Kuliah Gratis ke Luar Negeri, Mau? (2)

Posted on January 7, 2011

11


Judul : Kuliah Gratis ke Luar Negeri, Mau? (2)
Penyusun : Dian Rusdi & Imazahra
Penerbit : Lingkar Pena Publishing House
Cetakan : I, Desember 2010
Tebal : 232 halaman

Kuliah di luar negeri kerap kali menjadi dambaan para penghaus ilmu. Hobi mencicipi budaya baru, ingin memperoleh kualitas pendidikan yang lebih baik, terdorong untuk selalu meng-upgrade diri, dan ambisi untuk menaklukkan tantangan intelektualitas adalah beberapa alasan mereka untuk belajar ke luar negeri. Kendati untuk menggapai itu dibutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit, baik dari segi waktu, tenaga, terlebih lagi biaya. Aspek terakhir inilah yang sering jadi batu sandangan. Apalagi tercuat fakta, biaya kuliah satu tahun sebagai international student di negara-negara Eropa, saat ini berkisar Rp500 hingga Rp700 juta rupiah! Lalu, bagaimana cara menyiasati kendala tersebut? Jawabannya sederhana: burulah beasiswa!

Setiap hari ada ratusan beasiswa mancanegara yang ditawarkan. Jenis dan sifat beasiswanya pun beragam. Ada beasiswa penuh, beasiswa parsial, master/doctoral program by research, serta master/doctoral program by coursework. Perbedaan masing-masing beasiswa dijabarkan dalam buku “Kuliah Gratis ke Luar Negeri, Mau? (2).”

Selain menjelaskan beda TOEFL dan IELTS, buku yang disusun dari pengalaman para peraih beasiswa mancanegara ini juga membeberkan tips dan trik sukses meraih beasiswa. Mulai dari langkah awal yang harus ditempuh oleh pencari beasiswa, yakni mengumpulkan informasi, hingga mengisi aplikasi, menulis esai, dan menghadapi wawancara.

Acap kali para pelamar beasiswa lulus seleksi administrasi, namun gagal pada tahap penentuan, yaitu wawancara. Penyebabnya bisa jadi pada ketidakjelasan studi yang akan diambil. Kemungkinan lainnya, si pelamar kurang mampu menjelaskan pentingnya studi yang hendak ditempuh terkait dengan latar belakang pekerjaannya. Suatu keniscayaan juga bahwa faktor kepercayaan diri turut berpengaruh selama wawancara berlangsung.

Meski demikian, terlalu percaya diri bukan jaminan diterimanya lamaran beasiswa seseorang. Sebagaimana dikisahkan Wikan Danar Sunindyo, salah satu kontributor dalam buku ini. Ia memang mendapatkan admission letter dari TU Delft sebagai salah satu syarat mendapatkan beasiswa STUNED. Tapi, hasil TOEFL-nya sedikit di bawah batas yang disyaratkan. Ia bersikeras untuk tetap melamar dan merasa yakin bahwa latar belakang sekolah dan pekerjaannya sebagai dosen menjadi jaminan ia akan mendapat beasiswa dengan mudah. Kepercayaan dirinya yang berlebih ternyata tidak membuahkan hasil. Panggilan dari NEC sebagai penyedia beasiswa pun tak kunjung ia dapatkan.

Lain lagi kisah Heru Susetyo. Master of International Human Rights Law di Northwestern Law School, Chicago, yang kini sedang menyelesaikan studi doktornya di Mahidol University, Bangkok, ini memiliki pengalaman yang cukup mencengangkan dalam dunia perbeasiswaan. Dalam kurun waktu delapan tahun (2002-2010), ia mendapatkan enam belas beasiswa. Dua beasiswa studi lanjut, satu beasiswa riset, lima beasiswa training, enam beasiswa seminar, satu beasiswa internship, dan satu beasiswa pertukaran aktivis. Semuanya di luar negeri, meliputi: Amerika, Eropa, Asia, Oceania, kecuali Afrika.

Pengalaman langsung dari para kontributor-lah yang membuat buku ini memiliki nilai lebih. Ditulis dengan semangat berbagi, buku ini tidak hanya memaparkan secara detail dan personal suka duka memburu hingga berhasil meraih beasiswa. Informasi penting berupa tautan juga diselipkan agar pembaca bisa mencari tahu langsung ke situs pemberi beasiswa.

Bagi yang tertarik melanjutkan pendidikan ke luar negeri, buku ini layak dijadikan panduan sekunder. Informasinya terbilang komplit dan beragam karena tidak hanya menyajikan beasiswa ke negara-negara Barat saja, namun bahkan beasiswa ke Arab Saudi. Kisah-kisah konyol dan seru para kontributor di bab akhir buku menjadi sajian penutup yang segar. Menarik dan direkomendasikan.

Advertisements
Posted in: Uncategorized