilan luar Zukhruf yang berjilbab lebar. Setahun belakangan ini mengenal penulisnya, itu nampak di mata saya.

Visualisasi di otak saya pun makin terbantu dengan deskripsi penulis. Meski sedikit menjemukan karena setting-nya jika tak di rumah, pesantren, pasti di persawahan, tempat Zukhruf biasanya melepaskan letupan emosinya. Penulis juga sempat terpleset dalam menggambarkan karakter Zukhruf yang sedikit kurang konsisten.

“…Hanya memang sedikit susah berjalan dengan balutan gamisnya. Zukhruf, walaupun telah pergi meninggalkan tanah leluhurnya, tapi ketaatannya pada agama Allah tetap terpatri. Budaya luar tak memberangus imannya. Malah, ia makin menggenggam erat keimanan itu saat harus mandiri di negeri orang” (hal. 18).

Pada halaman berikutnya, Zukhruf rela saja menggenggam erat tangan Faruq saat ia tercebur ke lumpur sawah. Sepengamatan dan sepengetahuan saya di lingkungan kampus, jutru akhwat akan menghindari kontak fisik langsung dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya.

Bayangan setting yang telah terbangun di kepala saya juga sempat kacau. Penulis yang berasal dari Malang dan penyebutan Telogowaru, salah satu tempat di sana, maka saya yakin setting-nya memang di Malang. Namun, ketika penulis menceritakan Zukhruf yang memilih mengajar di Universitas Islam Surakarta dengan pulang pergi dari rumahnya ke kota, maka itu sedikit mengganggu.

Dari beberapa kekurangan yang ada termasuk typo, saya berani mengacungkan dua jempol saya buat penulis kelahiran 1990 ini. Menurut saya, dia berhasil meramu cerita dan menempatkan tokoh-tokohnya secara proporsional. Cerita yang bernapas Islami serta romantis ini – ditutup dengan paragraf yang ‘dewasa’ – membuat saya senyam-senyum. Kerumitan dalam menentukan pilihan hidup dari para tokohnya, layak menyandang label ‘Sebuah Novel Religius yang Akan Membuat Anda Berani Memilih’ sebagaimana yang tertera di sampul depan. Dari itu semua, yang membuat saya terprovokasi adalah… karena sang penulis telah berani melangkahi saya menulis novel. Hahaha…

Selamat buat Mira Dia Lazuba. Saya nantikan novel berikutnya.

Advertisements
Posted in: Uncategorized