Ragam Cerita dari Pejalan Perempuan

Posted on June 24, 2014

0


Sampul Buku

Judul     : Rumah adalah di Mana Pun

Penulis   : Sari Musdar, dkk.

Penerbit : Grasindo, Jakarta

Tebal     : 258 halaman

Cetakan : Pertama, Maret 2014

ISBN     : 978-602-251-464-0

Di kalangan anak muda Indonesia, jalan-jalan sudah menjadi gaya hidup. Mereka aktif memanggul ransel atau menggeret koper menuju destinasi, baik yang populer maupun yang belum. Gairah bertualang itu kian menjadi-jadi dengan hadirnya beragam buku bertema perjalanan. Salah satunya, Rumah adalah di Mana Pun.

Buku ini berbeda karena ditulis oleh 19 pejalan perempuan. Masing-masing menyuguhkan kisah dengan latar tempat yang beraneka ragam, seperti: Wae Rebo, Bromo, Ijen, Larantuka, Belitung, Baluran, Papua, Bali, Teluk Tomini, Derawan, Sabang, dan lain-lain.

Silvani Habibah, misalnya. Baginya, jalan-jalan tak ubahnya eskapisme alias pelarian dari sakit hati. Hubungannya yang kandas dengan seseorang, coba ia obati dengan jalan-jalan ke Bromo. Ia bersama teman-temannya naik motor dari Malang, menembus jalanan malam yang berkabut dengan jurang di sampingnya. Di lautan pasir Bromo saat memandang Gunung Batok, ia berkontemplasi. “Maka, kegalauanmu hanyalah seperti salah satu butiran-butiran pasir di hamparan pasir yang jumlahnya milyaran” (hal. 42)          .

Lain lagi dengan Sari Musdar. Ia mengisahkan pengalaman backpacking-nyake Ijen bersama cowok bule tipikal spontan. Mereka ke sana saat bulan puasa. Perjalanan yang tak terencana baik membuat Sari sebal pada teman jalannya. Namun, melihat para petambang belerang yang harus berjalan kaki 6 kilometer pulang pergi di jalan yang mendaki nan curam serta tanpa pengamanan yang memadai, ia tersadar. “Adakalanya kita harus memperlambat kecepatan, berhenti sejenak, dan menikmati kejutan-kejutan yang dihadirkan Tuhan tanpa kepanikan yang berlebihan apalagi sumpah serapah” (hal. 57).

Tidak hanya cerita galau, penulis lain mengetengahkan perspektif yang berbeda. Indri Juwono, contohnya. Memiliki latar belakang arsitek membuat tulisannya sangat detail mengenai bangunan-bangunan di Sumatera Barat, khususnya Rumah Gadang. Meski demikian, keasyikan dengan rinci membuat tempo ceritanya berjalan lambat.

Sementara itu, pengalaman Mehdia Nailufar ke Sabang, Aceh, dengan tiga pria memberinya pandangan bagaimana menjadi seorang pejalan perempuan. Arsitek berjilbab ini menuturkan, “Semakin banyak saya bertemu dengan para lelaki di lapangan, di tengah traveling, dan di tempat lain, semakin banyak saya tahu apa yang harus saya lakukan, bagaimana saya harus bersikap di berbagai kondisi” (hal. 155). Ia juga memaknai perjalanan sebagai proses menumbuhkan jati diri. Sebuah proses untuk menerima hal-hal baru dan lebih terbuka memandang sesuatu. Menurut dia, perjalanan adalah proses hidup yang sebenarnya wajib dijalani bagi setiap wanita.

Seharusnya buku ini ditutup dengan kisah yang membuat pembaca terkenang lama. Namun, cerita Ester Aprillia saat berkunjung ke Pulau Dewata, destinasi paling populer di Indonesia, kurang cocok sebagai pamungkas. Apalagi gaya tuturnya tidak semanis penulis-penulis lainnya. Masih terkesan menulis ala blog.

Kinerja penyunting dalam buku setebal 258 halaman ini juga tampak belum maksimal. Masih banyak kesalahan ketik yang dijumpai. Selain itu, penyunting juga kurang berupaya untuk merapikan 19 tulisan dalam buku ini. Seruan-seruan yang jamak dijumpai dalam pesan pendek tetap dipertahankan. Hal ini sedikit mengurangi kenyamanan membaca.

Upaya untuk mempertahankan gaya tutur masing-masing penulis, bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan buku ini. Kelebihannya, buku ini memiliki banyak rasa untuk pembaca dengan aneka selera. Kelemahannya, pembaca akan mudah membanding-bandingkan antara satu penulis dengan penulis lainnya.

Memang, semua penulis dalam buku bersampul teduh ini menulis dari sudut pandang orang pertama. Gejolak pikiran dan gelora batin mereka terasa lebih intim dituturkan pada pembaca. Sebagaimana pernyataan Agustinus Wibowo, salah satu penulis terbaik Indonesia di genre ini, “Sebuah catatan perjalanan yang baik adalah tulisan yang mengandung unsur kedekatan dengan pembaca. Agar bisa mencapai hasil seperti ini, seorang pejalan harus bisa belajar menertawakan kesedihannya.”

Ia juga mengatakan bahwa tulisan perjalanan tidak boleh egosentris. Kendati karakter penulis harus ada dalam tulisan, tapi jangan sampai ia menuliskan semua tentang dirinya. Meski beberapa penulis dalam antologi ini masih terlihat egosentris dalam tulisannya, namun sebagian besarnya telah berhasil keluar.

Silakan Anda nilai dan rasakan sendiri.

Advertisements
Posted in: Antologi, Travelogue