Meraba Indonesia

Posted on August 15, 2011

31


Judul: Meraba Indonesia

Penulis: Ahmad Yunus

Fotografer : Farid Gaban dan Ahmad Yunus

Penerbit : Serambi

Cetakan : Juli, 2011

Tebal : 372 hlm.

ISBN : 978-979-024-285-2

Harga : Rp 75.000,00

 

Sejak buku ini diworo-woro oleh Serambi di Facebook, saya bertekad memilikinya. Saya pun mencari tahu penulis dan ekspedisi yang ia lakukan bersama wartawan senior, Farid Gaban. Sang penulis menerima ajakan pertemanan saya. Gayung pun bersambut. Seorang narablog Multiply, Mbak Evia (enkoos.multiply.com), ternyata lebih dahulu mempublis buku bersampul ‘cadas’ ini. Coba perhatikan! Sebuah sepeda motor win 100 cc bekas yang dimodifikasi dengan sepatu boots kumal berlumpur. Aura petualangnya terasa sekali, kan?

Pun, ketika Ahmad Yunus dinominasikan oleh Yahoo! sebagai salah satu dari finalis Indonesia17, saya tak segan-segan memilihnya. Ini tentu subjektif. Saya tidak menampiknya. Karena selain sama-sama suka bertualang, saya juga menyukai gaya penulisan jurnalisme sastrawinya dalam buku ini. Lancar, lugas, akrab, dan informatif. Pada bagian tertentu, syaraf tawa saya digelitik. Jujur, Ahmad Yunus mewakili sosok jurnalis idaman saya.

Melalui Ekspedisi Zamrud Khatulistiwa, Ahmad Yunus dan Farid Gaban melakukan ekspedisi keliling nusantara selama hampir satu tahun. Hasilnya: 10.000 frame foto, 70 jam materi video, dan setumpuk catatan perjalanan. Buku ini adalah hasil penulisan ulang dari catatan perjalanan yang telah diunggah secara berkala oleh penulis di situs http://www.zamrud-khatulistiwa.or.id. Selain itu, pembaca juga dihadiahi 54 foto full color yang impresif. Selipan kepingan DVD film dokumenter ekspedisi ini juga memperkaya pengalaman inderawi pembaca.

Dari Jakarta, kedua jurnalis ini memulai perjalanannya. Menyeberangi Selat Sunda menuju Sumatera. Mereka sempat singgah di Enggano, pulau terluar Indonesia yang masuk wilayah Propinsi Bengkulu. Di pulau ini, ironi terpampang di depan mata. Rumah sakit justru dibangun di tengah hutan yang jauh dari pemukiman penduduk. Bandara Enggano yang keberadaan akan sangat bermanfaat bagi mobilitas masyarakat juga dihentikan pembangunannya.

Di Mentawai yang unik dan lekat dengan tradisi pembuatan tato, keduanya harus menelan pil pahit. Tepatnya, di Muara Siberut, sampan yang mereka tumpangi karam. Tak ayal lagi, laptop, kamera, dan hp mereka rusak tercemplung ke air laut.

Namun, bukan petualang namanya jika tidak bermental baja. Ekspedisi pun terus dilanjutkan. Kendati untuk menyeberang ke Pelabuhan Padang, duit mereka tidak cukup sehingga harus merayu kapten kapal. Bayangkan, hanya tersisa Rp50 ribu. Itu pun telah dibelanjakan sebagian untuk makan beras, telur, cabai, dan ikan asin. Alih-alih memelaskan diri, justru syukur yang terlontarkan karena mereka masih selamat dan diberi kehidupan. Itu mahal, Jenderal!

Sewaktu melewati Selat Malaka, mereka bertemu bajak laut. Enyahkan imajinasi Anda tentang penampilan bajak laut seperti di film Pirates of Carribean atau kartun Peterpan. Bajak laut yang suka memalak kapal-kapal kecil pengangkut sayur dan komoditi lokal itu ternyata adalah para polisi laut Indonesia. Empat kali dicegat patroli polisi, empat kali pula nakhoda kapal dipalak. Sungguh, bikin dada sesak. Cara-cara kotor tidak hanya dipraktekkan di darat, namun juga di laut.

