Tahu Kau Mengapa Aku Sayangi Kau Lebih dari Siapa pun? Karena Kau Menulis

Posted on September 19, 2012

8


A Cup of Tea for Writer

A Cup of Tea for Writer

Judul: A Cup of Tea for Writer

Penyusun: Triani Retno A & Herlina P.Dewi,dkk

Kontributor: Adnan Buchori, Haeriah Syamsuddin, Ina Inong, Juliana Wina Rome, Lalu Abdul Fatah, Monica Anggen, Mpok Mercy Sitanggang, Nuri Novita, Ririe Rengganis, Setiawan Chogah, Skylashtar Maryam, Whianyu Sanko, Widya R, Yas Marina

Penerbit: Stiletto Book

Tebal: 195 hlm.

Cetakan: I, September 2012

ISBN: 978-602-7572-06-5

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer

Saat ulasan ini dibuat, kutipan Pram di atas setidaknya disukai oleh 300 orang di situs Goodreads. Tertinggi dibandingkan kutipan lainnya dari karya-karyanya. Saya pun salah satu penyuka kutipan tersebut. Ketika ia ditorehkan sebagai kalimat penyemangat di buku A Cup of Tea for Writer, saya tak ragu untuk langsung menggunakannya sebagai pembuka ulasan ini.

Bagaimana tidak? Sebagai seorang mahasiswa yang hidup di lingkungan akademis, saya banyak menjumpai mahasiswa yang tidak begitu akrab dengan kegiatan tulis-menulis. Mereka hanya menulis tugas kuliah. Menulis karena kewajiban yang diberikan dosen. Kalaupun terlahir karya yang dianggap masterpiece, ya hanya skripsi itu saja. Untung-untung kalau skripsi itu bisa diaplikasikan pada masyarakat luas. Kalau cuma masuk lemari arsip di kampus?

Satu hal yang bisa dipetik dari fenomena tersebut adalah menulis belum benar-benar menjadi budaya di Indonesia. Menulis masih sering dikait-kaitkan dengan bakat. Menulis dianggap kegiatan yang membosankan dan hanya cocok dilakukan oleh mereka yang kurang gaul. Mereka yang ingin menekuni profesi menulis pun dianggap tidak punya masa depan. Apa yang diharapkan dari penulis? Memangnya penulis bisa kaya?

Monica Anggen, salah satu dari 14 kontributor dalam buku ini membuka tulisannya “Merangkai Mimpi” dengan petikan perkataan ayahnya.

“Cukup! Apa yang mau kau harapkan dari menulis? Kaya? Berapa banyak penulis yang kaya? Yang ada kamu bakal jadi gembel!” teriakan papaku bergema memenuhi ruangan. (hal. 81)

Tantangan dari orangtua, khususnya ayah, juga dihadapi oleh Ririe Rengganis. Dalam “Sebab Impian Ayah Bukanlah Impianku”, ia takkan lupa bagaimana ucapan ayahnya tersebut terdengar bagai kutukan.

“Mau jadi apa kamu nanti kalau sekarang ngotot kuliah di Fakultas Sastra?” tanya Ayah dengan amarah menggelegar di siang bolong.

“Jadi penulis,” jawabku singkat.

“Penulis tidak bisa hidup sejahtera di negeri ini. Masa depanmu akan suram bila kamu memilih jadi penulis!” (hal. 8)

Ya, penulis memang belum menjadi profesi andalan di negeri ini. Bukan isapan jempol lagi kalau banyak orangtua yang menguliahkan anaknya dengan harapan agar si anak kelak ketika lulus bisa diterima kerja di perusahaan atau jadi PNS. Jadi orang suruhan, digaji, kaya.

Suatu hal yang wajar saya kira karena orangtua pasti ingin anak-anaknya sukses. Namun, kerap kali sukses diidentikkan dengan kekayaan. Padahal, apalah artinya kekayaan materi jika tidak bahagia. Apalah artinya bergaji besar jika bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan passion? Tidak sesuai dengan panggilan hati? Hidup cuma sekali, mengapa harus menghabiskannya untuk sesuatu yang bukan menjadi lentera jiwa?

Namun, tidak menampik pula jika profesi penulis mulai menuai lirikan tajam belakangan ini. Banyak orang ingin menjadi penulis. Rupanya, berita kesuksesan J.K. Rowling, Kang Abik, atau Andrea Hirata menjadi salah satu pencetusnya. Novel mereka laris-manis di pasaran yang otomatis royalti pun menggembungkan pundi-pundi rekening mereka. Belum lagi karya mereka difilmkan atau diterjemahkan ke puluhan bahasa. Efek sampingnya, popularitas penulis pun meroket di masyarakat. Penulis menjelma selebritas baru di kancah dunia hiburan dan pengetahuan di Indonesia.

Tapi, apakah hal-hal semacam itu yang dikejar oleh Ika Natassa, misalnya? Salah satu dari empat penulis tamu dalam buku ini (lainnya adalah Ollie, Reda Gaudiamo, dan Dian Kristiani) justru tidak terobsesi untuk menjadi terkenal sebagai penulis.

… just write. Don’t pay attention to fame or money or all of this. Just stick to your story. The only ones who deserve your attention is your story and its characters.” (hal. 136)

Bahkan, bagi penulis yang telah menghasilkan empat novel serta pernah dinominasikan sebagai Talented Young Writer di Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 ini, justru menulis untuk ‘menyentuh’ para pembacanya.

“Buatku, ini penghargaan terbesar. Touching lives with words. Sounds superficial and cheesy, but sometimes it happens, and when it does, I’m flattered.” (hal. 136)

See? Menulis, sebagaimana ragam pekerjaan lainnya, bisa didorong oleh beragam motivasi. Tantangannya pun tidak main-main. Misalnya, tentangan dari orang-orang terdekat, sebagaimana yang dialami oleh Ririe Rengganis dan Monica Anggen; ditipu penerbit sebagaimana dialami Ina Inong; atau ditolak oleh media massa dan penerbit berkali-kali sebagaimana yang dialami oleh hampir semua penulis dalam antologi ini.

Namuan, hebatnya para penulis dalam antologi ini adalah semangat mereka yang tak gampang padam. Mereka ceritakan lika-liku perjalanan mereka di jalan aksara dengan gaya ‘Chicken Soup’. Tak ubahnya mendengarkan curhatan teman lama. Akrab sekali. Emosi 20 penulis dalam buku setebal 195 halaman ini tersampaikan dengan baik. Ada amarah, sedu-sedan, bahagia, narsisme, ketakutan, asa, juga tawa.

Pembaca yang ingin merintis karier sebagai penulis pun, di halaman 174-177, mendapat bonus tips menulis dari Reda Gaudiamo. Namun, secara keseluruhan, para kontributor, editor, juga penulis tamu dalam buku ini juga menyisipkan tips dalam tulisan-tulisan mereka. Buku yang amat lezat dan bergizi.

Selebihnya, penulis, menurut saya, adalah orang yang tidak kapok belajar. Dia selalu rendah hati untuk menyerap berbagai ilmu. Pada akhirnya, dia selalu bersemangat untuk membagikan ilmu tersebut, walau secuil, melalui tulisan. Sebab, ia – penulis – sadar, tulisan akan membuat usianya lebih panjang.

“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari.” (Pramoedya Ananta Toer)

Advertisements
Posted in: Uncategorized