Misteri Ka’bah

Posted on October 9, 2010

10


Judul : Misteri Ka’bah
Subjudul : Kisah Nyata Kiblat Dunia Sejak Nabi Ibrahim Hingga Sekarang
Penulis : Fathi Fawzi ‘Abd al-Mu’thi
Penerjemah : R. Cecep Lukman Yasin, MA.
Penerbit : Zaman
Cetakan : I, 2010
Tebal : 248 hal.
ISBN : 978-979-024-237-1

Pernahkah Anda mempertanyakan mengapa Ka’bah bentuknya seperti itu: kubus, tanpa ukiran, tanpa kubah? Tahukah Anda bahwa Hajar Aswad pada suatu masa pernah pecah menjadi tiga bagian? Apa sebenarnya kandungan air Zamzam sehingga bisa menjadi obat sekaligus makanan?

Misteri Ka’bah mengungkap lebih dari sekadar tiga pertanyaan di atas. Buku yang diterjemahkan dari naskah bahasa Inggris ‘The Ka’bah’ ini memuat kisah nyata kiblat dunia sejak Nabi Ibrahim hingga saat ini. Dibuka dengan perjalanan Ibrahim, Hajar, dan Ismail menuju lembah yang diberkati. Lembah yang sangat sepi dan tandus, namun di situlah reruntuhan Rumah Tua (Ka’bah) berada. Ibrahim pun kembali ke Kanaan. Pada istri dan putranya yang ia tinggalkan di situ, Ibrahim berujar, “Aku tidak akan melakukan apa pun kecuali setelah Tuhan memerintahkannya kepadaku” (hal. 15).

Hajar dan bayinya yang kehausan, diberikan air minum oleh Allah melalui hentakan kaki Malaikat Jibril. Muncullah Zamzam yang sekaligus menandai adanya kehidupan. Para kafilah pun berdatangan, diawali oleh Banu Jurhum. Komunitas kecil itu pun berkembang seiring kedatangan kafilah lainnya. Ibrahim kembali datang dari Syiria ke Makkah. Keimanannya sempat diuji untuk mengorbankan Ismail. Setelah mampu melampaui ujian itu, perintah berikutnya datang, yakni membangun kembali Rumah Allah. Mengajak putranya, Ismail, yang telah tumbuh dewasa, mereka pun mulai mengumpulkan batu dari berbagai tempat; dari bukit Hira, Qubays, dan tempat-tempat lainnya.

Pembangunan Ka’bah usai, turun wahyu agar Nabi Ibrahim menyeru manusia untuk mengerjakan haji. Allah pun mengutus Jibril untuk mengajari Ibrahim tata cara ibadah yang termasuk Rukun Islam kelima itu.

Setelah Hajar meninggal, disusul kemudian oleh Ibrahim, maka tugas penyebaran agama Allah sekaligus penjagaan Ka’bah dan Tanah Suci terlimpahkan pada Ismail.

Episode kisruh dan damai silih berganti pun mulai membentang selepas Ismail menyempurnakan tugasnya. Suku Jurhum yang ambisius terhadap kekuasaan merasa berhak memimpin Makkah, termasuk Ka’bah di dalamnya. Kezaliman yang ditunjukkan Suku Jurhum memantik api kebencian dari Suku Amaliqah yang berujung pada pecahnya konflik antara keduanya. Sekeliling Ka’bah menjadi medan pertumpahan darah. Masa kepemimpinan Suku Jurhum merupakan periode terburuk dalam sejarah Makkah.

Tidak belajar pada peristiwa yang menimpa kaum durhaka terdahulu, Suku Jurhum pun diazab Allah dengan berbagai penyakit, kiriman semut yang mengerubungi sekujur badan, dan pada akhirnya banjir yang membinasakan mereka. Tugas pemeliharaan Ka’bah pun dikembalikan kepada keturunan Ismail.

Waktu berjalan, Ka’bah pun jadi sasaran penghancuran oleh Raja Tubba I dari Yaman. Kekalahan yang dialami pasukannya tidak menghentikan ambisi para Tubba Yaman lainnya untuk menguasai Ka’bah. Seorang Tubba yang termakan dusta orang-orang Hudzail bahwa Ka’bah menyimpan harta, emas, dan perhiasan pun hampir menyerang bangunan tua itu. Namun, Allah membukakan pintu hatinya.

Ketika Islam datang yang dibawa oleh Muhammad saw., Makkah dan Ka’bah menjadi medan pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Hal ini pun berlangsung hingga masa kekhalifahan. Kini, di bawah pemerintahan Arab Saudi, Ka’bah dan Masjidil Haram serta kota Makkah menjadi lebih terawat dan kualitas pelayanan bagi jamaah yang menziarahinya, baik dalam rangka umrah ataupun haji, terus meningkat.

Periode demi periode, peradaban tumbuh dan tumbang, kepemimpinan silih berganti, perang dan damai, konflik dan resolusi, itulah yang mewarnai sejarah Ka’bah.

Buku yang dituturkan dengan gaya naratif ini begitu runtut, terutama dari segi periodesasi. Fakta sejarah dan kehadiran tokoh-tokoh yang diceritakan dengan hidup membuat buku ini tidak kering dari segi penyajian informasi. Malah, begitu masuk ke bagian tengah, saya mengebut membacanya karena lintasan kisah Ka’bah yang berlangsung cukup cepat dan tidak terlalu didetilkan pada satu masa saja. Hidangan peristiwa yang tidak melulu menyamankan hati namun juga membuat geram akibat perilaku para pelaku sejarahnya, membuat saya merindukan Ka’bah. Saya tak mampu membayangkan rasanya jika suatu saat nanti benar-benar berdiri di hadapan Ka’bah!

Sebuah buku yang informatif, mengasah logika, sekaligus menebalkan kerinduan pada Ka’bah, bangunan tua yang akan terus terjaga. Dukungan foto-foto Ka’bah di dalamnya turut membangun kerangka rasa di benak pembaca.

Sekiranya, ini buku ‘pengantar’ yang bagus bagi jamaah haji yang tak sabar hendak bertemu Tanah Suci.

Advertisements
Posted in: Uncategorized