Travel Writer: Buku Panduan yang Sinis!

Posted on September 11, 2012

17


Travel Writer

Judul: Travel Writer

Penulis: Yudasmoro

Editor: Fachmy Casofa

Penerbit: Metagraf (Creative Imprint of Tiga Serangkai)

Cetakan: I, Juli 2012

Tebal: 204 hlm.

“Kami sebagai penerbit, sebenarnya tersanjung dengan betapa blak-blakan-nya penulis buku ini dalam memaparkan tak hanya apa adanya yang terjadi di dunia travel writing, tapi juga sekaligus kiat-kiat survive, tetap kreatif, berperilaku secara profesional, hingga cara membuat tulisan perjalanan yang baik dan enak dibaca. Benar-benar buku langka!” (hal. v)

Saya amat setuju. Setamat membaca buku ini, saya harus akui bahwa penggalan Pengantar Penerbit di atas bukan bualan belaka. Bahkan, saya berani mengajukan hipotesis, Travel Writer yang ditulis oleh Yudasmoro ini dari segi isi lebih layak jadi panduan dibandingkan dengan Te-We yang ditulis oleh Gol A Gong. Pun dari segi penyampaian dan bahasa yang digunakan, Yudasmoro memiliki kekuatan. Kata-katanya lebih straight forward. Bisa jadi karena latar belakangnya sebagai travel writer untuk majalah, sementara Gol A Gong lebih suka berkisah karena terbiasa menulis novel. Ini asumsi saya.

Kalau penerbit mengistilahkannya sebagai buku yang “blak-blakan“, saya justru ingin bilang kalau ini buku panduan yang sinis! Yudasmoro tanpa tedeng aling-aling “menyindir” orang-orang yang selama ini cuma ikut-ikutan tren sebagai travel writer. Apalagi belakangan ini, tak dipungkiri bermunculan blog-blog yang mengkhususkan diri menampilkan konten berbau traveling. Salah satu sindiran Yudasmoro yang menohok adalah:

“Kalau kamu menulis soal pengalaman trip kamu ke Pulau Komodo dengan menceritakan dari mana kamu berangkat, kondisi laut biru ditaburi awan bagai kapas, pegunungan eksotik, dan kecantikan alam, berarti kamu belum beranjak dari bangku SD puluhan tahun lalu.”

Bagaimana? Termasuk jlebbb! bukan?

Tentu, Yudasmoro menorehkan kalimat di atas melalui kacamatanya sebagai travel writer profesional. Boleh saja kamu yang sedang tertarik, belajar, dan mencoba menekuni bidang profesi ini, merasa tertohok dengan kalimat tersebut. Tapi, Yudasmoro menulis itu semata-mata karena ia peduli dengan kemajuan para travel writer di Indonesia yang saat ini terlihat sebagai budaya pop semata. Hal ini ia klarifikasi saat berbalas komentar dengan saya di status Facebook tertanggal 5 September 2012.

Cuplikan komentar Yudasmoro aka Words Traveler di status Facebook saya

Sebenarnya, masih banyak lagi hal yang disalahpahami oleh para pemula di bidang penulisan perjalanan yang diungkap oleh penulis. Misalnya, anggapan bahwa travel writer itu bisa jalan-jalan gratis dan dibayar pula.

“Sekeren apa pun penampilan orang yang sering traveling dengan fasilitas gratis (and get paid) tetap punya risiko dan masalah lain yang tidak ringan, lho!” (hal. 8).

Risikonya apa saja? Silakan simak pemaparan penulis dalam Bab Destinasi 8: Masalah-Masalah.

Begitu pula anggapan bahwa kelengkapan tulisan perjalanan, yakni foto, harus selalu foto lanskap. Padahal tidak melulu demikian.

“Dalam sebuah artikel travel memang biasanya dibutuhkan (setidaknya) satu buah foto lanskap. Namun, yang jadi masalah adalah timbul pemahaman bahwa foto travel yang bagus adalah foto lanskap yang cantik. Nah, itu jelas salah besar!” (hal. 69).

Hal umum lainnya yang sering disalahkaprahi oleh penulis travel pemula adalah untuk tabu mengungkap kejelekan sebuah destinasi dalam artikel travel mereka. Padahal, jika disikapi dengan jeli, hal kontradiktif itu bisa di’sulap’ sehingga memperkaya isi artikel itu sendiri. Penulis mencontohkan “permainan” harga sewa jip di Penanjakan juga sikap kasar petugas Masjid Raya Banten.

Buku yang kaya dari sisi materi. Isinya pun runtut. Mulai dari pemaparan apa itu profesi travel writer; dasar-dasar jurnalistik yang menjadi basis ruh tulisan perjalanan; teknik, kiat, dan tips fotografi yang menyertai artikel travel; pengenalan travel writing; memulai travel writing; contoh-contoh artikel travel; masalah-masalah yang dihadapi oleh travel writer; dan kesimpulan buku.

Mata pembaca juga akan dimanjakan oleh sisipan sepuluh foto full color yang dicetak di atas art paper.

Pemaparan yang sinis, saya kira jadi ciri khas penulis. Ini menjadi daya tarik yang kuat bagi kamu yang ingin jadi travel writer profesional. Biar tidak tahu hal-hal senangnya saja, tapi juga pahitnya. Kalau kamu tidak tahan pahitnya, mending jangan jadi travel writer!

Advertisements
Posted in: Travel