The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta

Posted on March 29, 2012

50


Judul : The Journeys 2: Cerita dari Tanah Air Beta
Penulis : Alanda Kariza, dkk.
Penerbit : GagasMedia
Tahun : 2012
Tebal : viii + 256 hlm.
ISBN : 979-780-550-6

Apa yang menarik dari Indonesia? Banyak! Alam, masyarakat, budaya, sejarah, politik, dan ragam elemen lainnya. Sebutkan, gali sendiri, teropong dari perspektif berbeda. Pasti akan menguar warna-warna yang kaya. Dan, kau akan terkesima.

The Journeys 2 salah satunya. Ditulis oleh 12 orang dengan latar belakang berbeda. Ada yang jurnalis, penulis skenario, narablog, musisi, sutradara, ‘travel writer’, ‘editor in chief’ majalah, hingga bule pencinta Indonesia. Semua urun kisah perjalanan dan berbagi renik rekaman panca indera tentang ‘puzzle’ besar bernama Indonesia.

Ve Handojo membuka buku berkaver koper vintage ini dengan tulisan berjudul ciamik ‘Berburu Gajah, Garuda, dan Naga ke Trusmi’. Awalnya, saya kira ia akan membahas Lampung, tapi kecele. Tiga hewan di atas ternyata jelmaan dari motif batik Paksi Naga Liman di galeri batik Ibu Ninik Ichsan, Kampung Trusmi, Cirebon. Paksi itu Garuda. Naga ya naga. Liman, gajah.

Dari hasil telaahnya, ternyata batik itu bukan cuma punya Indonesia. Negara bahkan kebudayaan lain juga punya. Paling tua, Mesir, sudah mengenal batik sejak abad 4 sebelum masehi. Sebab, batik itu teknik, bukan benda. Jadi, jangan disalahkaprahi. Apalagi kalau kita anggap UNESCO “mentahbiskan” batik sebagai milik Indonesia. Sama sekali tidak tepat. Sebab,

“UNESCO mengakui Batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Dunia Tak Benda. Artinya, yang diakui bukanlah “benda”-nya. Bukan sehelai kain batik. Bukan motif-motifnya. Yang diakui sebagai warisan dunia adalah prosesnya. Tepatnya, proses pembuatan Batik Tulis, bukan batik cetakan atau sablonan” (hal. 12).

Matatita dengan ‘Terbang Bersama Twin Otter’-nya, sebenarnya telah mampu memancing saya. Namun, membaca tulisan ‘travel writer’ ini sampai tuntas, saya hanya bergumam, “Kenapa nggak cerita tentang masyarakat atau alam Papua saja, ya? Kenapa justru cerita tentang pesawat kecil berbaling-baling milik Merpati?”

Bisa jadi ini ekspektasi saya yang terlalu tinggi. Harapan sesaat sekelar membaca tulisan kedua di buku ber-‘layout’ keren ini. Namun, saat membuat ulasan ini, saya berpikir ulang. Saya jadi bisa membayangkan rasanya naik pesawat yang penumpangnya kudu ditimbang berat badannya ini. Saya juga bisa meresapi tidak mudah dan murahnya moda transportasi di Papua. Dan, hei jangan-jangan pesawat ini pula yang dicarter oleh Tim Papua 1 Aku Cinta Indonesia Detikcom 2011 dengan membayar Rp 17 juta? Glek!

Riyanni Djangkaru dalam ‘Mola Fiesta’ bikin saya tesenyum. Mantan pembawa acara Jejak Petualang yang juga penggemar ‘diving’ ini membagikan kisahnya berburu mola di Nusa Penida, Bali. Sepembacaan saya, biasanya para ‘diver’ gemar berburu manta ray atau terkena histeria saat bertemu ‘whale shark’ atau wobbegong, tapi Riyanni tidak berkisah tentang itu.

Jadi, apa itu mola? Seunyu apa sih mola di mata Riyanni? Baca di halaman 38-46.

‘Slow di Solo’-nya Rahne Putri membuat ritme baca saya kembali ‘slow’. Penulis yang mengaku memiliki sisi ‘sadgenic’ ini, menyeret saya melalui rute perjalanan yang melankolis. Setidaknya, dua scenes yang ia lakonkan ke pembaca, yakni: pandangannya pada sopir travel dan istrinya yang ikut menemani, serta perjalanannya sendiri selama di Solo.

Sayang sekali, editornya kurang cermat. Khusus tulisan Rahne, ‘typo’ bergelimang.

