Ternyata Aku Sudah Islam

Posted on July 17, 2010

10


Judul : Ternyata Aku Sudah Islam
Penulis : Damien Dematra
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : Februari, 2010; 252 halaman
ISBN : 978-979-22-5438-9

Beberapa bulan yang lalu, hampir tiap minggu saya bermain ke toko buku, terutama Togamas Petra, Surabaya. Dan dalam hitungan minggu, buku-buku dengan nama penulis ‘Damien Dematra’ bermunculan satu per satu. Semua terbitan Gramedia Pustaka Utama. Dan, judul-judulnya berbau relijius. Sekadar menyebutkan contoh saja: Demi Allah, Aku Jadi Teroris; Ketika Aku Menyentuh Awan; Si Anak Kampoeng; Ternyata Aku Sudah Islam; Tuhan, Jangan Pisahkan Kami; Sejuta Hati untuk Gus Dur; Obama, Anak Menteng; Obama dari Asisi; dan Yogyakarta.

Kesan pertama saya, dia pasti penulis produktif. Lalu, saya mengunjungi situs pribadinya yang beralamat di http://www.damiendematra.com. Saya makin terpukau. Di bagian ‘About Me‘, tertulis:

Damien Dematra adalah seorang novelis, penulis skenario, sutradara, produser, fotografer internasional, dan pelukis. Ia telah menulis 62 buah novel dalam bahasa Inggris dan Indonesia, 57 skenario film dan TV series, dan memproduksi 28 film dalam berbagai genre, di antaranya Obama Anak Menteng. Sebagai fotografer, ia memperoleh dua gelar tertinggi fotografi: Fellowship di bidang Portraiture dan Art Photography dari Master Photographer Association, dan berbagai penghargaan internasional, di antaranya International Master Photographer of the Year. Sebagai pelukis, Damien Dematra telah menghasilkan 365 karya lukis yang diselesaikan dalam waktu 1 tahun.

Saya pun memulai berkenalan dengan Damien Dematra melalui novel “Ternyata Aku Sudah Islam”. Saya pinjam dari seorang kawan yang gemar buku-buku Islam. Bukan pinjam, sebenarnya, karena saya selipkan begitu saja di ransel untuk saya bawa pulang dan baca. Karena saya kasihan melihat kondisi bukunya yang amat mulus, meski pada halaman 36 dilipat oleh kawan saya tersebut. Dan, meminta izinnya pun tadi siang (17/06). Hehehe…

Novel ini terinspirasi dari perjalanan hidup Syekh Fattaah, pimpinan grup musik Debu. Dalam novel, namanya difiksikan menjadi Andrew Parker. Dia hidup dalam keluarga Kristen yang taat. Ibunya seorang aktivis gereja, namun berpikiran terbuka. Sejak kecil, Andrew memiliki ketertarikan tersendiri pada tayangan di televisi yang menampilkan pria bersorban. Saat perayaan Halloween di sekolah, dia meminta izin mamanya untuk mengenakan sorban dengan janggut palsu. Predikat Kostum Terbaik pun disandangnya. Andrew senang bukan main.

Menginjak masa remaja, sekitar tahun 1960-an, Andrew mengikuti wajib militer dan sempat dikirim ke Korea oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai tentara penjaga perdamaian. Sekembalinya ke AS, Andrew menjalin hubungan yang serius dengan aktivis lingkungan hidup bernama Caleen. Selama lima tahun mereka hidup bersama dan berpindah-pindah dari satu negara ke negara lainnya, bahkan ke Australia.

Masalah keuangan membuat hubungan mereka sempat vakum. Si gadis meninggalkannya dan pergi dengan teman hippiesnya. Sementara itu, Andrew kembali ke universitas dan melanjutkan studinya yang tertunda dengan mengambil kelas bahasa-bahasa Timur Tengah.

Takdir mempertemukan Andrew dengan gadis bernama Charlotte yang kelak akan menjadi ibu dari dua anaknya. Kisah cinta mereka yang cukup panjang diceritakan secara mendetail dengan bumbu-bumbu rumah tangga yang beraneka rasa. Lalu, memenuhi panggilan jiwa bertualangnya, Andrew yang telah masuk Islam pun memboyong istri dan kedua anaknya menuju Turki dan Qatar. Di negara yang terakhir itulah, dia ditunjuk menjadi imam masjid oleh kenalan temannya.

Tidak adanya konflik yang begitu membetot, membuat saya tutup-buka-tutup-buka novel ini. Saya akui, penuturan Dematra amatlah lancar. Setting-nya yang berpindah-pindah dengan cepat dengan penjelasan yang padat membuat saya merasa seolah-olah membaca skenario film.

Tidak banyak yang membuat kening berkerut. Logika cerita terjaga tanpa abai pada kecerdasan pembaca. Meskipun Charlotte beberapa kali memanggil Andrew dengan ‘Dave’ tanpa ada penjelasan sebelumnya dari penulis, namun saya pribadi menganggap, “Mungkin ini panggilan sayang dari Charlotte”.

Selain menyodorkan kisah menarik mengenai pencarian Andrew akan Islam dan romantika kehidupannya dengan Charlotte, yang membuat saya lebih tertarik pada novel ini adalah perjalanan Andrew ke berbagai negara. Sayang, penulis lebih fokus pada dramanya daripada mendetailkan keeksotisan negara-negara yang didatangi oleh Andrew. Saya pun berucap, “Sungguh beruntung Andrew yang pada masa mudanya telah berkelana ke mana-mana…”

Ya, ini kan novel drama, bukan novel traveling! πŸ™‚

Advertisements
Posted in: Uncategorized