Resensi “Travelicious Lombok” oleh Dion Yulianto

Posted on February 25, 2012

16


Judul : Travelicious Lombok

Traveler : Lalu Abdul Fatah

Penyunting : Ikhdah Henny

Sampul : Primaditya

Penerbit : B-First

Cetakan : 1, Februari 2011

Pulau Lombok, sebuah pulau yang berada sekitar 4 jam naik Feri dari pulau Bali ini bisa diibaratkan sebagai surga tropis yang banyak diabadikan dalam film-film. Seluruh perangkat dan kualitas dari sebuah pulau tropis bermandikan cahaya matahari bisa ditemukan di pulau nan menawan ini: pasir putih, hutan menghijau, puncak Gunung Rinjani, pantai alami yang membentang luas, penduduk pulau yang ramah, air laut yang biru, serta—tentu saja—bule-bule yang bersliweran. Selain itu, Lombok juga menawarkan atraksi lain, yakni atraksi budaya masyarakat asli Sasak yang berbaur dengan baragam suka bangsa di negeri ini. Satu fakta unik yang menyambut pembaca saat membuka buku kecil nan eksotik ini adalah bahwa kata “Lombok” dalam pulau Lombok bukan berarti “cabe”. Lombok dalam bahasa Sasak berarti “lurus”. Fakta lain adalah di pulau ini pula ditemukan salinan asli dari kitab Negarakertagama peninggalan kerajaan Majapahit yang ditulis pada tahun 1365.

Buku Travelicious Lombok adalah semacam buku petualangan-perjalanan wisata ala backpacker yang dilakukan sendiri oleh sang penulis. Kata backpacker yang selalu berkaitan dengan “menggembel tapi seru” dan “tarif hemat” benar-benar dibuktikan sendiri oleh si penulis yang konon hanya menghabiskan dana Rp 700.000 dari Surabaya – Lombok selama sekitar 7-8 hari. Keren bukan? Satu hal yang perlu saya tekankan dalam ulasan buku ini adalah bahwa saya tidak akan begitu menyanjung pulau nan indah ini sekiranya saya belum melihatnya sendiri. Ragam petualangan wisata yang diuraikan oleh penulis dalam buku ini mengingatkan kembali saya pada tahun 2008, ketika saya diberi kesempatan untuk mengunjungi pulau nan benar-benar indah ini. Dan, percayalah, pulau Lombok benar-benar luar biasa.

Satu hal yang langsung menyambut wisatawan begitu menapakkan kaki di pulau ini adalah masjid dan pura yang berdiri berdampingan. Fenomena ini lebih tampak jelas di kota Mataram, yang membuktikan kuatnya toleransi antar umat beragama di sana. Sebagaimana Fatah, saya tidak melewatkan mengunjungi Taman Mayura di Cakranegara, sejenis taman pemandian istana yang memiliki tiga pura utama di gerbang masuk serta sebuah bangunan terapung berbentuk seperti pendapa atau paviliun di tengah-tengah kolam air nan cantik. Kalau tidak keliru, pengunjung diharuskan untuk memakai sejenis selendang yang diikatkan dipinggul untuk bisa memasuki kawasan ini. Kalau tidak salah juga, di kompleks Taman Mayura ini terdapat sebuah mata air yang hanya akan mengalirkan airnya satahun sekali (atau kalau tidak salah begitu). Luar biasa bukan kecanggihan nenek moyang kita dalam membangun sistem pengairan?

Dan, ikon paling tak terlupakan dari Lombok, apalagi kalau bukan pantai Sengigi dan ketiga gili (pulau kecil)nya. Melintasi jalanan di pinggir pantai, kita ibarat berada di film-film Barat. Sejauh mata memandang adalah deratan pantai berpasir putih yang luar biasa bersih (dan sepi). Airnya terlihat begitu biru dengan pasir yang begitu halus dan bersih. Perjalanan dilanjutkan ke Gili Trawangan, salah satu dari tiga gili yang ada di lepas pantai Lombok, tepatnya di Pelabuhan Bangsal. Saya lupa bayar berapa tapi minimal harus ada sekian penumpang agar sebuah perahu boat bisa menyeberang ke Gili Trawangan. Saat di atas perahu, kita bisa menyentuh permukaan air yang benar-benar terlihat biru, begitu tenang, dan menyejukkan mata yang memandang. Dari kejauhan, tampak pulau Lombok yang terlihat hijau dengan Gunung Rinjani yang puncaknya selalu diselumuti awan atau mendung. Tidak hanya sampai di situ, ketika kapal merapat ke Gili Trawangan, kita serasa tidak sedang berada di Indonesia, tapi di sebuah pulau di antah berantah. Benar-benar pengalaman yang luar biasa bisa menapakkan kaki di tempat ini.

