Two Travel Tales

Posted on April 2, 2012

45


Judul: Two Travel Tales

Penulis: Ade Nastiti

Penerbit: Lingkar Pena

Cetakan: Pertama, Desember 2011

Tebal : viii + 324 hal.

ISBN : 978602885197-8

India. Negara kaya warna ini bukan destinasi impian saya. Namun, sekelar membaca Two Travel Tales, saya harus bernegosiasi ulang dengan diri. Saya harus ke sana!

Kebanyakan orang memandang India sebagai negeri yang eksotis. Dan, orang-orang acap ke sana untuk memburu eksotisme India. Namun, saya teringat dengan ucapan Agustinus Wibowo, penulis Selimut Debu dan Garis Batas, dalam sebuah kesempatan di Surabaya, “Apa itu eksotisme?” Dia seakan-akan mempertanyakan kembali dengan nada agak skeptis pada antusiasme orang-orang menjelajahi negeri-negeri di timur. Mengejar eksotisme?

Saya kira, Agustinus Wibowo dan Ade Nastiti memiliki semangat yang sama. Bukan eksotisme yang mereka buru dalam perjalanan mereka. Bukan pula memosisikan diri sebagai turis yang hanya datang melihat-lihat, mengabadikan lanskap, dan tak banyak interaksi dengan penduduk lokal. Saya pikir, bukan pula karena mereka penulis perjalanan lantas mewajibkan diri untuk berinteraksi dengan orang lokal demi mendapatkan cerita. Tapi, lebih jauh dari itu. Lebih jauh dari itu.

“Di balik kebersahajaannya, manusia yang hidup ribuan tahun lalu ini ternyata telah menuliskan sejarahnya. Dari gambar-gambar itu generasi berikutnya belajar tentang bagaimana mencari makan, tentang berjuang, berinteraksi dengan sesama, dan tentang bagaimana menyembah Tuhan. Jika manusia yang hidup di zaman batu saja telah berinisiatif untuk meninggalkan jejak-jejak keseharian mereka, bagaimana dengan aku yang hidup di abad ke-20 ini,… Tuhan, seketika aku merasa sangat kecil. Dari Bhimbetka aku belajar bahwa rekam jejak hidup seseorang hanya bermakna jika ditinggalkan dan diwariskan” (hal. 134-135).

Beruntung Ade Nastiti melakukan perjalanannya ini di sela-sela pelatihannya sebagai salah satu orang yang berkecimpung dalam program pemberdayaan masyarakat. Kala rekan-rekannya yang lain menghabiskan ‘weekend’ dengan istirahat, ia justru mengasah instingnya sebagai pejalan. India hingga Nepal ia jajaki. Namun, porsi kisah perjalanannya jauh lebih banyak tentang India. Nepal hanya singkat saja. Terasa kurang dan tidak berimbang, tentu saja.

Namun, cerita tentang India yang menghabiskan hingga dua ratus delapan puluh delapan halaman buku ini, amat menarik disimak. Mulai dari perjumpaan Ade Nastiti dengan pendeta Hindu di kereta yang menjentik alam bawah sadarnya tentang makna pencarian, dirawat dengan penuh kasih sayang oleh Nenek Dolma di gompa Buddha, merasakan takbiratul ihram di di gurun pasir dengan latar Pegunungan Himalaya bersalju, ‘terlempar’ di Kolkata – kota penuh ironi yang jadi latar novel City of Joy, mengunjungi situs-situs Budha, mengikuti pooja bersama kaum Sikh, mendapat kejutan demi kejutan budaya dari temannya yang asli India, ‘merinding’ oleh kemegahan Taj Mahal dan kisah cinta di baliknya, ziarah ke Sungai Gangga di bagian Risikesh – yang lebih bersih dan jernih tinimbang Varanasi, serta mengunjungi Gurgaon yang menjadi kota satelit dan ikon kesuksesan kaum muda India.

Hal yang membuat saya terkesan adalah penulis tidak melulu membawa saya ke tempat-tempat turistik. Saking cair perjalanannya, ia membiarkan dirinya mengikuti ritme lokal. Ikut masuk ke gurudwara, tempat ibadah kaum Sikh. Ia sempat pula merasakan jadi orang terpilih bagi Sang “Rama” di sebuah kuil Hindu, padahal orang-orang Hindu lokal justru amat berharap di posisi tersebut. Juga pengalamannya bersinggungan langsung dengan kemiskinan di salah satu sudut Delhi, ibukota negara yang menyimpan paradoks dalam kemegapolisannya. Kalau bukan karena jalinan persahabatan penulis dengan orang-orang India asli, tentu momen-momen langka itu tak akan pernah ia alami.

Riset. Itulah kekuatan buku perjalanan pertama dari seri ‘traveling beauty’ yang diterbitkan oleh Lingkar Pena ini. Terasa sekali ketekunan penulis dalam merekam, memotret, dan mencatat detail perjalanannya. Deskripsinya tidak sekadar hidup, namun mampu menambah asupan pengetahuan bagi pembaca. Bukan jenis buku yang butuh waktu sekali duduk membacanya, disebabkan ragam informasinya yang sarat dengan kata-kata dalam bahasa Hindi yang disematkan di sana-sini. Kelihaian penulis yang telah menelurkan dua novel, yakni Serenade Dua Cinta dan Two Lovely Hearts, ini begitu terasa dalam rangkaian kalimatnya yang sastrawi. Kadang pembaca dibawa ke beberapa tahun silam, menyapa sejarah. Namun, penulis juga tak lupa ‘merangkul’ pembaca, memijak masa kini.

Sebuah buku yang akan membetot perhatian dan membuat Anda ingin berjauhan sejenak dari film-film Bollywood yang penuh polesan.

Namaste.

Advertisements
Posted in: Uncategorized