The Naked Traveler 3

Posted on December 31, 2011

9


Judul: The Naked Traveler 3

Penulis: Trinity

Penerbit: B-First

Cetakan: Kedua, Juni 2011

Tebal: x+ 326 hlm.

ISBN: 978-602-8864-38-1

 

Saya beli TNT3 berbarengan dengan beli TNT2. Ini gegara saya akan
jumpa dengan Trinity. Duduk bersama di depan audience talkshow di
Gramedia Royal Plasa pada Kamis, 15 Desember 2011. Asyik! TNT1 yang
sudah saya ‘kandang’kan di rumah sana, Lombok, pun saya boyong kembali
ke Surabaya. Biar semuanya tertandatangani dan tertestimonii 😀

Jika dalam TNT1, banyak detail yang saya lupa, TNT2 pun demikian. TNT2
malah saya numpang baca di perpustakaan kampus B Unair, salah satu
tempat paling menarik di kampus :D. Nah, saya sih awalnya tidak
berniat beli TNT3. ‘Mending pinjam saja,’ kilah saya. Tapi, memang
saya ditakdirkan untuk membelinya. Bagaimana tidak? Trinity adalah
suhu saya dalam menulis catatan perjalanan dengan gaya santai tapi
tetap mempertahankan substansi. Lebih-lebih, talkshow kemarin adalah
pertemuan pertama saya dengan sang suhu – yang sudah lama saya
idam-idamkan. Jadi, dengan menyorongkan ketiga buku serial The Naked
Traveler-nya sekaligus, itu sungguh pencapaian bagi saya.

Dan, saya menamatkan membaca TNT3 seminggu setelah acara tersebut. Apa
kesan-kesan saya? Trinity tetap jawara! Jawara yang bikin sirik dengan
segala macam dan warna petualangannya. Ia lihai ‘memotret’ momen-momen
kocak tapi berisi dalam perjalanannya. Itulah yang menarik. “Saya
hanya menuliskan hal-hal yang tidak biasa. Kalau peristiwanya biasa,
ngapain saya tulis?” Begitu ungkapnya saat talkshow. Bagi saya, itu
tanda kejelian yang dimiliki Trinity. Ia cermat ‘membidik’ momen apa
yang layak diangkat jadi tulisan perjalanan yang renyah dan ringan.
Pemilihan ‘angle’, itu keunggulannya. Tentu saja, ini setelah saya
bandingkan dengan buku-buku bertema sejenis, termasuk buku saya 🙂
Kendati, masalah komparasi ini bisa didebatkan kembali. Soalnya, buku
genre ‘traveling’ pun banyak sub-genrenya dan parameter pembandingnya
tentu beda.

Dalam TNT3, saya perhatikan cukup banyak mengangkat China. Mulai dari
kulinernya (Chienes Food in China), kebiasaan jorok orang-orangnya
(Joroknya China), kendala bahasa yang dialami Trinity
(“Cang-Cing-Cung!”) hingga kondisi WC umum di sana (Joroknya China).
Dan, entah mengapa, sejak lama saya kurang tertarik dengan China. Bisa
jadi karena sensi saya pada susahnya mata kuliah Bahasa Mandarin yang
saya dapatkan di semester 2 dan 3? :p

Bab yang bikin saya cinta sama buku, tentu saja bab Inta Indonesia.
Mengapa? Deskripsi dan cerita Trinity tentang Wakatobi dan pertempuran
Pasola di NTT bikin saya makin-makin-makin cinta sama Indonesia.
Ditambah dengan pengalaman saya bulan Oktober lalu sebagai Petualang
ACI Detikcom dengan menjelajah Lampung, Bengkulu, Sumatera Selatan,
dan Bangka Belitung. Itu bikin saya makin paham bahwa Indonesia bikin
sirik banyak orang. Nggak cuma oleh orang asing, bahkan sama orang
Indonesia sendiri. Banyak yang pengin melihat Indonesia dari dekat,
dan TNT3 termasuk salah satu di antara ‘trigger’ itu.

Sisi humanis Trinity yang cukup bikin saya tersentuh ada di cerita
‘Saudara-Saudaraku di Timor Leste’. Cukup berbeda dibanding tulisan
kocak lainnya. Lagi-lagi, Trinity membuktikan kepiawaiannya untuk
tidak hanya bikin sirik pembacanya agar segera ambil ransel dan mulai
bertualang. Tapi, ia juga mampu menyentuh dinding hati pembacanya dan
tergerak untuk melakukan perubahan, setidaknya mengubah mindset agar
tidak tenggelam dalam stigma buruk akan suku, budaya, bahasa, dan
agama orang lain.

Sentilan paling oke dan saya juga bolak-balik gemes sama pemerintah
kita ada di bab ‘Seandainya Kita’. Trinity membandingkan keseriusan
pemerintah Indonesia dengan Thailand dalam mengelola pariwisata.
Thailand saja punya situs berbahasa Indonesia, masak sih Indonesia
tidak melakukan tindakan yang lebih dari itu? Dari keseriusan bikin
situs pariwisata, sudah terindikasi ‘kemalasan’ pemerintah kita. Mau
ngomongin infrastruktur? Bikin males! Sudah jelas, kok.

Satu lagi yang jadi nilai plus buku adalah di bab ‘Tip (Agak)
Penting’. Bagi saya yang pengalaman jalan-jalannya masih seuprit dan
jam terbangnya masih rendah, membaca bab ini amat membantu. Semisal:
cara membunuh waktu di bandara secara hemat, hp dan BB hemat di luar
negeri, 15 cara jalan-jalan gratis ke luar negeri, dan banyak lagi.
Nah, tips jalan-jalan gratis ke luar negerinya ini yang bikin mata
saya berbinar-binar. Apalagi modal pengalaman di ACI Detikcom yang
benar-benar gratis sepenuhnya. Apa saja yang disarankan Trinity?
Silakan kudap di TNT3 😀

Baiklah, tak perlu banyak cingcong lagi. Baca buku ini memang bikin
kita sirik dan makin terpacu untuk jalan-jalan. Kita? Kalau elo nggak
mau ya sudah. No lenjeh-lenjeh! 😀

Advertisements
Posted in: Uncategorized