Dengarkan Hatimu Berbisik

Posted on October 20, 2010

2


Judul : Dengarkan Hatimu Berbisik
Penulis : Muhammad Kuswanda
Penerbit : Zaman
Cetakan : I, 2010
Tebal : 182 hlm.
ISBN : 978-979-024-253-1

…Tuhan bekerja secara tepat dan dengan cara-Nya. Ia bekerja di luar nalar manusia (hal. 71)

Seringkali kita mengalami kejadian yang membuat kita berdecak cepat, “Wah, kebetulan sekali!” Atau kita berhadapan pada suatu kondisi yang cukup mengherankan kita, “Kok, bisa ya?” Lalu, kita pun mencoba mengurai benang kusut peristiwa terdahulu yang kita alami, kemudian berseru, “Aha! Inilah cara Tuhan bekerja!”

Tak jarang kita mengucapkan kata ‘kebetulan’ saat berusaha menjelaskan sesuatu yang tak terduga pada orang lain. Misalnya, saat berada di dalam bis dan dompet Anda dicopet. Lalu, ada seorang ibu yang berbaik hati menolong Anda dengan membayarkan ongkos bis. Pada orang di rumah, Anda bercerita, “Kebetulan ada ibu kantoran yang blablabla…” Padahal, siapa yang mengira, pertolongan yang Anda peroleh tersebut diakibatkan perbuatan baik Anda karena telah memberikan sekeping receh pada pengemis sebelum naik bis, misalnya. Jadi, masih percayakah Anda pada ‘kebetulan’?

Bagi Muhammad Kuswanda, ia mencoba mematahkan persepsi ‘kebetulan’ tersebut. Melalui 63 cerita aneh tapi nyata yang dialaminya, ia menghadirkan kisah-kisah pendek yang meyakinkan pembaca bahwa hidup ini sudah ada yang mengatur. Bahwa setiap keinginan manusia didengar Tuhan dan Dia akan memberi jalan penyelesaiannya sesuai dengan kehendak-Nya (hal. 63).

Mantan Dekan Fakultas Kehutanan IPB ini, misalnya, pernah menolong Budi, keponakan pembantu rumah tangganya yang hendak praktik lapangan. Padahal tanggal gajian masih lama, ia berusaha memberikan dengan ikhlas sejumlah uang gajinya sebagai pegawai negeri. Keesokan harinya, atasannya menugasi dia untuk menjadi teman dan pemandu bagi tamu asing dari negara tetangga selama seminggu. Sebelum jam kerja usai, tamu tersebut menyerahkan amplop sembari berkata, “Ini bekal untuk keluargamu selama kamu mengantar saya.” Saat dibuka di rumah, dia kaget karena jumlah uang di dalam amplop tersebut lima kali lipat dari uang yang ia pinjamkan kepada Budi. (Uang untuk Budi, hal. 13)

Lelaki yang pernah menuntut ilmu di University of Washington, Seatle, ini juga pernah mengalami peristiwa yang menyentak hatinya. Sebagai lelaki muda yang baru memiliki satu anak perempuan, ia pernah berpikir untuk selingkuh. Berfantasi liar karena melihat penampilan ‘menantang’ seorang ibu muda di tempat kursus anaknya. Pulang dari tempat kursus, anak perempuannya tepeleset. Ujung tumit sepatu anaknya melukai alat kelaminnya, tepat di bagian bibir kecil (labia minora) dan mengeluarkan banyak darah. Setelah dibawa ke rumah sakit kemudian dipersilakan merawat di rumah, sambil mengipasi alat kelamin anak perempuannya itu, kalbu Kuswanda berbisik, “Lihatlah alat kelamin anakmu ini kalau engkau memang sangat ingin melihat alat kelamin si ibu cantik yang kau temui tadi.” (Berpikir Serong, hal. 38)

Selain dua cerita yang makin menghaluskan mata batinnya di atas, Kuswanda juga berkali-kali mengalami peristiwa yang bersifat kontak batin, semisal yang termaktub dalam: Bel Pintu Gerbang, Pintu yang Terkunci, Cucu di Depan Pintu, Tempat Parkir, Hujan di Sebuah Senja, Teknisi Komputer, Dini Hari di Wangon, Bertemu Menteri Kehutanan, Papan Jalan untuk Cucu, dan Obat Flu.

Tak melulu kejadian-kejadian yang berhubungan dengan sesama manusia, dalam Bab 6 buku ini juga dikisahkan cerita-cerita penulis yang ‘berkomunikasi’ dengan tumbuhan dan binatang. Misalnya: dalam cerita Dako Pulang, yakni tentang anjing piaraan penulis, yang kabur dari klinik. Penulis berusaha mencarinya di sekeliling Kebun Binatang Ragunan. Dua minggu kemudian, dengan kondisi kurus dan dekil, Dako pun pulang. Penulis terharu sambil memeluk anjingnya.

Penulis juga jadi saksi pohon sawonya yang bertunas kembali dan berbuah lebat setelah satu tahun tanpa daun alias mengering. Penulis berkata pada pohon sawo tersebut, “Sebentar lagi musim hujan tiba, ambillah air sebanyak-banyaknya dengan akarmu. Tumbuhlah engkau kembali.” (Bangkitnya Pohon Sawo, hal. 171) Dan, benar. Beberapa tahun kemudian, penulis menyaksikan keajaiban itu.

Kunci dari semua kisah yang dialaminya tersebut, Pak Kuswanda yang kini berusia 77 tahun, menuturkan:

Ikutilah petunjuk rasa bagaimanapun kecilnya. Dengan demikian engkau akan lebih peka terhadap bimbingan-Nya (hal. 28)… Namun, kita mesti menyerahkan diri sepenuhnya kepada kebesaran Allah dengan selalu berlaku sabar, tawakal, dan ikhlas (hal. 23)… Manusia dapat berkomunikasi dengan tanaman dan binatang sebagai makhluk Allah melalui sikap berserah diri kepada kekuasaan Allah Yang Mahakuasa (hal. 174).

Mungkin bagi sebagian orang, 63 cerita nyata yang disuguhkan oleh penulis ini terkesan biasa, gampang ditemui di sekitar bahkan pernah dialami sendiri. Namun, penulis setidaknya satu langkah lebih maju dengan menuliskan dan menunjukkan pada pembaca bahwa: Ini bukan ‘kebetulan’. Selalu ada tangan Tuhan di balik setiap peristiwa.

Lewat kisah-kisah pendeknya, penulis menyiratkan pesan bahwa terlalu banyak hal sepele yang kita abaikan dalam hidup ini. Padahal sesepele-sepelenya hal tersebut justru tersimpan hikmah-hikmah tersembunyi. Hanya dengan kehalusan hati dan kesediaan untuk merenunginya, maka di sanalah kebesaran dan kemahakuasaan Tuhan bertahta.

Buku ini bercitarasa unik, sederhana, menyentak keangkuhan nalar, dan melembutkan rasa kemanusiaan kita. Silakan Anda mencicipinya hingga saya mendengar gumaman, “Oh… Iya, ya!”

Advertisements
Posted in: Uncategorized