Menjadi Kreatif dengan Mencuri

Posted on August 13, 2014

1


Kover

Judul                     : Steal Like An Artist

Penulis                : Austin Kleon

Penerjemah       : Rini Nurul Badariah

Penerbit              : Noura Books

Tebal                    : 160 Halaman

Cetakan               : I, Februari 2014

ISBN                      : 9786021606810

 

Mencuri itu bagus. Bagus jika digunakan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Bagus jika dipakai dalam proses kreatif. Pelukis tersohor, Pablo Picasso, bahkan mengatakan, “Semua karya seni adalah hasil curian.”

Steve Jobs, contohnya. Untuk menciptakan komputer Mac, ia mencuri ide dari Xerox. Sebelum jadi band legendaris, The Beatles menyanyikan lagu-lagu penyanyi lainnya. Pebasket tersohor Kobe Bryant pun sama. Ia mengaku semua gerakan hebatnya di lapangan adalah hasil curian dari menonton rekaman para idolanya.

Tapi, di situlah jeniusnya. Mereka adalah para pencuri yang terhormat. Mereka memahami suatu hal sampai jauh ke dalam. Mereka mencuri dari banyak orang. Mereka menyebutkan sumbernya. Mereka tidak meniru sepenuhnya, tetapi mengubah. Dan, mereka memadumadankan alias meramu.

Tentu saja berbeda dengan para pencuri yang buruk. Mereka mencuri tanpa etika, hanya tahu sepintas saja, memplagiat, menyontek, serta mencuri dari satu sumber. Itu pun diambil mentah-mentah tanpa berusaha mengolahnya.

Memang, proses meniru itu rumit. Tapi, kata penulis buku ini, jangan hanya mencuri gaya, curi juga pemikiran di baliknya. Jangan hanya kelihatan seperti panutanmu, tapi samakan juga cara pandangmu (hal. 36).

Ada masanya untuk beralih dari meniru ke melebur. Sebagaimana dicontohkan Kobe Bryant. Meskipun ia mencuri banyak gerakan dari para idolanya, namun ia menyadari tak bisa menirukan seratus persen karena bentuk tubuhnya berbeda (hal. 38). Ia pun harus mengadaptasi dan menciptakan gerakan sendiri. Namun, justru ketika menyadari kekurangan untuk meniru dengan sempurna, maka itulah saat untuk menemukan diri sendiri.

Apalagi di tengah banjirnya informasi, orang malah gampang bingung. Namun, orang yang kreatif dan mau maju, tahu mana informasi yang harus dikonsumsi dan mana yang tidak. Mereka akan fokus pada hal-hal yang penting saja. Itulah cara mengatasi kebuntuan kreativitas. Kelihatannya kontraproduktif, tetapi bila menyangkut karya kreatif, pembatasan berarti kebebasan (hal. 133).

Penulis memberikan contoh favoritnya, yakni Dr. Seuss yang menulis The Cat in the Hat sepanjang 236 kata berbeda. Editornya lantas bertaruh, dia takkan mampu menulis buku dengan 50 saja kata berlainan. Nyatanya, Dr. Seuss berhasil membuktikannya dengan buku Green Eggs and Ham, salah satu buku anak terlaris sepanjang masa.

Steal Like An Artist adalah salah satu referensi berguna mengenai kreativitas. Meski sudut pandangnya tidak benar-benar baru, namun penulis menyertakan banyak tip berguna. Tip tersebut mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bagi siapa saja dengan latar belakang apa pun. Sebab, kreativitas itu untuk semua orang.

Buku yang dikemas sederhana, ringan, dan mantap dipegang ini dilengkapi pula dengan ilustrasi coretan penulisnya. Awalnya dikerjakan manual, baru diolah secara digital. Bahkan, ia menyediakan dua meja di kantornya, masing-masing untuk mengakomodasi dua jenis kegiatan itu.

Di industri perbukuan dalam negeri, buku ini bisa disandingkan dengan buku-buku karya penulis lokal. Sebut saja Oh My Goodness dan 101 Creative Notes karya Yoris Sebastian atau Sila ke-6: Kreatif Sampai Mati! karya Wahyu Aditya. Ketiga buku tersebut sama-sama mengusung tema kreativitas dengan penyajian yang juga kreatif.

Kiranya, buku-buku seperti ini perlu diproduksi lebih banyak lagi bagi pembaca Indonesia. Sebab, bangsa ini butuh menjadi kreatif. Kreativitas yang bersumber dari manusia. Kita tidak bisa selamanya meletakkan kebanggan pada sumber daya alam yang sifatnya terbatas. Tapi, dengan bertumpu pada kreativitas manusianya, Indonesia optimis bisa bersaing kelak.

Lebih-lebih sejak 2011, pemerintah kita mengubah nama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menjadi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ini pertanda bahwa ekonomi negara kita perlu lebih banyak lagi digerakkan melalui sektor-sektor kreatif. Kreativitas inilah modal untuk maju dan memimpin di masa depan. Sebab sudah banyak bukti, mereka yang tidak kreatif, inovatif, atau bahkan inventif akan berguguran dilindas roda zaman.

Advertisements
Posted in: Uncategorized