Gili Trawangan adalah sebuah pulau kecil yang dipenuhi dengan resor, hotel, penginapan, bioskop mini, warnet, dan tentu saja diskotik. Tampaknya, pulau ini lebih banyak dihuni oleh bule ketimbang pribumi. Pantai di lingkar pulau ini adalah pasir putih dengan batu-batu koral nan berlimpah, bahkan dari pinggir pantai kita bisa melihat terumbu karang karena airnya yang luar biasa bening dengan ombak yang tenang, di pulau ini, sebagaimana kata si penulis, tidak diperkenankan adanya mobil atau motor. Alat transportasi satu-satunya adalah cidomo (sejenis andong tapi dengan roda mobil bekas) dan sepeda. Mengelilingi pulau kecil ini dengan sepeda adalah kegiatan yang tidak boleh dilewatkan, bener sekali kata Fatah. Dalam waktu kurang selih satu jam, kita bisa menyewa sepeda sebesar rp 10.000 dan mengitari pulau ini. Kebetulan, jalan memutar itu berada persis di sepanjang garis pantai sehingga acara bersepeda ini dihiasi oleh pemandangan pantai pasir putih dan lautan nan biru. Lebih serunya lagi, banyak spot-spot sepi (terutama di sisi utara pulau) yang membuat kita serasa berada di pulau terpencil.

Hal lain yang mengejutkan adalah kehidupan malam di Gili Trawangan. Bule-bule yang berpesta semalam suntuk, suara jedag jedug disko, hingga obrolan larut malam mewarnai senja hari pulau ini. Menjadikannya benar-benar surga tropis bagi wisatawan macanegara. Bahkan di siang haripun, banyak bule yang bersliweran dengan busana minim, memperlihatkan keindahan fisik mereka (geleng-geleng sambil nelan ludah hahaha). Uniknya, tidur di Gili Trawangan di malam hari, suara ombak itu terdengar dengan sangat jelas. Luar biasa memang pulau ini. Jika Anda ingin menyelam, pergilah ke Gili Air yang menawarkan spot-spot penyelaman yang luar biasa indah dengan air sebening kristal (hehehe tanya saja sama si penulis karena saya kebetulan tidak ke Gili Air). Selain ke Gili Trawangan, masih ada banyak objek wisata lain yang tersebar di pulau ini, seperti misalnya pusat kerajinan gerabah di Banyumulek, Masbagik Timur. Kalau tidak salah ada gerabah khas bernama kendi apa gitu yang ajaib. Kendi itu diisinya secara terbalik tapi airnya tidak tumpah, pokoknya susah deh jelasinnya kecuali lihat dan beli sendiri. Sayangnya, waktu penjelajahan saya ke Lombok hanya dua hari *iri sama si Fatah yang bisa 8 hari*. Masih ada banyak objek wisata ciamik yang belum saya kunjungi, dan Fatah benar-benar beruntung karena bisa mengunjungi dan menguraikan begitu banyak tempat-tempat indah dalam buku mungil ini.

Gimana, apakah pemaparan saya di atas sudah cukup meracuni Anda sekalian untuk mengunjungi Lombok? Jika iya, maka buku kecil karya Fatah ini sangat layak untuk dijadikan acuan. Berbeda dengan perjalanan wisata saya yang cuma numpang nebeng dan numpang kantor, Lalu Abdul Fatah menjalani traveling ke penjuru Lombok dengan perencanaan yang matang dan dokumentasi teliti. Di dalam buku ini ada daftar restoran murah, nomor telepon penting, spot-spot wisata yang kudu dikunjungi, hotel atau wisma yang nyaman dan murah serta berbagai info penting lain yang sayang untuk Anda lewatkan. Fatah menuliskannya dengan gaya bahasanya sendiri, apa adanya dan khas anak muda. Inilah yang menjadikan Travelicious Lombok sebagai racun yang luar biasa menyengat pembaca untuk segera mengunjungi pulau nan indah nian ini. Saya saja kepengen ke sana lagi! Jika Anda berniat untuk travelling menyusuri pulau Lombok, pastikan buku mungil namun lengkap ini ada dalam tas Anda. Selamat berlibur.

Terima kasih, Fatah karena telah memberi tahu kami tentang sebuah surga tropis yang sungguh sayang untuk dilwetkan. Mari berwisata ke Lombok, karena katanya kita boleh numpang di tempetnya Fatah :)) hehehe

Diambil dari https://www.facebook.com/notes/dion-yulianto/travelicious-lombok/392074450808277

Advertisements
Posted in: Uncategorized