Adrenalin membaca saya kembali naik. Kali ini tulisan jurnalis senior, Farid Gaban, mampu membetot penuh perhatian saya dalam Berziarah ke Digul, Penjara tak Bertepi. Gaya tulisan yang sedang saya gemari. Padat informasi, tidak berbelit, cair, dan menghadirkan perspektif baru. Sepertinya, ziarahnya ke Digul ini bagian dari ekspedisi Zamrud Khatulistiwa – keliling Indonesia dengan sepeda motor yang ia jabani tahun 2009-2010 bareng Ahmad Yunus.

Boven Digoel, memang bukan destinasi wisata. Namun, ia situs sejarah yang menyimpan banyak cerita. Tentang orang-orang ‘besar’ di negeri ini yang pernah ditahan di situ oleh kolonial Belanda, semisal Bung Hatta dan Sjahrir. Juga pelopor jurnalisme Indonesia, Mas Marco Kartodikromo yang dicap komunis.

Bagi saya, banyak fakta menarik disampaikan Farid Gaban dalam tulisannya ini. Salah satunya tentang Bung Hatta. Ia sampai membawa 16 peti bukunya dari Batavia demi mengisi hari-harinya selama di tahanan. Idealismenya tak jua padam dengan rajin menulis hingga lahirlah ‘Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan dan Alam Pikiran Yunani’ yang kelak jadi mahar perkawinannya dengan Rachmi. “Jika orang lain mempersempit dunia kita, kita sendiri bisa membangun dunia dalam pikiran kita,” kata Hatta (hal. 83). Sungguh menggugah sekali!

Dan, gambaran detail penjara Digoel ini dengan segenap cerita sejarah di baliknya bikin saya ingin melompat ke Digoel. Perjalanan ke sana memang berat. Tapi, Farid Gaban menjabaninya. Salut!

Alanda Kariza dan Trinzi Mulamawitri menulis destinasi yang sama, Lombok, tapi dari sudut pandang berbeda. Dalam ‘Ragam Budaya dan Cerita di Lombok’, Alanda lebih banyak menyorot budaya orang Lombok yang hidup damai berdampingan kendati berbeda agama. Ia sempat menghadiri Perang Topat di Pura Lingsar. Saya yang orang Lombok, sekalipun tak pernah. ‘Poor me!’

Namun, ada yang perlu diralat dari tulisannya. Pura Lingsar itu bukan di Ampenan, tapi Narmada. Terus, Taman Narmada dibangun oleh Kerajaan Mataram Karang Asem, bukan Kerajaan Mataram. Itu dua kerajaan yang berbeda. Dan, sedikit berlebihan saat diceritakan kalau satu-satunya macet di Lombok adalah saat Perang Topat. Tidak juga. Juga kalimat Alanda yang ini, “Berbagai daerah di Lombok, rumah ibadah, seperti masjid, pura, da gereja, seringkali ditempatkan berdampingan.” (hal. 107). Hah? Sering? Di mana saja? Saya curiga kalau ‘tour guide’-nya yang menginformasikan itu pada Alanda terlalu berlebihan. Hehehe…

Trinzi lain lagi. Dalam ‘Lombok, Saya, dan Mama’, ia lebih banyak cerita berdasarkan sekuensi atau rentetan perjalanannya dari hari pertama sampai terakhir di Lombok. Mulai dari Kute dan pantai-pantai selatan di Lombok Tengah, Taman Narmada, Senggigi, dan tiga gili cantik di Lombok Utara: Trawangan, Meno, Air.

Sedikit istimewa karena ada penekanan cerita pada sang mama. Liburan romantis bareng mama, itu ‘key words’-nya.

Bagaimana dengan lima tulisan lainnya? Ada baiknya Anda membaca langsung buku ini. Namun, saya beritahu kalau ada kejutan di tulisan Travel Junkie Indonesia yang berjudul ‘Bali: Magical Mystery Tour’.

Secara keseluruhan, tulisan-tulisan dalam buku setebal dua ratus lima puluh enam halaman ini menarik disimak. Masing-masing penulis punya gaya sendiri yang membuat ini terasa kaya. Terasa Indonesia. Kendati tidak banyak destinasi yang diungkap. Bahkan, jika saya garisbesarkan, ada tiga penulis bahas Papua, dua penulis bercerita tentang Lombok, dua penulis tentang Bali, dan sisanya Solo, Malang, Maluku, Salatiga, dan Cirebon. Tapi, lagi-lagi ke filosofi perjalanan. ‘It’s not about the destination, but the process’.

Kendati buku The Journeys 1 saya baca selintas saja alias belum dibaca tuntas, tapi saya tahu akan lebih suka buku kedua ini.

Advertisements
Posted in: Uncategorized