Whatever I’m Backpacker

Posted on May 28, 2012

27


Whatever I’m Backpacker

Judul : Whatever I’m Backpacker

Penulis : Mochamad Takdis

Penerbit : Mochamad Takdis Publishing

Cetakan : Pertama, Mei 2012

Tebal : 172 hlm.

Oke. Ini buku traveling. Campuran antara travelogue dan travel guide. Tapi, gaya penulisannya tergolong absurd. Kadang, antara fakta dan khayalan dicampur. Mana serius, mana candaan, kadang tak bisa dibedakan. Butuh kecerdasan khusus untuk membaca buku yang narasinya kocak ini. Kalau selera humor Anda kering, disarankan untuk jauh-jauh dari buku ini. Lebih penting lagi, buku ini tidak cocok untuk yang berusia di bawah 17 tahun!

Baru kali ini saya membaca buku traveling yang ditulis a la Kambing Jantan. Maaf, mau tidak mau saya membandingkan Whatever I’m Backpacker ini dengan buku yang ditulis oleh Raditya Dika tersebut. Sama-sama diangkat dari blog dengan humor yang agak kasar – menurut saya. Andai Si Radit suka menuliskan perjalanannya, mungkin buku ini jadinya.

Cerdasnya Si Adis adalah ia melihat ceruk momentum buku-buku traveling yang lagi hip di pasaran. Ia terbitkan buku ini lewat jalur indie. Alasannya, idealisme. Bagi saya, sebuah idealisme agar content bukunya tidak banyak dirombak penerbit. Itu kalau bercermin dari buku The Naked Traveler 3 yang sempat ditarik dari pasaran. Andai ia mau bersabar, bisa saja ia menyodorkan buku ini ke Gagas Media, yang seleranya anak muda banget.

Itu kalau penulis bersabar main di jalur penerbit mayor.

Bagaimana dengan keputusannya menerbitkan indie? Buku besutan 9 Lights Production ini, boleh saya acungi jempol dari segi kaver. Komikal. Unyu, kalau istilah ABG labil. Kendati kurang kuat kalau dikaitkan dengan judulnya yang bermakna ‘semau gue dong jadi backpacker‘. Apalagi dengan warna dasar yang tergolong kalem dan rada-rada vintage.

Di kaver belakang, pembaca akan disuguhi lima endorsements. Komentar mereka rata-rata saya setujui. Intinya sih, tulisan Adis yang liar, meledak-ledak, khas anak muda.

Isinya, bagaimana? Beberapa ilustrasi di dalamnya berwarna. Saya duga, itu ditangani oleh Mbak Rana (ninelights.multiply.com). Foto-foto traveling penulis ada yang diselipkan satu foto utuh dalam mode black and white, ada pula yang disusun mozaik di tiga halaman berbeda dan itu berwarna. Mantap!

Sayang, kualitas cetakannya perlu diperbaiki. Entah tintanya yang terlalu kuat atau kertasnya yang tipis, tulisan di halaman baliknya agak membayang di halaman muka. Foto hitam putihnya juga tidak begitu bagus. Masih ada bercak-bercak. Ukuran hurufnya agak kecil, tapi bukan masalah buat saya. Kendati, saya tetap berharap kalau dicetak ulang atau bahkan diterbitkan oleh penerbit mayor, ukuran huruf dan spasinya agak dibikin besar dan lebar biar lega di mata. Buku lo bisa lebih tebal jadinya, Dis! πŸ™‚

Oya, halaman 112 di buku yang saya dapatkan langsung dari penulisnya ini, tidak tercetak apa-apa alias kosong. Padahal ceritanya belum kelar. Belum lagi di halaman 113 yang tiba-tiba ukuran hurufnya berubah jadi lebih kecil, kendati isinya cuma post scirpt aja alias P.S. Kesalahan mesin cetaknya ya?

Bagaimana dengan penyuntingan? Kalau tidak salah, buku ini disunting oleh Mbak Desi (malambulanbiru.multiply.com). Beberapa ejaan ada yang masih missed. Misalnya, pemakaian bahasa asing yang merujuk suatu tempat. Kalau ‘Amazing Kalimantan’ atau ‘Cheap Trip To Singapore and Malaysia’, saya masih terima. Tapi, tidak terima saat ada tertulis ‘Yeah, that’s Derawan Island‘. Nama pulau ikut dimiringkan? Belum pula judul besar di bab ‘The Exoticm of South Thailand’. Kata ‘exoticm‘ tidak saya temukan di kamus. Yang benar ‘exoticism‘. Beberapa kesalahan eja juga perlu diperhatikan.