Hal ini diperparah dengan layanan transportasi laut yang buruk. Kendati Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang antarpulau terhubung oleh laut, namun transportasi publik lautnya belum bisa dikatakan memadai. Kondisi ini dikritisi secara khusus di bagian ‘Wajah Indonesia di Atas Geladak Kapal’. Serta berulang kali terungkap di catatan perjalanan mereka ketika menumpang kapal dari satu pulau ke pulau lain di Indonesia bagian timur.

Setelah Sumatera, pulau berikutnya yang ditelusuri urat nadinya oleh Yunus dan Gaban adalah Borneo. Pembaca diajak untuk membaca kehidupan di Kapuas yang merupakan salah satu sungai terpanjang di Indonesia (1.143 km). Juga tinggal di rumah panjang (Betang), rumah adat suku Dayak Desa di Sintang, Kalimantan Barat. Selebihnya adalah perjalanan yang panjang dan membosankan membelah perkebunan sawit yang seakan-akan tiada habis. Di sini pula, untuk sementara mereka menghentikan ekspedisi karena logistik dan keuangan yang hampir habis. Mereka memutuskan kembali ke Jakarta dan selama sebulan mencari ‘ransum’ tambahan.

Perjalanan pun diteruskan dari Kalimantan Selatan menuju Kalimantan Timur. Suka duka pendulang intan diceritakan oleh Yunus dengan nada humanis. Kondisi hutan bakau dan orangutan juga dipaparkan Yunus dengan merujuk pada referensi yang ditulis oleh naturalis Alfred Russel Wallace: Kepulauan Nusantara; Sebuah Kisah Perjalanan Kajian Manusia dan Alam. Penulis pun tak ragu menyampaikan kesan cemburunya atas catatan perjalanan ilmuwan Inggris yang begitu detail tersebut.

Banyak fakta baru yang berhasil diungkap oleh Yunus dalam buku ini. Termasuk reportase mengenai Binongko, bagian dari Wakatobi, yang juga dijuluki pulau Tukang Besi. Mereka memasok produknya yang berupa parang, pacul, dan linggis hingga ke Papua dan Kepulauan Riau. Yang menarik, ternyata dari Binongko ini pula dipasok senjata-senjata yang digunakan saat kerusuhan Maluku. Satu parang dihargai hingga Rp50 ribu!

Juga fakta tentang kehidupan para ‘janda kompresor’ di Pulau Jinato, Sulawesi Tenggara. Kosakata ini diciptakan penulis untuk menyebut istri-istri yang ditinggal mati oleh suaminya akibat menyelam dengan kompresor. Peralatan menyelam yang tentu tidak memenuhi standar. Akibatnya bisa fatal. Mulai dari lumpuh hingga kematian.

Satu lagi yang membuat saya bergidik ngeri adalah liputan tentang algojo yang menebas kepala 33 orang di Flores pada peristiwa kelam 1965. Tak lain dan tak bukan kaitannya dengan pemberantasan PKI oleh TNI. Yang pasti, reportase Ahmad Yunus di bagian ini mengingatkan saya pada kumpulan esai Seno Gumira Ajidarma, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara, juga perkataan Tasaro GK pada suatu kesempatan, “Tugas penulis adalah mengkritisi sejarah yang sudah tidak masuk akal.”

Beragam kisah petualangan Ahmad Yunus dan Farid Gaban selama mengelilingi nusantara ini memang layak disebut ‘gila’. Mereka tidak semata melakukan perjalanan a la backpacker, namun sekaligus menyelami denyut kehidupan masyarakat Indonesia. Dan, mempertanyakan kembali makna nasionalisme sebagaimana disentilkan:

…nasionalisme Indonesia adalah nasionalisme khayalan. Dan khayalan bisa saja kabur dan kemudian menghilang dengan khayalan lain…” (hlm. 276).

Terlepas dari kurang telitinya editor dengan masih membiarkan typo – melebihi yang tercantum di kertas daftar ralat – hal ini tidak mengurangi kenikmatan mengikuti petualangan kedua jurnalis gaek ini.

Harus diakui, ini adalah ikhtiar penulis untuk mengenal Indonesia lebih dekat dan lebih rekat. Sebuah cara ‘sederhana’ untuk mencintai Indonesia apa adanya.

Advertisements
Posted in: Uncategorized