Second Childhood

Posted on August 10, 2010

2


Judul : Second Childhood: Coba Lagi
Penulis : Morris Gleitzman
Alih Bahasa : Diniarty Pandia
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2005; 144 hlmn

“…Orang kan tidak bisa selalu jadi juara” (hal. 12)

Gelar yang tersemat pada diri seseorang, tak selamanya mengandung kebanggaan. Justru beban berat tersandang di situ. Seperti itulah yang dialami Mark Smalley. Gelar “Murid Teladan” yang ia peroleh di bangku kelulusan sekolah dasar, justru menjadi bayang-bayang yang menyeramkan kala ia masuk sekolah menengah. Boleh jadi ia mampu melahap pelajaran sekolah dasar dengan gampang. Namun, tentu saja, sekolah menengah jauh berbeda, mulai dari pola mengajar guru hingga tingkat kesulitan pelajarannya. Tuntutan dari ayahnya agar ia tetap juara membuat Mark tertekan.

Nilai esai sejarah hanya membuatnya merasa makin goblok. Orang tuanya, Bob dan Joy, hanya perlu tahu dia belajar di sekolah, rajin mengerjakan PR, dan menorehkan prestasi. Tak hanya pada Mark, pada Daryl, anak kedua mereka pun diberlakukan hal sama.

Untunglah ia mendapat kesempatan untuk memperbaiki nilai ketika gurunya memberi tugas karya tulis. Tidak main-main tugas tersebut. “Kau orang terkenal dalam sejarah. Tulislah surat kepada teman atau keluarga yang menceritakan hidupmu” (hal. 25).

Di tengah kebingungan harus memilih tokoh siapa, oleh gurunya, Mark dan teman-teman sekelasnya diajak ke Pameran Kekayaan Nasional. Mark ditemani oleh Pino Abrozetti yang suka ngupil, Annie Upton yang mengaku reinkarnasi Phar Lap – kuda pacu terhebat se-Australia, dan Rufus Wainright yang seringkali mentok di nilai D sekuat apapun dia berusaha.

Melalui Annie, Mark mendapat inspirasi untuk mencari tahu lebih banyak mengenai reinkarnasi. Rufus dan Pino pun terkontaminasi. Kendati awalnya tak percaya, namun mereka akhirnya bersemangat ketika tahu mereka dulu tokoh-tokoh penting dan terkenal dalam sejarah. Siapa saja tokoh penting yang mereinkarnasi dalam diri mereka? Mulai bab 9, satu per satu hal itu terkuak dengan cara yang kocak.

Meskipun mereka adalah reinkarnasi tokoh hebat dalam sejarah, namun tak bisa ditampik jika mereka, Mark terutama, menyesal. Itu setelah dia menyaksikan Mum-nya bersedih karena pohon yang ditanamnya perlahan-lahan mati. “Asap knalpot membunuh mereka. Aku pasti menipu diri sendiri, mengira ada yang bisa tumbuh di sini” (hal. 77). “Siapa pun yang menciptakan mobil,” ia berteriak marah, “seharusnya digantung!” (hal. 77). Itulah awal kesedihan Mark yang berbuntut pada kelanjutan karya tulisnya.

Namun, dari sana petualangan spektakuler – bisa dibilang nekat – yang dilakukan Mark dan kawan-kawannya pun dimulai.

Ini adalah buku kedua dari Morris Gleitzman yang saya baca setelah “Boy Overboard”. Sama-sama berlatar belakang di Australia dan mengangkat tokoh anak-anak, namun dengan tema yang berbeda. Khas Gleitzman yang kocak sekaligus menyentuh hati membuat saya yakin anak-anak akan menyukai buku-bukunya.

Berempati dengan cara tidak berlebih. Berlelucon tanpa melampaui kadar. Itulah Gleitzman.

Advertisements
Posted in: Uncategorized