Mengurai Detak “Anak Arloji”

Posted on March 31, 2011

6


Judul: Anak Arloji

Penulis: Kurnia Effendi

Penyunting : Endah Sulwesi
Penerbit : Serambi
Tebal : 240 hlm.
Cetakan : I, Maret 2011

Apa yang membuat cerpen-cerpen Kef – panggilan Kurnia Effendi – terasa istimewa di benak saya? Hingga saya tak ubahnya pelari cross country, tersebab makin mendekati cerpen terakhir, ritme membaca saya makin cepat. Ujungnya, saya puas, merasa meraih jawara pertama. Begitulah Anak Arloji – himpunan empat belas cerpen Kef – memenangkan hati pembacanya.

Kef juga seorang koki yang handal. Cerpen “Noriyu” menjadi hidangan pembukanya yang menerbitkan selera. Cerpen yang judulnya diambil dari akronim Nova Riyanti Yusuf – dokter, penulis, sekaligus politikus – itu berbahan dasar emosi yang gurih dan memikat lidah jiwa. Bagaimana seseorang berbincang dengan the other dalam dirinya atau lebih dikenal dengan istilah alter ego. Gambaran segar fisik Noriyu juga mampu membuat jantung pembaca berkelamin jantan berdesir pelan. Kendati pada akhirnya pembaca tak urung iba hati pada perempuan yang “buah dadanya cukup memprihatinkan: tak melampaui besar buah apel malang” itu.

Dalam cerpen “Aromawar”, terasa sekali embusan aroma erotik yang ditiupkan pada tokoh-tokohnya. Meski sempat bergidik jijik, namun saya menyadari bahwa ledakan hasrat sungguh bisa menyumpal rasa jijik itu. Suasana dark romantic¬-nya pun mengingatkan saya pada sampul buku “The Phantom of the Opera” yang juga telah diterbitkan oleh Serambi.

Sementara itu, dalam “Pertaruhan”, adegan-adegan menantang nyali antara dua pemuda, Iban dan Arya, membuat saya ikut bersorak, “gila!” bersama tokoh-tokoh non-utama lainnya. Bahwa kekuatan cinta, tepatnya, memperebutkan hati gadis impian, mampu membuat dua orang bertindak di luar kelaziman, meski itu masih masuk akal. Bukankah cinta seringkali mengejutkan anak Adam karena sanggup melampaui keterbatasannya dengan cara yang tak ia sangka? Kef laksana sutradara film aksi mengarahkan para pemainnya dengan tangkas.

Cerpen “Laut Lepas Kita Pergi” membidik sepenggal kisah tragedi anak dan ayah berlatar belakang pasca Tsunami Aceh 2004. Bahwa lelaki tangguh bermata elang yang ia panggil ayah ternyata memiliki hati serapuh kulit ari. Memang, Tsunami telah memisahkan dirinya dengan sang istri dan dua anak. Kendati demikian, ia tak kuasa pergi jauh untuk mengubur kenangan pedih itu dalam-dalam. Dan, lewat Mustafa, anak laki-lakinya yang ia pompa dengan kalimat bertuah, “Inilah anak Ayah yang pemberani” “Aku percaya, kamu bukan anak cengeng” “Aku percaya, kamu akan sanggup menghadapi hari depanmu sendiri”, itulah kisah dalam cerpen ini diceritakan. Ya, terkadang seseorang harus berada dalam posisi ‘sendiri’ untuk mengukur semampu apa dirinya. Dalam cerpen ini pula saya berefleksi atas hubungan saya dengan bapak yang menyuruh begini begitu namun ia sendiri tidak melaksanakan apa yang ia ucapkan. Ironis.

Kembali saya bergidik dalam cerpen “Kuku Kelingking”. Penutup yang tak biasa dan membuat saya menggigit pelan keliling saya sendiri, tanda sayang (?). Begitu pula kisah yang termaktub dalam “Tetes Hujan Menjadi Abu”. Kecurigaan saya di awal yang berkelindan dengan mitos hujan menjadi abu pertanda kematian membuat saya kelabakan di ekor ceritanya. Hah! Begitulah. Saya tercengang. Kef pencerita yang mumpuni!

Dalam “Panggilan Sasha” dan “Sepanjang Braga”, latar belakang Kef yang merupakan lulusan Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini terceriterkan dengan baik. Lukisan, studio gambar, material, warna, pameran, sketsa, autocad, ikut mendukung cerita yang berkisar antara kasih sayang ibu pada anaknya dan kisah cinta lama yang tersingkap kembali.
Kekesalan Aditya pada ayahnya dalam “Kamar Anjing” mau tak mau mengail memori kelam saya yang pernah kesal berlarut-larut pada ayah. Itu saat saya masih ABG labil. Perasaan tidak diperhatikan, marah yang dipendam karena komunikasi yang kurang, hingga tumbuh bibit-bibit pemberontak, berujung pada emosi yang menyupernova. Ledakan emosi tokoh Adit benar-benar berpendar di langit-langit jiwa saya.

Lain lagi dengan cerpen “Wangi Kaki Ibu”. Judulnya saja telah membuat saya siaga untuk tidak menggerimiskan mata. Namun, apa hendak dikata. Tuturan sang Ibu di ujung cerita memaksa saya melakukannya. “Ibu sudah memaafkan kamu sebelum kamu mengetuk pintu. Sekarang kamu ambil air wudu, dan segera berangkat salat Ied.” Jikalau ibu saya masih hidup, ingin rasanya memeluk kakinya segera dan meminta maaf atas kebandelan yang telah saya derakan pada beliau.

Lalu, “Anak Arloji”? Cerpen di posisi dua belas ini membuat saya mau tak mau menduga-duga kenapa ia dijadikan judul utama buku ini. Ya, karena buku ini merupakan ‘hadiah’ atas setengah abad usia Kef. Arloji menjadi simbol yang tepat atas waktu yang terus bergulir, usia yang terus merangkak hingga akhirnya terbenam. Terlebih lagi, cerita dalam “Anak Arloji” ini memberikan suspense yang juga amat lazim kita temui dalam hidup ini. Meski terkadang kita abai. Maka, pantaslah kita berterima kasih pada penulis seperti Kef yang telah menyublimkan kejutan-kejutan ‘kecil nan biasa’ itu sehingga kita kembali dipaku dan segera beruluk syukur.

Bagaimana dengan “La Tifa”, “Penggali Makam”, dan “Jalan Teduh Menuju Rumah”? Silakan Anda resapi sendiri.

Advertisements
Posted in: Uncategorized