Inkonsistensi juga saya temukan pada pemakaian istilah ‘backpackerΒ­-an’. Paling banyak, Adis menggunakan istilah ini. Beberapa pula saya temukan istilah ‘backpacking‘. Mengapa tidak ‘backpacking‘ sekalian dari awal sampai akhir? Karena ini lebih menunjukkan aktivitas sebagaimana yang dimaksud Adis dalam konteks kalimat. Backpacker kan orangnya.

Itu beberapa masukan saya dari segi teknis. Dan, hal ini tentu bisa diperbaiki di cetakan berikutnya.

Bagaimana dengan kisah-kisah yang tertuang di buku ini?

Adis ini gila! Pengalamannya (atau tulisannya?) kocak. Saya kira dua-duanya. Ia menceritakan hal-hal yang membuat pembaca akan melahap buku ini dengan cepat. Alias, tulisannya ringan. Hal-hal remeh sampai penting (berupa informasi rute, makanan, penginapan, transportasi, beserta harga-harga) ia tulis.

Di buku ini, ia menceritakan pengalamannya ke Thailand, Singapura, Malaysia, Sawarna, Kalimantan, Bali, juga sedikit teaser perjalanan cintanya bersama pacar ke negara-negara Asia Tenggara. Semua dilakukan dengan backpacking alias murah meriah sekaligus cerdik.

Penulisnya juga iseng, agak koplak, dan beberapa tindakannya cenderung kriminal. Entahlah, ini mungkin kecerdikan yang ia salahgunakan. Semisal, ia ingin internetan gratis via WiFi. Ia pura-pura mau check in di sebuah hotel, minta password WiFi pada resepsionis, lalu dengan enaknya keluar hotel dengan alasan jemput teman padahal ia tidak balik-balik lagi. Modus yang sama ia lakukan kala minta password WiFi di restoran di Phi Phi Island, Thailand. Koplak, bukan?

Pengalaman lainnya saat ketinggalan pesawat menuju Vietnam gara-gara supir travel yang ia pakai dari Bandung sering ngetem. Tapi, gara-gara ini pula ia melenceng jauh blusukan ke Borneo di hari yang sama. Kok, bisa? Bisa saja. Karena Adis mengaku smart traveler. Haha…

Belum lagi kegilaannya di Sawarna, Banten, bareng teman-temannya yang teler di pantai gara-gara mushroom alias jamur racun tai kebo. Ah, sarap!!!

Tapi, di balik kesarapannya, ia tetap mau berbaik hati membagi tips dan trik yang menurut saya bisa banget dicoba. Kayak, bagaimana tidur di bandara, bagaimana memilih rekan seperjalanan, juga mengatur anggaran.

Perjalanan penulis berusia 22 tahun ini jadi terlihat berbeda karena memang ia menuliskannya dengan sungguh liar. Humornya sedikit kasar dan kadang menjurus seksis. Cerminan Adis. Kendati ia mengaku kalau dalam tulisan, alter egoΒ­-nya yang bercerita. Saya yang pernah bertemu dan ngobrol empat mata, melihatnya cenderung kalem dan tipe pendengar serta memiliki antusiasme yang tinggi.

Penulis yang merupakan Petualang ACI 2011 Tim NTB 2 ini adalah ‘mantan’ mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Ia memilih hengkang dari bangku kuliah karena ingin mengejar passionΒ­-nya, yaitu traveling! Keputusannya yang membuat dia galau ini tersingkap pula lewat buku yang dibanderol dengan harga Rp35 ribu ini.

Ingin mengikuti petualangan koplak Si Adis yang terkadang kontemplatif ini? Hubungi saja penulisnya langsung.

E-mail: adis-136@hotmail.com
Twitter: @takdos
Blog: http://www.whateverbackpacker.blogspot.com
Info pemesanan buku: http://whateverbackpacker.blogspot.com/2012/05/akhirnya-whatever-im-backpacker-menjadi.html

Advertisements
Posted in: Uncategorized