Melepaskan Diri dari Jeratan Monotonitas

Posted on May 20, 2014

0


Kover Flying Traveler

Judul     : Flying Traveler

Penulis   : Junanto Herdiawan

Penerbit : B-First, Yogyakarta

Tebal     : xii + 152 Halaman

Cetakan : Pertama, Maret 2014

ISBN     : 978-602-8864-97-8

 

Bagaimana bila levitasi dan jalan-jalan digabungkan? Jadilah buku “Flying Traveler” karya Junanto Herdiawan ini. Ini adalah buku keempatnya setelah Japan Aftershock, Shocking Japan, dan Shocking Korea yang menghadirkan tema berbeda.

Levitasi adalah pose mengambang di udara sehingga seakan-akan terlihat terbang ketika diabadikan dalam foto. Levitasi bukan trik kamera atau hasil olahan aplikasi di komputer. Levitasi dilakukan dengan sebuah gerak fisik yang mengharuskan kita ‘melayang’ secara riil (hal. ix).

Dalam buku yang dicetak penuh warna ini, penulis membagi kisahnya berlevitasi di hampir 60-an tempat di lima negara, yakni Jepang, China, Korea selatan, Mongolia, dan Indonesia. Namun, ini bukan perjalanan biasa karena ia berpose terbang di depan tetenger (landmark) di negara-negara tersebut. Misalnya, di Tokyo Station, Kastel Nagoya, Tembok Raksasa China, Forbidden City, Seoul City Hall, Sukhbaatar Square, Gandan Monastery Ulaanbaatar, Masjid Cheng Ho Surabaya, dan banyak lagi.

Masing-masing tempat memiliki latar belakang historis yang menarik penulis untuk levitasi di sana. Misalnya, di depan Yasukuni Shrine. Kuil ini terkenal kontroversial karena dipersembahkan bagi Dewa Perang untuk mengenang para pahlawan perang Jepang, mulai dari Perang Boshin pada 1868 hingga Perang Dunia II (hal. 13). Bagi Jepang, beberapa nama adalah pahlawan, tapi bagi pihak China dan Korea mereka adalah penjahat perang. Nama-nama yang dicatat dalam kuil ini dianggap sebagai pengakuan Jepang pada imperialisme masa lampau.

Di Tsonjin Boldog, Mongolia, terdapat patung Genghis Khan dengan ukuran raksasa. Patung berbahan baja seberat 250 ton ini dibuat sedang duduk di atas kuda dengan posisi mengarah ke negeri China. Konon, di sinilah Genghis Khan pertama kali memperoleh wangsit dan kekuatan sebelum pasukannya menguasai dunia (hal. 102).

Dengan latar belakang patung setinggi 40 meter itu, penulis berpose terbang. Tantangannya lebih berat karena ia berlevitasi dengan kostum musim dingin yang tebal dan berat dengan suhu di luar mencapai minus 25 derajat celcius. Penulis pun mengakui itu sebagai pose paling menantang dalam koleksi levitasinya.

Di Indonesia, penulis melakukan levitasi di berbagai tempat, seperti di depan patung ikan hiu dan buaya yang jadi lambang Kota Surabaya, di Gereja Merah Probolinggo, Masjid Jami Sumenep, bahkan di dekat Kawah Ijen. Medan yang lembut seperti Pasir Berbisik di Gunung Bromo dan Gili Trawangan, Lombok, pun tak luput dari levitasi horizontal yang ia lakukan.

Buku setebal 164 halaman ini tidak hanya menarik dari segi tema namun juga sarat informasi. Kendati memiliki latar belakang profesional sebagai Direktur Deputi Bank Indonesia Kantor Wilayah IV Jawa Timur, namun penulis meramu kisah-kisah levitasinya dengan gaya bahasa populer. Jauh dari kesan rumit. Bahkan, dalam beberapa tulisan, ia menyelipkan nilai-nilai filosofis di balik gerakan levitasi.

Levitasi bukan sekadar gaya-gayaan atau hiburan semata. Levitasi yang dikesankan lewat pose melayang bermakna anti gravitasi. Melalui levitasi, pembaca diajak untuk keluar dari belenggu rutinitas keseharian yang kadang menjerat.

Bahkan, levitasi menyehatkan. Sebab, pelaku levitasi mau tak mau harus berolah fisik. Melakukan pemanasan dulu sebelum meloncat.

Kendati menampilkan foto-foto melayang dengan latar belakang bangunan yang ikonik, penulis mengakui kalau ia bukanlah ahli fotografi. Ia hanya menggunakan fitur continuous shoot yang ada di kamera saku atau aplikasi fast camera di iPhone-nya. Selebihnya, ia kadang harus berkali-kali meloncat di udara sebelum mendapatkan foto yang bagus. Tip berlevitasi pun tersemat di bagian akhir buku setebal 164 halaman ini.

Secara keseluruhan, antara judul, kover, tata letak, dan isi buku ini saling mendukung satu sama lain. Ini paket lengkap bagi siapa saja yang menyukai fotografi juga jalan-jalan. Bahkan, bisa dibilang, inilah buku pertama di Indonesia yang menggabungkan antara traveling dan levitasi.

 

*Resensi ini dimuat di Koran Jakarta edisi Sabtu, 17 Mei 2014

 

Advertisements
Posted in: Travelogue