Memburu Fatamorgana

Posted on March 22, 2011

3


Judul : Memburu Fatamorgana
Penulis : Helene Koloway
Penyunting : Tantrina Dwi Aprianita
Penerbit : Imania
Cetakan : I, Januari 2011
Tebal : 326 hlm.

“Would you cheer up my life like flower to the world? Chloe, be my girl.” (hlm. 243)

Kalimat dalam novel ‘Memburu Fatamorgana’ itulah yang saya kutip dan sedikit modifikasi untuk menyatakan cinta saya pada seorang gadis beberapa hari yang lalu. Kalimat yang saya tuliskan di space kosong halaman pertama sebuah novel dan mampu membuat saya sendiri tidak percaya dengan apa yang telah saya ungkapkan. What a love! What a book! What a day!

Ini salah satu kekuatan sebuah buku. Mampu menginspirasi dan memancing alam bawah sadar pembacanya untuk ikut terlibat dan jalinan cerita. Sebagaimana novel yang terinspirasi dari kisah nyata ini.

Chloe yang terbiasa manja, dilayani pembantu, dan dipenuhi hasrat hedonisnya tertantang merasakan dunia kerja sesungguhnya. Posisinya yang nyaman sebagai manajer keuangan di sebuah bank, dirasakannya sebagai ‘pesanan’ orang tua yang kebetulan menjadi salah satu nasabah terbesar.

Sahabat lamanya, Entin, muncul di jejaring Facebook dan menawarkan kerja yang lebih menantang. Tidak main-main, langsung di luar negeri, tepatnya Abu Dhabi. Diiringi patah hati, reputasi kerja yang kurang mumpuni, ia pun menerima. Orang tuanya tidak keberatan.

Di negeri kaya minyak dan sedang sibuk membangun burj (menara) itulah, Chloe berjibaku dengan pekerjaan baru. Berkelindan dengan atmosfer baru, budaya yang berbeda, karakter masyarakat yang modern di balik fashion tradisional, dan yang paling menarik adalah perkawanannya dengan TKW selain Entin, yaitu Siti. Ia menemukan makna solidaritas dan perjuangan senasib sepenanggungan sesama wanita perantau di negeri fatamorgana itu.

Gegar budaya tak terhindarkan dari kehidupan Chloe. Namun, itulah yang membuatnya makin seteguh karang. Romansa ekspatriat di gedung perkantoran, aroma pembelaan atas tindakan tak senonoh yang dialami Siti, dan pendar-pendar materialisme yang terpancar kuat dari kehidupan istri para syaikh di mana Chloe sempat bekerja, tak kunjung membuat saya betah memamah novel ini. Bahkan, hati saya sempat bergerimis saat tiba di halaman 203.

Ah, orang-orang seperti Siti memang sasaran empuk untuk diperlakukan tidak senonoh dan diperas. Sepertinya sudah ada anggapan salah bahwa mereka yang bekerja di luar negeri, pasti duitnya banyak, padahal kenyataan itu tidak sepenuhnya benar. Kasihan benar nasib Siti. Sambil membatin, pandanganku sampai ke sepatunya yang hampir bolong. Dia merangkulku dan tersenyum. Raut bahagia terpancar jelas dari wajahnya. Aku? Hatiku sangat bahagia. Aku sudah lupa dengan tas impian yang gagal kudapatkan.

Tuturan yang lancar dan ringan dengan bumbu humor yang segar dari percakapan antartokoh membuat saya cepat melahap novel ini. Meski tidak menafikan pada bagian-bagian tertentu, deskripsi latar tempat-tempat indah di Abu Dhabi tidak terekat kuat lemnya dengan jalinan cerita. Sehingga, kesan tempelan itu ada dan membuat saya merasa ini seperti novel perjalanan. Bisa jadi karena penulisnya dua orang sehingga belum benar-benar padu gaya berceritanya. Who knows!

Secara keseluruhan, saya mengapresiasi baik terhadap debut Mbak Helene dan Mbak Wuwun ini. Baru kali ini saya membaca novel berlatar Abu Dhabi yang eksotis dengan bangunan-bangunan menjulang lebai – seperti yang dikatakan Trinity, penulis ‘The Naked Traveler’. Pengalaman hidup enam tahun penulisnya telah mampu membuhulkan ruh bagi novel ini dengan erat.

Mbak Helene dan Mbak Wuwun, saya nantikan karya inspiratif, kaya, dan kompleks Anda berikutnya. 🙂

Advertisements
Posted in: Uncategorized