Nadrenaline

Posted on March 24, 2012

19


Judul: Nadrenaline

Penulis: Nadine Chandrawinata

Penerbit: B-First

Cetakan: I, Februari 2012

Tebal: xiv + 218 hlm

ISBN: 978-602-8864-54-1

Nadine Chandrawinata, adalah sedikit dari mantan Putri Indonesia, yang nyantol di kepala saya. Selain karena ‘blunder’ yang ia bikin terkait pernyataannya tentang Indonesia – yang mana disebut ‘city’ bukan ‘country’ – juga karena ia seorang pemain film, bergabung dengan Tim Papua Barat dalam program Aku Cinta Indonesia Detikcom 2010, juga seorang ‘diver’.

Saat buku ini muncul di khalayak pertama kali saat IBF di Jakarta, saya pun mengontak teman untuk membelikan. Bersama Travellous karya Andrei Budiman, paket buku akhirnya sampai di kontrakan beberapa hari kemudian.

Nadrenaline yang merupakan fusi dari “Nadine” dan “adrenalin” menjadikan buku ini ‘eye-catching’ dari segi judul. Begitu pula kover-nya yang terkesan ‘rock’n roll’ membuat buku catatan perjalanan ini berbeda dari buku sejenis.

Tapi, mengapa saya tidak menemukan ruh judul dan kover itu dalam tulisan-tulisan Nadine ya?

Beberapa aktivitas petualangan Nadine dalam buku ini memang lumayan banyak yang cukup ekstrem. Misalnya, melakukan ‘bungee jumping’ di Bali; mencoba ‘sling shot’ di kawasan Clarke Quay, Singapura; uji nyali melihat ‘hammerhead shark’ di Sulawesi Tenggara; makan kecoak di Thailand; dan banyak lagi. Namun, caranya bertutur tidak benar-benar memacu adrenalin pembaca seperti saya.

Ini kesan subjektif, tentu saja. Bisa jadi selama membaca buku ini, saya tidak bisa melepaskan diri dari imaji seorang Putri Indonesia yang anggun sehingga saat menuliskan pengalaman-pengalaman menantangnya tersebut, Nadine cenderung mengeluarkan sisi femininnya. Bisa pula karena saya membandingkannya dengan tulisan-tulisan Trinity yang kocak, lebih memacu adrenalin, dengan penutup yang lebih nendang.

Baiklah, tak bijak kiranya membandingkan Trinity dengan Nadine. Namun, ada hal lain lagi yang ingin saya komentari. Yaitu, masalah foto-foto. Saya memaklumi, sebagai selebritas, di buku ini banyak terpampang foto narsis Nadine. Saya sebagai pembaca pun dimanjakan karena tidak bosan-bosannya memandang wajah Nadine yang blasteran Indo-Jerman ini. Dan, saya baru ngeh kalau mama Nadine memang cantik sih! (Nggak penting. Hehe…).

Terus, masalahnya apa?

Foto-fotonya ada yang bercerita, sangat mendukung ilustrasi tulisan. Namun, ada juga foto-foto yang sekadar ditempelkan dan tidak terkait cerita, seperti di halaman 139-141, halaman 101, dan halaman 178. Coba cari lagi yang lain, pasti Anda akan menemukannya.

Ide cerita yang melompat-lompat dan tidak benar-benar dituntaskan lebih detail, juga menjadi catatan nih buat Nadine.

Terlepas dari hal di atas, saya bisa menikmati buku yang ringan ini. Banyak sisi lain Nadine yang terungkap di buku ini. Misalnya, dalam ‘Apa Itu Mandi?’, ‘Packing Sinting’, dan ‘Gimme A Break!’.

Dalam ‘Apa Itu Mandi?, Nadine becerita tentang dirinya yang pernah tidak mandi selama seminggu saat mendaki Everest. Di ‘Packing Sinting’, saya terbelalak saat membaca kisahnya mengikuti ajang Miss Universe 2006, dia harus menenteng empat koper besar yang berisi kebaya-kebaya megah Anne Avantie, perlengkapan ‘make-up’ dan ‘hair-do’, serta beragam jenis tas dan sepatu. Sendirian! (Alamaaak!). Sementara, di ‘Gimme A Break!’ saya bisa memaklumi kemarahannya saat fansnya bertindak kurang ajar dengan memegang bagian sensitif tubuh Nadine.

Dan, sebagai pembaca bukunya yang berasal dari Lombok, saya senang saat mengetahui bahwa kecintaan Nadine pada laut diperkenalkan pertama kali oleh papanya di Lombok. Juga ceritanya tentang Taman Narmada, Lombok Barat, yang konon meminumnya bisa bikin awet muda.

Anda ingin berkelana bersama Nadine? Baca Nadrenaline!

Advertisements
Posted in: Uncategorized