Dwilogi Padang Bulan

Posted on August 16, 2010

15


Judul : Dwilogi Padang Bulan
Penulis : Andrea Hirata
Penerbit : Bentang
Cetakan : I, Juni 2010
Tebal : xii + 254 hlm; vi + 270 hlm

Andrea is back!

Setelah berhasil memukau pembaca Indonesia dengan tetralogi Laskar Pelangi, Andrea Hirata kembali hadir dengan novel terbarunya, dwilogi Padang Bulan. Novel ini berkonsep unik dengan menghadirkan dua novel dan dua kulit muka pada satu buku, yaitu Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas. Tidak adanya blurb serta font nama penulis yang lebih besar daripada judul, menjadikan novel ini memiliki daya magnet yang kuat bagi pembaca.

Padang Bulan sebagai novel pertama, berisi kisah gadis Melayu pendulang timah yang gemar bahasa Inggris. Maryamah, namanya. Enong, panggilan sayang dari orang tuanya. Pada usia 14 tahun, ayahnya meninggal. Sebagai sulung, Enong merasa bertanggung jawab untuk menafkahi ibu dan tiga adiknya. Ia pun memutuskan berjibaku di lahan tambang.

Kisah Enong berlanjut di novel kedua. Kali ini ia telah menjadi perempuan dewasa, menikah dengan Matarom yang ternyata berkelakuan buruk. Berujung pada perceraian dan sakit hati yang tiada berbilang, Enong tetap optimis melanjutkan hidup. Dengan biaya sendiri, ia ikut kursus bahasa Inggris di kota kabupaten yang jauh dari rumahnya. Tekad yang kuat dengan bubuhan semangat yang ditiupkan ayahnya semasa hidup melalui Kamus Bahasa Inggris Satu Miliar: 1.000.000.000 Kata yang dibelikannya, Enong mampu menunjukkan dirinya sebagai lulusan terbaik kelima.

Kehidupan yang tak sesepoi angin telah menempa jiwa dan fisik Enong menjadi perempuan tangguh.

“Kalau aku susah,” katanya dengan sorot mata yang lucu, “cukuplah kutangisi semalam. Semalam suntuk. Esoknya, aku tak mau lagi menangis. Aku bangun dan tegak kembali!” (Cinta di Dalam Gelas, hal. 42).

Selain berkisah tentang bagaimana seorang perempuan menegakkan martabatnya dengan cara elegen, penulis juga membentangkan hasil riset sosial dan kulturalnya dengan amat memikat. Semisal, kegemaran orang Melayu minum kopi di warung sembari main catur dan ngobrolin politik. Bahkan, penulis sampai mempunyai Buku Besar Peminum Kopi. Entah rekaan atau kenyataan. Terkesan ‘idiiih, lebay’ namun masih dalam koridor yang bisa diterima. Justru di bagian inilah paling banyak mengundang senyum pembaca.

Seakan mengingatkan, penulis pun kembali meramu kelanjutan lika-liku cintanya pada A Ling. Cinta yang tak mati-mati dan berbumbu cemburu buta itu hampir membuat Ikal, sang penulis, meregang nyawa. Tragis parodis.

Sajian lokalitas, kompleksitasan cerita, riset mendalam, serta pembahasaan yang menawan semakin mengukuhkan Andrea Hirata sebagai penulis jenius.

Qui Genus Humanum Ingenio Superavit. Dia yang genius, tiada tara (Cinta di Dalam Gelas, hal. 191).

Advertisements
Posted in: Uncategorized