Keluarga Perempuan Rasulullah

Posted on July 26, 2011

3


Judul: Keluarga Perempuan Rasulullah

Sub-judul : Biografi Para Ibu, Istri, dan Putri Nabi

Penulis: Fathi Fawzi & Widada Sakakini

Penerjemah : Khalifurrahman Fath & Taufik Damas

Penerbit : Zaman

Tebal : 432 hlm.

Cetakan : I, 2011

ISBN : 978-979-024-264-7

 

Behind the great man, standing a great woman.

Tak bisa disangkal, di balik kehebatan seorang tokoh atau figur publik, ada perempuan hebat di situ. Tidak jauh-jauh. Presiden pertama Indonesia, Soekarno, adalah satu sosok tangguh yang dikelilingi oleh para perempuan kuat, istri-istrinya. Sepanjang hidupnya, setidaknya tercatat ada sembilan istri Soekarno, antara lain: Siti Utari Tjokroaminoto, Inggit Garnasih, Fatmawati, Hartini, Kartini Manopo, Ratna Sari Dewi, Haryati,Yurike Sanger, dan Heldy Djafar. Para istri inilah yang mewarnai perjalanan Soekarno sekaligus perjalanan bangsa Indonesia.

Bagaimana dengan Rasulullah, tokoh dunia yang hidup jauh sebelum Soekarno? Bukan sekadar bahasan mengenai istri-istri Rasulullah saja. Buku ini mencoba untuk lebih komprehensif dengan memasukkan kisah-kisah para ibu di awal kelahiran nabi juga kisah putri-putrinya.

Selain Aminah bint Wahab sebagai ibu kandung, Rasulullah ternyata memiliki lima ibu lain, seperti: Ummu Aiman (perawat), Halimah al-Sa’diyah (ibu asuh), Fatimah bint Asad (istri Abu Thalib), Syifa bint Auf (bidan Rasulullah), dan Tsuaibah (ibu susuan nabi). Di antara enam ibunda ini, ada yang ditakdirkan meninggal dunia di masa Rasulullah hidup dan ada yang berusia lebih panjang hingga masa setelah Rasulullah wafat (hlm. 10).

Bagian kedua buku ini mengupas kehidupan dan peran istri-istri Rasulullah. Bagaimana misalnya Khadijah, seorang janda kaya, jatuh hati pada kepribadian Muhammad. Ia yang yakin bahwa suaminya adalah utusan Allah ikut menenangkan Muhammad sebegitu kembali dari Gua Hira dalam kondisi cemas menggigil. Tubuh yang bergetar karena baru saja menerima wahyu Tuhan. Keyakinannya sebagai pendamping Muhammad tersebut menjadikan ia sebagai wanita, bahkan manusia pertama yang hatinya disinari cahaya iman.

Sepeninggal Khadijah, Rasulullah dirundung duka mendalam. Menyadari bahwa nabi mereka adalah manusia biasa dengan beban dakwah yang kian berat, maka para sahabat pun mencoba meringankan dengan jalan menikahkan Rasulullah. Aisyah bint Abu Bakar yang masih berusia amat muda coba ditawarkan pada beliau. Namun, dengan pertimbangan matang dan atas saran Khawlah bint al-Hakim, Rasulullah pun akhirnya meminang Sawdah bint Zam’ah, seorang janda yang usianya tak lagi muda, berparas tidak begitu menarik, namun ia mukmin yang taat.

Biduk rumah tangganya dengan istri kedua pun sempat diliputi cemburu tatkala Aisyah bint Abu Bakar dan Hafshah bint Umar ibn al-Khathtab hadir sebagai istri ketiga dan keempat nabi. Namun, dengan kebesaran hatinya, Sawdah mau menerima kehadiran dua istri nabi lainnya. Ia menolak talak Rasulullah dengan berkata, “Wahai Rasulullah, aku tidak bisa menjadi istri bagimu seperti Aisyah, tetapi aku tak mau melepaskan kemuliaan sebagai istrimu. Karenanya, biarlah aku tetap menjadi istrimu. Aku sudah merasa cukup bahagia bisa berada di dekatmu. Aku akan ikut mencintai siapa pun yang engkau cintai. Dan aku akan ikut bahagia jika engkau bahagia.” (hlm. 231)

Bahkan istri Rasulullah pun romantis sekali, kan? 🙂

Mungkin di antara sebelas istri Rasulullah, kita lebih akrab dengan istri yang ketiga, yakni Aisyah bint al-Shiddiq. Selain karena menjadi istri Rasulullah yang paling muda – sejarawan menyimpulkan bahwa ia dinikahi di atas usia sepuluh tahun – ia juga dikenal luas kecerdasan, kecantikan, dan hafalan hadisnya yang luar biasa. Di awal pernikahan mereka, Aisyah memang masih menunjukkan sifat manja dan kekanak-kanakannya. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ia semakin matang dan berilmu dalam. Bahkan, di kalangan sahabat, Aisyah dan Abu Hurairah dinobatkan sebagai perawi hadis terbanyak. Namun, Aisyah masih lebih unggul terutama dalam hadis-hadis domestik.

Di bagian ketiga buku ini, dikisahkan tentang putri-putri nabi. Selama membina rumah tangga, Rasulullah dikaruniai empat anak perempuan, yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, dan Fatimah al-Zahra. Tentu, Allah Swt. punya alasan tersendiri mengapa anak laki-laki Rasulullah meninggal di usia dini sehingga yang bertahan hanyalah anak-anak perempuannya. Bisa jadi ini sebagai cara untuk mengubah pandangan warga Arab kala itu yang menganggap bayi perempuan tidak berguna sehingga harus dikubur hidup-hidup.

Buku yang dituliskan dengan narasi sastra ini memberikan gambaran tentang perempuan Arab dan Islam yang bisa menjadi pembangkit semangat kaum wanita, pelipur lara, sekaligus menjadikannya sebagai teladan. Selain itu, melalui buku ini pembaca juga akan mendapatkan perspektif mengenai isu poligami dan emansipasi perempuan yang sering dijadikan titik serang oleh kaum pembenci Islam.

Sebuah buku yang layak dibaca oleh siapa pun, khususnya kaum perempuan yang menghargai dirinya.

Advertisements
Posted in: Uncategorized